Jakarta -
Harga minyak kembali melonjak signifikan hari ini, Selasa (28/4). Lonjakan tersebut terjadi menyusul ketidakpuasan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap proposal pembukaan Selat Hormuz nan diajukan Iran.
Dikutip dari CNBC, nilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka melonjak lebih dari 3% menjadi US$ 100,11 per barel pada pukul 08.35 ET. Kemudian nilai minyak mentah Brent berjangka naik 3,2% menjadi US$ 111,67.
Trump sebelumnya diketahui mengaku tidak puas dengan proposal Iran untuk membuka selat dan mengakhiri perang. Pernyataan itu dia ungkap kepada para penasihatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun berasas sumber beredar, tidak disebut rinci ketidakpuasan Trumo terhadap proposal tersebut. Iran sendiri telah menawarkan proposal untuk membuka Selat Hormuz jika AS mencabut blokade angkatan lautnya. Selain itu, Teheran mau menunda pembahasan program nuklirnya ke waktu nan bakal datang.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, pun meragukan proposal Iran. Menurutnya, Teheran bersedia membuka kembali selat tersebut untuk lampau lintas selama mereka tetap mengendalikan jalur laut tersebut.
"Itu bukan membuka selat. Itu adalah jalur perairan internasional. Mereka tidak dapat menormalisasi, dan kita juga tidak dapat mentolerir upaya mereka untuk menormalisasi, sistem di mana Iran memutuskan siapa nan berkuasa menggunakan jalur perairan internasional dan berapa banyak nan kudu Anda bayarkan kepada mereka untuk menggunakannya," kata Rubio dikutip dari CNBC, Selasa (28/4/2026).
Ppenutupan Selat Hormuz mengganggu pengiriman 20 juta barel per hari minyak mentah, bahan bakar, dan produk petrokimia. Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, mengatakan pemulihan kondisi pasar normal bakal menyantap waktu berbulan-bulan imbas perang AS-Iran.
Pasalnya, perairan Selat Hormuz kudu diseterilkan dari ranjau, mengurangi kemacetan kapal tanker, dan secara berjenjang memulai kembali produksi dan penyulingan.
Dengan memperhitungkan keterlambatan pengiriman dan distribusi, Lipow memperkirakan setidaknya butuh empat hingga enam bulan untuk kembali menormalkan pasar minyak meski nilai disebut bakal tetap tinggi selama periode tersebut.
"Semakin lama bentrok berlangsung, semakin tinggi harganya, terutama lantaran persediaan berkurang hingga ke tingkat operasional kritis. Jika bentrok berhujung besok, nilai minyak mentah diperkirakan bakal turun $10 per barel," ungkal Lipow.
Tanpa adanya negosiasi baru, nilai minyak mentah WTI disebut bakal kembali naik ke US$ 100. Sementara minyak mentah Brent bakal melampaui US$ 110. Investor juga mengawasi OPEC setelah Uni Emirat Arab berencana bakal meninggalkan organisasi tersebut.
(ahi/hns)
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·