Donald Trump.(Al Jazeera)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan menakut-nakuti bakal menyerang Oman jika negara tersebut tidak mematuhi keinginannya mengenai kendali Selat Hormuz. Ancaman ini muncul di tengah upaya Washington merundingkan kesepakatan tenteram dengan Iran guna membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut.
Dalam rapat kabinet di Gedung Putih pada Kamis (28/5) waktu setempat, Trump menegaskan kembali tuntutannya agar Oman dan negara-negara Arab lain segera menandatangani Abraham Accords. Perjanjian nan diprakarsai AS tersebut bermaksud normalisasi hubungan diplomatik antara negara-negara Arab dan Israel.
Ancaman Langsung terhadap Sekutu AS
Ketegangan memuncak saat Trump menjawab pertanyaan wartawan mengenai kemungkinan kesepakatan jangka pendek untuk berbagi kendali atas Selat Hormuz antara Iran dan Oman. Menanggapi perihal tersebut, Trump justru mengeluarkan ancaman langsung kepada Oman yang selama ini dikenal sebagai sekutu strategis AS di area tersebut.
"Oman kudu bersikap seperti nan lain atau kita kudu menghancurkan mereka (blow them up). Tidak bakal ada nan mengendalikannya," ujar Trump dalam pernyataan nan mengejutkan banyak pihak.
Pernyataan spontan tersebut segera diunggah oleh akun resmi Departemen Luar Negeri di platform X yang semakin mempertegas pesan keras dari Gedung Putih.
Dampak Penutupan Selat Hormuz
Ancaman ini muncul saat Selat Hormuz tertutup selama nyaris 90 hari. Penutupan itu mengganggu rute pengiriman minyak dan gas alam utama, memicu lonjakan nilai daya dunia nan sekarang menakut-nakuti stabilitas ekonomi dunia. Para mahir memperingatkan bahwa meskipun krisis ini segera teratasi, akibat ekonominya bakal terasa hingga berbulan-bulan ke depan.
Hingga saat ini, upaya AS untuk membuka kembali selat tersebut, baik melalui jalur militer maupun diplomasi, belum membuahkan hasil. Rencana pengawalan kapal sipil oleh Angkatan Laut AS nan diumumkan awal Mei lampau pun ditangguhkan hanya dalam waktu dua hari.
Diplomasi Transaksional dan Tekanan Politik
Trump juga menakut-nakuti bakal membatalkan pembicaraan tenteram dengan Iran jika negara-negara Timur Tengah tidak menunjukkan, "Rasa terima kasih," dengan menandatangani Abraham Accords. Ia berdasar bahwa negara-negara tersebut berutang budi pada AS lantaran telah menangani ancaman nuklir Iran.
"Mereka berutang pada kami. Saya tidak percaya kita kudu membikin kesepakatan (dengan Iran) jika mereka tidak menandatanganinya (Abraham Accords)," tegas Trump.
Di sisi lain, support politik terhadap kebijakan luar negeri Trump mulai goyah di Capitol Hill. Meskipun Partai Republik memegang kebanyakan di kedua kamar, muncul pembangkangan dari sejumlah personil partai nan mulai mempertanyakan narasi Gedung Putih mengenai Iran. Sementara itu, golongan neokonservatif dan pendukung pro-Israel terus mendesak agar kesepakatan apa pun kudu mencakup penghancuran total program nuklir Iran.
Krisis ini semakin kompleks dengan tuntutan agar Iran menyerahkan seluruh stok material nuklirnya. Pemerintahan Trump mempertimbangkan pelonggaran hukuman dan pencairan aset Iran di bank-bank AS sebagai perangkat tawar-menawar. (The Independent/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·