Trump Warning Iran: Akan Lenyap dari Muka Bumi

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Iran bakal "lenyap dari muka bumi". Ini diutarakannya dalam sebuah wawancara dengan laman AS, Fox News, Selasa (5/5/2026).

Saat menjelaskan operasi terbaru militer AS di Selat Hormuz nan disebutnya "Proyek Kebebasan", dia memberi peringatan terbaru ke pemerintah Iran. Menurut Trump, jika Iran berani menargetkan kapal Amerika di Selat Hormuz, negara itu bakal dilenyapkan dari muka bumi.

"Kami mempunyai lebih banyak senjata dan amunisi dengan kualitas jauh lebih tinggi daripada sebelumnya. Kami mempunyai peralatan terbaik," tambah Trump dalam wawancara 20 menit itu, dikutip Selasa (5/5/2026).

"Kami mempunyai perlengkapan di seluruh dunia. Kami mempunyai pangkalan-pangkalan ini di seluruh dunia. Semuanya dilengkapi dengan peralatan. Kami dapat menggunakan semua perlengkapan itu, dan kami bakal menggunakannya jika diperlukan."

Ini merupakan ancaman kedua Trump setelah sebelum ya di April, dia membikin peringatan serupa. Kala itu dia menyebut "seluruh peradaban bakal musnah" jika Iran kandas memenuhi tuntutannya mengenai Selat Hormuz.

Komentar itu menuai kecaman luas di dalam dan luar negeri. Bahkan upaya impeachment juga bermunculan lantaran komentarnya tersebut.

Sementara itu, tingkat ketidaksetujuan mencapai rekor baru sebesar 62%. Hal ini terungkap dalam hasil jajak pendapat terbaru nan dirilis oleh The Washington Post berbareng ABC News dan Ipsos.

Survei tersebut menunjukkan tingkat persetujuan terhadap Trump hanya berada di nomor 37%. Angka ini mencerminkan meningkatnya ketidakpuasan publik, terutama mengenai penanganan perang Iran dan tekanan biaya hidup nan terus meningkat.

Penolakan terhadap kebijakan luar negeri menjadi salah satu aspek utama. Sebanyak 66% responden tidak menyetujui langkah Trump menangani bentrok dengan Iran.

Sementara itu, di dalam negeri, rumor ekonomi menjadi titik terlemah. Sebanyak 76% responden tidak puas terhadap biaya hidup, 72% terhadap inflasi, dan 65% terhadap kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Angka ketidaksetujuan sebesar 62% ini menyamai level nan pernah tercatat pada akhir masa kedudukan pertama Trump, menurut info Gallup. Saat itu, sentimen negatif dipicu oleh penanganan pandemi COVID-19 serta kerusuhan sosial pasca kematian George Floyd.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News