Trubus Soedarsono, Seniman Tanpa Batu Nisan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Sri Rahayu dengan bangga datang ke Pameran 100 Tahun Trubus Soedarsono + 100 Hari Api Pengabdian Sujarwo di Yogyakarta. Trubus dan Sujarwo, dua seniman nan punya nama besar. Melihat pameran ini salah satu langkah Sri mengenang sang ayah dan beragam karya-karyanya. Ayahnya, Trubus Soedarsono nan lahir pada 23 April 1926 di Giripeni, Wates, Yogyakarta. Seorang seniman kebanggaan Yogyakarta.

Pameran itu diampu oleh seorang seniman asal Wates, Teguh Paino (52). Perjumpaan Teguh dengan sosok Trubus melalui sebuah katalog. Warnanya hitam putih. Sekitar tahun 1994 - 1995. Katalog itu berbeda dari lainnya. Halaman depannya menampilkan lukisan potrait wajah Trubus. Bagi Teguh, katalog itu nyeleneh. Menampilkan wajah seni nan sesungguhnya.  

Perlahan, Teguh mengenal lebih dalam sosok Trubus. Mula-mula dari perkenalan dengan Sujarwo. Teguh dikenalkan dengan sosok pelukis berjulukan Sudargono. Seingatnya, itu terjadi tahun 2009. Teguh dan Sujarwo mampir ke kediaman Sudargono. Sudargono adalah putra seorang seniman kenamaan berjulukan Sudarsono. 

Trubus menyelami seni lukis setelah berjumpa dengan Sudarsono. Saat itu, Trubus tetap remaja. Kemungkinan belum genap 20 tahun. Sudarsono tinggal di Jatinegara. Trubus selalu datang saat Sudarsono melukis. Memperhatikan setiap mobilitas tangan Sudarsono menari di atas kanvas. Trubus setia menunggu Sudarsono menyelesaikan lukisannya. Tidak satu dua kali terjadi. Hampir setiap Sudarsono melukis, Trubus tak pernah absen. 

“Kamu suka gambar, alias ngelukis, po?” tanya Sudarsono pada Trubus. 

Pertanyaan itu dibalas anggukan kepala Trubus remaja. Singkat cerita, Sudarsono memberikan perangkat lukis pada Trubus remaja. Sesaat setelah mendapat perangkat lukis, Trubus menghilang dari pandangan. Sudarsono mencari ke sana kemari. Dia kaget saat menemukan, kertas nan diberikannya sudah terpampang di sebuah dinding. Goresan tangan hasilkarya Trubus tergambar jelas di sana. 

Dari peristiwa itu, Trubus diajak Sudarsono agar bisa memperdalam pengetahuan lukis ke rumahnya. Sudarsono menyampaikan pada sang istri, Trubus adalah salah satu personil keluarganya dari kampung. Untuk lebih meyakinkan, nama Trubus pun diberi tambahan ‘Soedarsono’. Lengkaplah namanya menjadi Trubus Soedarsono.

“Begitulah asal mula Pak Trubus bisa terjun ke bagian seni lukis,” jelas Teguh.

Masa Penjajahan Jepang, Sudarsoni menjadi ketua Pusat Kebudayaan Jepang di Jakarta. Trubus ikut dalam organisasi itu. Dari sana, Trubus berjumpa para maestro seniman.

Di usia 20 tahunan, Trubus sudah bisa berbincang dan duduk berbareng bersama maestro-maestro seniman. Dari sanalah terbuka jalan untuk mengenal Soekarno muda. Trubus pun ikut di beberapa organisasi. Termasuk Putera (pusat tenaga rakyat), lampau SIM (Seniman Indonesia Muda) tahun 1940 an. Trubus juga berkontribusi membidani lahirnya Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) nan sekarang jadi ISI Yogyakarta. Dia sempat mengajar di sana.

“Beliau-beliau ini kan bukan dari latar belakang akademisi sebenarnya, tetapi mempunyai pikiran dan rencana untuk melahirkan ASRI ini kan sangat luar biasa, dan ini terjadi di tahun 1950 tepat di tahun berdirinya ASRI itu tadi.” 

Trubus dikenal aktif dalam aktivitas Pelukis Rakyat dan berasosiasi dalam organisasi seniman underbow Partai Komunis Indonesia (PKI) ialah Lembaga Kebudajaan Rakyat (Lekra). Trubus terjun ke bumi politik dan tercatat pernah menjabat sebagai personil DPRD di Daerah Istimewa Yogyakarta dari partai besar saat itu ialah PKI. Partai ini kemudian menjadi partai nan dilarang pemerintah pada masa Orde Baru.

Trubus lenyap tahun 1965. Ada nan menyebut Trubus meninggal tahun 1966 berbarengan dengan gelombang penghilangan dan penangkapan paksa orang-orang nan terafiliasi dengan PKI. 

Dia tak pernah diketahui keberadaannya. Trubus, seniman nan kematiannya tanpa ditandai batu nisan.

Reporter: Bimo Bagas Basworo, Nurul Diva Kautsar

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita