Tudingan 'Kartel' KFA yang Berujung Hancurnya Sepak Bola Korea

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Tudingan 'Kartel' KFA nan Berujung Hancurnya Sepak Bola Korea Mantan pembimbing timnas Korea Selatan Hong Myung-bo(AFP/Ulises RUIZ)

"SEPAK bola Korea Selatan sudah mati." Kalimat lugas nan tertera pada sebuah papan di tengah kerumunan massa di Bandara Incheon, Seoul, merefleksikan dengan tepat kedalaman runtuhnya asa publik sepak bola Negeri Ginseng.

Gelombang protes tersebut menyambut kepulangan tim nasional Korea Selatan nan terdepak lebih awal di babak penyisihan grup Piala Dunia 2026. Alih-alih mendapatkan sambutan hangat, skuad berjuluk Taegeuk Warriors itu justru dihadang massa nan menuntut pertanggungjawaban.

Muara dari segala kemarahan publik tersebut tertuju pada satu nama: kepala pembimbing Hong Myung-bo. Mantan kapten sekaligus pahlawan nan membawa Korea Selatan menembus semifinal legendaris Piala Dunia 2002 itu sekarang dinilai sebagai tokoh utama di kembali hancurnya performa tim di panggung tertinggi sepak bola dunia.

Massa nan menyemut di airport memukul genderang sembari menggemakan seruan tegas, "Hong keluar!". Desakan mundur ini sebenarnya bukan perihal baru. Penunjukan Hong sebagai arsitek tim nasional sejak 2024 memang sudah diwarnai resistensi masif dari suporter nan mengungkit kegagalan masa lalunya pada Piala Dunia 2014 di Brasil.

Nepotisme di Tubuh KFA

Tersingkirnya Korea Selatan secara prematur sekarang membuka kotak pandora mengenai bobroknya tata kelola organisasi di tubuh Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA). Kritik tajam nan selama ini dituduhkan publik mengenai hilangnya transparansi dan meritokrasi di internal federasi kembali mencuat ke permukaan.

KFA dituding kerap memilih figur-figur krusial di tim nasional berasas kedekatan individual dan jaringan kronisme daripada kapabilitas profesional. "Inti dari masalah ini adalah ketidakmampuan KFA," tegas pengamat olahraga Korea Selatan, Choi Dong-ho.

Menanggapi kegagalan total tersebut, Hong Myung-bo akhirnya resmi mengusulkan pengunduran diri dan menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada publik. Ia menyatakan bahwa tanggung jawab atas hasil minor tersebut sepenuhnya berada di pundak pribadinya.

Kendati demikian, mundurnya Hong tidak serta-merta meredakan situasi. Isu ini apalagi menarik perhatian serius dari ranah politis. Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, secara terbuka mengkritik keras sistem manajerial KFA dan menyerukan dilakukannya investigasi menyeluruh.

Melalui akun resminya di media sosial X, Presiden Lee Jae-myung menegaskan, "Ketika nepotisme dan kronisme didahulukan daripada kompetensi dalam memilih seorang komandan, hasilnya sejelas siang hari." Ia menambahkan bahwa petaka di Piala Dunia kali ini merupakan akibat langsung dari kegagalan struktural organisasi dan personel.

Indikasi adanya 'kartel' di tubuh KFA menguat setelah mantan pemain timnas, Park Joo-ho, nan juga merupakan personil komite seleksi pembimbing KFA, membongkar bahwa penunjukan Hong Myung-bo tidak melalui prosedur nan sah dan mengabaikan kandidat potensial lain seperti Jesse Marsch. Langkah berani Park ini mendapatkan support moril dari legenda hidup Manchester United, Park Ji-sung, nan menyebut KFA telah kehilangan kepercayaan dari masyarakat.

Tertinggal dari Jepang

Kekecewaan publik Korea Selatan kian berlipat dobel mengingat komposisi skuad saat ini sejatinya dipenuhi generasi emas nan merumput di klub-klub raksasa Eropa. Skuad ini diperkuat oleh bintang Tottenham Hotspur Son Heung-min, gelandang Paris Saint-Germain Lee Kang-in, hingga tembok pertahanan Bayern Munich Kim Min-jae.

"Sejujurnya, susah untuk menerima realita ini. Saya percaya apa nan dirasakan para fans tidak bakal jauh berbeda dari apa nan saya rasakan," tulis kapten tim, Son Heung-min, melalui akun IG pribadinya sembari meminta maaf.

Kegagalan ini sekaligus mempertegas bahwa posisi Korea Selatan sekarang kian tertinggal dari rival kekal mereka, Jepang. Pasca-turnamen, ranking FIFA Korea Selatan merosot ke urutan 32, posisi terendah mereka dalam empat tahun terakhir. Sebaliknya, Jepang melesat ke ranking 17 bumi sebagai tim terbaik di Asia.

Menurut kajian Choi Dong-ho, penurunan prestasi ini disebabkan lantaran KFA tidak pernah mempunyai cetak biru dan filosofi jangka panjang nan konsisten. Sejak momentum historis tahun 2002, Korea Selatan tercatat telah berganti pembimbing lebih dari 10 kali.

"Sebaliknya, rasanya seolah-olah Korea Selatan selalu mulai dari nol setiap empat tahun. Hal ini membikin tim nasional susah membangun pengalaman alias mengembangkan strategi jangka panjang nan konsisten," pungkas Choi. Reformasi total sekarang menjadi nilai meninggal nan tidak bisa ditawar lagi bagi masa depan sepak bola Korea Selatan.

(BBC/P-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia