Jakarta -
Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mengarahkan area transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru nan membuka pekerjaan produktif, meningkatkan pendapatan masyarakat, memperluas pasar bagi petani dan pelaku upaya lokal, serta menarik investasi.
Transformasi tersebut dinilai semakin relevan di tengah perubahan ekonomi dan geopolitik global. Professor of Economics dari Adam Smith Business School, University of Glasgow, Prof. Soner Başkaya menyebut transmigrasi sebagai 'the right programme at the right time.'
Menurut Prof. Başkaya, posisi politik Indonesia nan relatif netral, letaknya nan strategis pada jalur perdagangan dunia, serta kekayaan sumber daya alam menempatkan Indonesia pada posisi nan menguntungkan di tengah perubahan rantai pasok global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Posisi Indonesia saat ini sangat menguntungkan di mata dunia. Indonesia mempunyai posisi politik nan relatif netral, jalur perdagangan nan strategis, serta kekayaan alam krusial seperti nikel nan sangat dibutuhkan industri masa depan, mulai dari baterai hingga kendaraan listrik," kata Prof. Başkaya dalam keterangannya, Selasa (25/8/2026).
Hal tersebut disampaikannya dalam Transmigration Executive Dialogue (TED) berjudul 'Dari Transmigrasi Menuju Transformasi Regional nan Produktif' di Jakarta, Senin (24/8).
Namun, kesempatan tersebut kudu diterjemahkan menjadi faedah nyata bagi masyarakat. Investasi nan masuk ke area transmigrasi tidak boleh berdiri sendiri, tetapi kudu menciptakan pekerjaan, meningkatkan keahlian warga, menggerakkan upaya lokal, dan membangun hubungan dengan industri serta pasar nan lebih luas.
Prof. Başkaya menilai, area transmigrasi perlu didukung pusat pengolahan hasil bumi, jaringan logistik, akomodasi modern, akses pembiayaan, dan ekosistem inovasi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga memperoleh faedah dari proses produksi dan rantai nilai nan lebih panjang.
Pendekatan baru transmigrasi, menurutnya, dapat menjadi instrumen untuk menghidupkan kawasan, menarik investasi dan talenta, serta mendorong penyebaran pengetahuan pengetahuan. Tujuannya adalah menciptakan area nan produktif, berkembang, dan menarik untuk menjadi tempat bekerja maupun membangun kehidupan.
Bagi masyarakat, perubahan tersebut berfaedah terbukanya lebih banyak pilihan pekerjaan tanpa kudu selalu beranjak ke kota besar. Petani dan pelaku UMKM juga berkesempatan memperoleh teknologi, pembiayaan, mitra usaha, dan akses pasar nan lebih luas.
Selain itu, Prof. Başkaya mengingatkan bahwa keberhasilan transformasi tersebut tidak cukup dinilai dari besarnya investasi nan diumumkan alias banyaknya program nan dijalankan. Ukuran utamanya adalah perubahan nan betul-betul dirasakan masyarakat, seperti bertambahnya pekerjaan produktif, meningkatnya pendapatan dan keahlian warga, tumbuhnya upaya lokal, serta berkembangnya perekonomian wilayah secara berkelanjutan.
Pandangan tersebut sejalan dengan paradigma baru nan dikembangkan Kementrans. Menteri Transmigrasi (Mentrans), M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa pembangunan aktivitas ekonomi kudu mendahului perpindahan penduduk.
"Masa depan transmigrasi bukan memindahkan orang terlebih dulu lampau berambisi kesempatan ekonomi menyusul. Kita kudu menciptakan kesempatan ekonomi, menyiapkan pekerjaan dan kehidupan nan layak, baru mobilitas masyarakat mengikuti secara sukarela, aman, dan dengan kepastian masa depan," kata Iftitah.
Menurutnya, masyarakat bakal datang dan menetap secara sukarela andaikan suatu area menawarkan pekerjaan, kesempatan usaha, infrastruktur, dan prospek kehidupan nan lebih baik. Karena itu, area transmigrasi kudu dibangun sebagai ekosistem ekonomi nan menghubungkan masyarakat, lahan, pengetahuan pengetahuan, teknologi, investasi, industri, dan pasar.
Ekosistem tersebut kudu mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari riset dan pembibitan, produksi, pengolahan, pengemasan, logistik, hingga pemasaran. Dengan pendekatan ini, lebih banyak nilai tambah dapat diciptakan di dalam area dan dinikmati oleh masyarakat setempat.
Lebih lanjut, Iftitah mencontohkan tingginya konsumsi durian di China nan nilainya mencapai sekitar Rp137 triliun per tahun. Besarnya pasar tersebut tidak semestinya hanya menjadi kesempatan untuk mengekspor komoditas mentah, tetapi juga menjadi dasar untuk membangun ekosistem industri durian di Indonesia.
"Kita tidak boleh berakhir pada menanam dan mengekspor komoditas mentah. Kita kudu membangun seluruh ekosistem ekonominya di Indonesia, mulai dari riset dan pembibitan hingga budidaya, pengolahan, logistik, produk hilir, dan pemasaran global," ujarnya.
Paradigma baru tersebut dijalankan melalui lima program unggulan Kementerian Transmigrasi. Trans Tuntas memberikan kepastian norma atas lahan; Trans Lokal memastikan masyarakat setempat menjadi pelaku utama dan penerima faedah pembangunan; Trans Patriot menghadirkan sumber daya manusia, pengetahuan pengetahuan, dan teknologi ke kawasan; Trans Karya Nusantara mendorong investasi dan pembuatan pekerjaan sebelum perpindahan penduduk; sedangkan Trans Gotong Royong memperkuat kerjasama antara pemerintah, perguruan tinggi, bumi usaha, dan masyarakat.
Semangat Trans Gotong Royong terlihat dari kehadiran perwakilan Kementerian ATR/BPN, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian Perhubungan (Kemenhub), BPKP, Danantara Indonesia, Bank Indonesia (BI), Kementerian Perdagangan (Kemendag), Kementerian ESDM, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), sepuluh perguruan tinggi mitra, bumi usaha, mitra pembangunan, serta masyarakat umum dalam TED.
"Transmigrasi hari ini tidak bisa melangkah sendirian. Kepastian lahan, infrastruktur, konektivitas, energi, investasi, pasar, tata kelola, dan sumber daya manusia kudu dibangun berbareng dalam satu ekosistem," tegas Iftitah.
Ia juga menyampaikan pesan kepada 1.476 Patriot nan tengah bekerja di 53 area transmigrasi prioritas di seluruh Indonesia. Para Patriot diharapkan tidak hanya menghasilkan penelitian dan laporan, tetapi juga memahami potensi, menemukan persoalan nyata, menerapkan pengetahuan pengetahuan, mendampingi masyarakat, serta menghubungkan potensi lokal dengan teknologi, industri, investasi, dan pasar.
"Para Patriot adalah mata dan telinga kita di lapangan. Hasil kerja mereka bakal menjadi salah satu fondasi krusial bagi kebijakan dan pembangunan area transmigrasi ke depan," ujarnya.
Iftitah menegaskan bahwa pembangunan area tidak boleh menggusur alias menjadikan masyarakat lokal sebagai penonton. Masyarakat setempat kudu menjadi tuan rumah, pelaku utama, dan penerima faedah pembangunan.
Investasi dan industri perlu tumbuh, tetapi nilai tambah, pekerjaan, pengetahuan, serta kesejahteraan juga kudu tumbuh di wilayah tersebut. Melalui TED, Kementrans menghadirkan perspektif ekonomi internasional untuk menguji sekaligus memperkuat arah transformasi transmigrasi.
"Kita tidak hanya mau Prof. Başkaya mendukung pendapat kita. Kita juga mau beliau menantang dugaan kita, menunjukkan akibat nan mungkin belum kita lihat, dan membantu kita memahami apa nan kudu dilakukan agar transformasi ini betul-betul berhasil," kata Iftitah.
Keberhasilan transmigrasi tidak lagi hanya diukur dari jumlah masyarakat nan dipindahkan alias luas lahan nan dialokasikan, tetapi dari nilai tambah nan tercipta, pekerjaan produktif nan tersedia, peningkatan pendapatan warga, pertumbuhan upaya lokal, partisipasi masyarakat setempat, serta keahlian area untuk berkembang secara berdikari dan berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, transmigrasi tidak lagi dimulai dengan memindahkan penduduk, melainkan dengan membangun argumen ekonomi nan kuat agar suatu wilayah layak didatangi, dihuni, dan dikembangkan.
Untuk diketahui, Prof. Soner Başkaya merupakan Professor of Economics dan Head of Economics Subject di Adam Smith Business School, University of Glasgow. Bidang keahliannya meliputi makroekonomi, ekonomi moneter, stabilitas keuangan, ekonometrika terapan, dan ekonomi tenaga kerja.
(akn/ega)
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·