Liputan6.com, Jakarta - Malam itu tuak tetap terasa di lidahnya ketika IM (21) memutuskan pulang. Rest area di pinggir Gadingrejo, Pringsewu, Lampung sudah sepi. Kawan-kawan minumnya satu per satu menghilang ditelan gelap, dan nan tersisa hanya jalan panjang menuju rumahnya di Blitarejo nan kudu dia tempuh sendirian.
Waktu menunjukkan satu lewat tiga puluh awal hari. Dengan kepala nan tak lagi genap, IM melangkah tanpa tujuan nan betul-betul jelas. Kaki melangkah, pikiran melayang-layang di antara sadar dan tidak. Lalu dia memandang sebuah rumah di Pekon Wates, gelap total, tak ada tanda kehidupan.
Rumah kosong sunyi nan berbeda dari rumah nan ditinggal tidur penghuninya. IM, dengan hatikecil seorang residivis nan sudah hafal betul situasi seperti itu. Cling! dia menemukan sebuah kesempatan.
Ia mendekati rumah tersebut. Niat untuk mencuri muncul. Pintu belakang menjadi sasaran pertama.
Dengan menggunakan linggis, IM mencoba mencongkel pintu, berambisi bisa membuka jalan masuk tanpa membikin banyak suara. Namun, upayanya gagal.
Ia tidak menyerah. Cara lain dipakai. Di bagian belakang rumah, IM menemukan ventilasi bilik mandi. Kaca pada ventilasi itu kemudian dipecah. Sebuah bangku digunakan sebagai pijakan. Dengan langkah itu, IM akhirnya sukses menyusup ke dalam rumah.
Malam itu, kuatnya pengaruh miras betul-betul membutakan logika sehat IM. Hari-hari di dalam penjara nan pernah dia rasakan sebelumnya, seolah masa lampau nan tidak patut disesali.
Setelah di dalam rumah, dia mulai mengacak-acak sejumlah ruangan. Matanya mencari peralatan berbobot nan mungkin bisa dibawa pulang.
Namun, malam nan dimulai dengan niat mencuri perlahan berubah menjadi cerita nan sama sekali berbeda.
Entah lantaran lelah, pengaruh minuman, alias perjalanan panjang nan belum selesai, tenaga IM terkuras habis. Di salah satu kamar, dia menemukan sebuah kasur.
IM berbaring.
Dan tertidur.
Pulas.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316197/original/016609900_1785916824-1001527149.jpg)
Perbesar
Di luar, udara dingin tetap menusuk tulang. Suara hewan malam menjadi nyanyian alam. IM akhirnya menutup malam itu di rumah orang.
Beberapa jam kemudian, Selasa (4/8/2026), bunyi azan memecah suasana pagi buta. Satu per satu masyarakat desa keluar rumah menuju surau, IM tetap terbuai dalam mimpi.
Hingga beberapa jam kemudian, orang nan paling tidak mau ditemuinya datang ke rumah itu.
Selasa pagi, 4 Agustus 2026, pemilik rumah Muhammad Aulia Shandi (26) bertandang.
Meski tidak ditempati, Aulia tidak lantas membiarkan rumahnya itu terbengkalai seolah tanpa tuan. Dia tetap rutin membersihkan sekaligus memastikan kondisi rumah.
Sekira pukul 08.30 WIB, dia membuka pintu dan langsung menyadari ada sesuatu nan tidak beres. Bagian dalam rumah sudah berantakan.
Aulia memeriksa satu per satu ruangan. Sampai akhirnya langkahnya berakhir di sebuah kamar. Di atas kasur, dilihatnya tamu tidak diundang tidur nyenyak.
Aulia tidak membangunkannya. Ia justru menutup dan mengunci pintu bilik dari luar, lampau meminta support penduduk sekitar.
Tak lama kemudian, penduduk berdatangan. Rumah nan semula sunyi berubah ramai. Pria nan beberapa jam sebelumnya masuk diam-diam itu sekarang tidak punya banyak pilihan.
Ketika terbangun, IM mendapati dirinya sudah dikepung warga. Pelariannya berhujung apalagi sebelum sempat dimulai.
Warga kemudian menyerahkan IM kepada personel Polsek Gadingrejo. Kapolres Pringsewu AKBP Dadi Perdana Putra mengatakan, IM merupakan penduduk Pekon Blitarejo, Kecamatan Gadingrejo. Polisi juga menyebut IM merupakan residivis kasus pencurian.
"Pelaku sempat berupaya mencongkel pintu belakang menggunakan linggis. Karena gagal, pelaku memecahkan kaca ventilasi bilik mandi dan masuk ke dalam rumah dengan memanfaatkan bangku sebagai pijakan," kata Dadi, Rabu (5/8/2026).
Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
38 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·