Transformasi Pendidikan Nasional tidak Harus Mahal

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Transformasi Pendidikan Nasional tidak Harus Mahal Ilustrasi(Dok Istimewa)

KRISIS pendidikan Indonesia tidak lagi dapat dijawab dengan pendekatan biasa. Selama lebih dari dua dasawarsa terakhir, hasil PISA menunjukkan sekitar 75–80% siswa Indonesia tetap berada di bawah tingkat kompetensi dasar dalam literasi, numerasi, dan sains, sementara kurang dari 1% mencapai kompetensi global.

“Pendidikan Indonesia sedang mengalami krisis kronis dan struktural,” ujar Prof. Elwin Tobing, pendiri Literacy for the Future (LIFT), dalam penutupan School Leadership Workshop pada Jumat 5 Juni lampau nan diikuti lebih dari 200 kepala sekolah SD di Jakarta.

Menurut Elwin, Indonesia Emas hanya dapat diwujudkan jika sumber daya manusia Indonesia ditransformasikan menjadi modal manusia nan kapabel—menguasai pengetahuan serta bisa menghasilkan produktivitas, inovasi, dan karakter unggul.

Dalam workshop tersebut, LIFT memperkenalkan NEXUS, ekosistem pembelajaran transformasional nan mengintegrasikan kepala sekolah, guru, orang tua, komunitas, budaya membaca, serta pertimbangan berbasis data, dengan siswa sebagai pusat pembelajaran dan kitab nonteks sebagai instrumen utama.

“NEXUS datang sebagai jawaban atas kebutuhan mobilisasi nasional untuk mengatasi krisis pendidikan Indonesia. Kurikulum dan pembelajaran umum tetap penting, tetapi tidak cukup. Kita memerlukan penemuan nan bisa menggerakkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan secara terintegrasi, terarah, dan efisien,” kata Elwin.

Ia menambahkan bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak kudu identik dengan biaya nan besar. “Yang dibutuhkan adalah ruang bagi penemuan nan berdampak, terukur, dan efisien untuk bekerja berbareng pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat,” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, Dr. Nahdiana, menegaskan pentingnya kepemimpinan dan kerjasama dalam membangun masa depan pendidikan.

“Ide besar memerlukan tindakan, kebijakan memerlukan keteladanan, kerjasama memerlukan kesungguhan, dan masa depan siswa memerlukan kepemimpinan nan menghadirkan perubahan,” ujarnya.

Menurut Nahdiana, kerjasama dengan LIFT merupakan bagian dari upaya strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan dan mendukung visi Jakarta sebagai kota global. Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya berjalan di sekolah, tetapi juga memerlukan keteladanan di rumah dan support masyarakat.

Sementara itu, personil DPR RI sekaligus tokoh pendidikan Jakarta, Putra Nababan, mengingatkan bahwa kegagalan memperbaiki pendidikan hari ini bakal berakibat serius pada masa depan bangsa.

“Di tengah tantangan nan semakin berat, saya tidak bisa membayangkan seperti apa masa depan anak-anak kita jika tidak dibekali pendidikan nan berbobot dari seluruh aspek,” ujarnya.

Putra menilai NEXUS layak diadopsi lebih luas lantaran menyasar langsung persoalan mendasar pendidikan Indonesia: literasi, numerasi, minat sains, dan karakter murid. (H-2)
 

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑