Trump "Tampar" Kawan Sendiri, NATO Dibuat Panik

Sedang Trending 6 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai mengambil langkah baru dalam kebijakan pertahanannya di Eropa dengan menunda pengiriman tambahan pasukan ke Polandia. Keputusan itu diumumkan Pentagon di tengah dorongan agenda "America First" Trump nan disertai pengurangan ribuan personel militer AS dari area Eropa.

Langkah tersebut memicu kekhawatiran di kalangan sekutu NATO, terutama saat perang Rusia-Ukraina tetap berjalan dan ancaman terhadap area timur aliansi Barat itu belum mereda.

Pentagon menyatakan penundaan itu menjadi bagian dari pengurangan kekuatan tempur AS di Eropa dari empat brigade tempur menjadi tiga brigade. Setiap brigade tempur dapat mencakup hingga 4.000 tentara komplit dengan tank dan perlengkapan pendukung dalam jumlah besar.

Trump sejak lama mendesak negara-negara Eropa agar mengambil peran lebih besar dalam pertahanan kolektif mereka sendiri. Namun dalam beberapa pekan terakhir, dia juga disebut geram terhadap apa nan dianggapnya sebagai kurangnya support sekutu utama NATO terhadap perang AS-Israel melawan Iran.

Dalam pernyataannya, Pentagon menyebut Polandia sebagai "sekutu model bagi AS" dan menegaskan bahwa Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth telah menghubungi Wakil Perdana Menteri Polandia Władysław Kosiniak-Kamysz untuk memberikan agunan bahwa Washington tetap mempertahankan "kehadiran militer nan kuat di Polandia" meskipun terjadi pengurangan personel.

Departemen Pertahanan AS mengatakan keputusan akhir mengenai penempatan pasukan di Eropa tetap bakal ditentukan berasas pertimbangan lebih lanjut.

"Departemen Pertahanan bakal menentukan disposisi akhir pasukan ini dan pasukan AS lainnya di Eropa berasas kajian lebih lanjut terhadap kebutuhan strategis dan operasional AS, serta keahlian sekutu kami sendiri untuk berkontribusi terhadap pertahanan Eropa," demikian pernyataan Pentagon, dikutip dari The Washington Post, Rabu (20/5/2026).

Kedutaan Besar Polandia di Washington belum memberikan tanggapan mengenai keputusan tersebut.

Langkah pengurangan pasukan ini menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan personil NATO lantaran Rusia tetap melanjutkan perang di Ukraina dan terus dianggap menakut-nakuti sisi timur aliansi tersebut.

Pada awal perang Ukraina tahun 2022, pemerintahan Presiden AS saat itu, Joe Biden, mengirim ribuan pasukan tambahan ke Eropa Timur sebagai upaya mencegah Kremlin memperluas ambisi teritorialnya melampaui Ukraina.

Namun kini, pemerintahan Trump justru bergerak ke arah sebaliknya. Tahun lampau Trump menarik pasukan dari Rumania. Bulan ini Pentagon juga mengumumkan rencana penarikan sekitar 5.000 personel militer dari Jerman.

Langkah terhadap Jerman dipandang luas sebagai corak balasan politik setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz mengkritik perang Iran dan mengatakan Amerika Serikat telah "dipermalukan".

Meski rencana pengurangan pasukan telah disampaikan selama berbulan-bulan, implementasinya tetap memicu keresahan di Kongres AS, baik dari Partai Republik maupun Demokrat.

Pengumuman terbaru Pentagon juga muncul setelah keputusan mendadak Hegseth pekan lampau untuk menghentikan pengerahan brigade tempur berbasis di Texas ke Polandia. Sebagian pasukan apalagi sudah tiba di Polandia ketika keputusan penghentian diumumkan.

Langkah itu disebut mengejutkan pejabat AS maupun Polandia.

Anggota DPR AS dari Partai Republik, Don Bacon, secara terbuka mengkritik keputusan tersebut saat sidang dengar pendapat dengan Kepala Staf Angkatan Darat AS sementara, Jenderal Christopher LaNeve.

"Ini tamparan bagi Polandia. Ini tamparan bagi teman-teman Baltik kita," kata Bacon.

Sebagian tentara dan perlengkapan dari Brigade Tempur Lapis Baja ke-2 Divisi Kavaleri Pertama sebenarnya sudah berada di posisi siap menjalani penugasan sembilan bulan di Polandia. Situasi itu memaksa militer AS menghentikan keberangkatan tambahan dari Fort Hood, Texas, serta mengatur pemulangan ratusan personel nan telanjur tiba di Polandia.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News