Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana berjumpa dengan para pemimpin negara Teluk di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York Selasa depan. Hal ini dilakukan guna membahas langkah selanjutnya dalam perang dengan Iran.
Mengutip Axios, Kamis (17/9/2026), ada tiga sumber nan mengetahui perihal ini. Laporan muncul di tengah macetnya upaya Washington untuk memulai kembali pembicaraan gencatan senjata dengan Iran sementara negara-negara Teluk menghadapi eskalasi serangan dari Teheran dan milisi Houthi nan berkawan dengan pemerintahan Syiah dalam beberapa hari terakhir.
Menurut laporan tersebut, Trump diperkirakan bakal berjumpa dengan para pemimpin dari enam negara personil Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) ialah Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman. Namun, ada kemungkinan daftar tamu diperluas mencakup pemimpin Arab dan Muslim lain.
Disebutkan gimana Departemen Luar Negeri AS telah mengirimkan undangan awal pada hari Rabu. Diskusi tersebut bakal berfokus pada usulan AS mengenai strategi pasca-konflik, seiring upaya Trump dan tim seniornya menyusun rencana nan diperkirakan baru bakal rampung setelah pemilihan umum paruh waktu (pemilu sela) AS pada bulan November.
Dilaporkan juga gimana Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu juga mau berjumpa Trump di New York. Tapi hingga kini, belum ada pertemuan nan dijadwalkan.
Kemarin, Trump menyatakan bahwa Iran telah menghubungi Washington secara langsung dan mau mencapai kesepakatan, seraya menggambarkan situasi bentrok tersebut sudah mendekati akhir. "Mereka mau membikin kesepakatan, dan kita lihat saja gimana hasilnya nanti," ujarnya kepada wartawan saat tiba di North Carolina.
Siaga Krisis Minyak?
Upaya diplomatik terbaru ini dilakukan di tengah beban ekonomi nan kian meningkat bagi negara-negara Teluk akibat bentrok tersebut. Arab Saudi menutup Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline), jaringan sangat strategis nan mengalirkan minyak mentah dari pantai timur kerajaan menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah, menyusul kerusakan akibat serangan pesawat nirawak (drone).
Harga minyak mentah sempat turun dari kenaikan sebelumnya pada hari Rabu setelah Arab Saudi dilaporkan mengatur pengiriman tambahan melalui pelabuhan Sohar di Oman dengan metode transfer antar-kapal (ship-to-ship transfer), sehingga meredakan kekhawatiran bakal kekurangan pasokan nan berkepanjangan. Harga minyak mentah Brent turun ke level US$105,8 per barel sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 0,22% menjadi US$102,14.
"Mungkin Iran bersedia melakukan negosiasi setelah pemilihan paruh waktu AS, namun keengganan nan terus bersambung untuk terlibat secara diplomatik berisiko memperpanjang lama konflik," ujar Kepala Strategi di Geopolitical Strategy, Michael Feller.
"Iran mungkin bersedia mencapai kesepakatan setelah pemilihan paruh waktu. Jika tidak, perang bisa bersambung hingga akhir tahun 2028, alias apalagi lebih lama lagi," tambahnya.
"Salah satu perihal nan dapat meredakan situasi adalah perbaikan Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline)... meskipun stok di terminal ekspor bakal lenyap jika jalur pipa tersebut tidak segera dipulihkan dalam hitungan hari," jelasnya lagi.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·