Transaksi QRIS Tembus Rp1,12 Kuadriliun, Uang Tunai Makin Jarang Dipakai

Sedang Trending 23 menit yang lalu

JAKARTA - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyatakan bahwa arah percepatan digitalisasi nasional kudu berorientasi pada pembuatan akibat nyata bagi perekonomian. Di mana alih-alih sekadar berfokus pada kemudahan transaksi keuangan.

“Kita tidak lagi hanya berbincang tentang digitalisasi transaksi, tetapi juga tentang gimana konektivitas digital dapat menjadi penggerak produktivitas, perdagangan, investasi, inklusi dan daya saing ekonomi Indonesia,” ujar Analis Kebijakan Ahli Utama Kemenko Perekonomian, Rizal Edwin dalam keterangan resmi, dikutip Minggu (27/9/2026).

Pemanfaatan instrumen teknologi dalam lanskap ekonomi dan finansial digital nasional terus mencatatkan kurva kenaikan nan signifikan. Hingga akhir Juni 2026, ekosistem QRIS telah menjaring 65,77 juta pengguna dan 44,86 juta merchant, dengan 96,68 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM. 

Pada paruh pertama 2026, volume transaksi QRIS mencapai 12,55 miliar kali dengan nilai menyentuh Rp1,12 kuadriliun alias melesat 93,92 persen secara tahunan (year-on-year). 

Capaian tersebut mencerminkan kian luasnya penetrasi pembayaran digital nan secara langsung membuka kesempatan ekspansi pasar bagi UMKM, memangkas biaya transaksi, mempermudah akses pembiayaan, hingga memperkokoh daya saing bumi usaha.

Penguatan jaringan pembayaran digital juga terus diperluas lewat penerapan QRIS Antarnegara nan sekarang telah menghubungkan transaksi di Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, serta bakal segera merambah Hong Kong dan Timor-Leste. 

Keberhasilan ekspansi lintas pemisah ini menegaskan peran sistem pembayaran digital sebagai pintu masuk integrasi ekonomi area nan lebih luas, terutama dalam menyederhanakan transaksi, menjembatani produk UMKM ke pasar global, serta menopang sektor perdagangan, pariwisata, dan arus investasi.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑