Toy Story 5 Angkat Isu Gadget Hingga Body Boundaries, Bisa Diskusikan ke Anak

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Acara screening movie Toy Story 5 di Gandaria City, Jakarta Selatan, Senin (15/6/2026). Foto: Vincentius Mario/kumparan

Toy Story 5 kembali menghadirkan Woody, Buzz, Jessie, dan para mainan kesayangan Bonnie. Film ini tidak hanya membawa nostalgia, tetapi juga mengangkat rumor nan dekat dengan kehidupan anak masa kini, terutama soal gadget dan pertemanan.

Secara cerita, Toy Story 5 berfokus pada Bonnie nan berumur 8 tahun dan mulai kesulitan berkawan lantaran teman-temannya sudah menggunakan LilyPad, sebuah tablet nan terkenal di lingkungan mereka.

Untuk membantu anaknya, orang tua Bonnie akhirnya memberikan perangkat tersebut agar dia tidak merasa tertinggal. Namun, keputusan ini justru membawa tantangan baru dalam kehidupannya.

Di sisi lain, Woody, Buzz, Jessie, dan para mainan mulai merasa peran mereka tergeser oleh kehadiran teknologi. Film ini menggambarkan gimana anak menghadapi perubahan zaman, tekanan sosial, serta rasa takut tertinggal dari kawan sebaya.

Setiap Karakter di Toy Story 5 Punya Pesan Parenting

Instalasi Interaktif Toy Story 5 di Central Park, Jakarta. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparan

Nah, Moms, selain asik nonton keseruan film, karakter-karakter ini juga bisa menjadi bahan obrolan orang tua berbareng anak di rumah nanti. Ada banyak pelajaran nan bisa diambil dari masing-masing karakter seperti:

  • Jessie digambarkan sebagai sosok nan penuh semangat, tetapi mudah panik lantaran takut Bonnie melupakan mainan kesayangannya. Dari Jessie, anak bisa belajar bahwa emosi seperti marah sering muncul dari rasa sayang dan takut kehilangan.

  • Buzz menjadi karakter nan selalu datang membantu teman-temannya. Ia menunjukkan makna kesetiaan dan pentingnya menjadi kawan nan dapat diandalkan dalam situasi sulit.

  • Woody datang sebagai sosok nan tenang dan rasional. Ia tidak terburu-buru mengambil keputusan, tetapi terlebih dulu memahami situasi nan terjadi.

  • Sementara LilyPad menjadi simbol teknologi dalam cerita ini. Film ini tidak menempatkan gadget sebagai musuh, tetapi menekankan pentingnya pendampingan orang tua dalam penggunaan teknologi oleh anak.

Teknologi Boleh Maju tapi Dunia Nyata Tetap Penting

Karakter Blaze menunjukkan bahwa bermain dengan mainan klasik tetap relevan dan tidak membikin anak tertinggal zaman.

Blaze tetap percaya diri berimajinasi meski bumi sekitarnya dipenuhi gadget. Dari sini, Bonnie belajar bahwa bermain sesuai usia bukan sesuatu nan kudu dianggap memalukan.

Menariknya, pertemanan Bonnie dan Blaze justru berasal dari game online, lampau berkembang menjadi hubungan di bumi nyata. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi jembatan pertemanan, selama tetap diimbangi dengan pengalaman sosial langsung.

Belajar dari kesalahan nan terjadi, karakter ayah dan ibu di akhir movie menunjukkan sikap tegasnya dan berani meminta maaf atas kejadian nan menimpa Bonnie. Film ini dikemas dengan sangat rapi dan ada banyak moral value nan bisa diambil setelahnya, Moms.

Psikolog: Jadikan Momen Ini sebagai Bahan Diskusi, Bukan Hal nan Dihindari

Di tengah ceritanya, ada beberapa segmen nan mungkin bakal membikin orang tua berakhir sejenak alias apalagi mendapat pertanyaan dari anak, terutama di bagian akhir ketika muncul momen ciuman dan pernikahan antara Buzz dan Jessie. Tapi, justru di titik inilah orang tua bisa mengambil peran penting, untuk menjadikannya bahan obrolan berbareng anak di rumah nanti.

Psikolog Klinis Gita Aulia Nurani, M.Psi, Psikolog, menekankan bahwa orang tua tidak perlu buru-buru mengalihkan perhatian anak jika muncul pertanyaan mengenai segmen mesra ciuman antara Buzz dan Jessie di akhir movie ini.

"Jika anak bertanya, jawaban sebaiknya sederhana dan sesuai usia anak. Orang tua bisa mengatakan bahwa ciuman dalam konteks itu adalah langkah orang dewasa menunjukkan kasih sayang," ujarnya kepada kumparanMOM, Minggu (5/7).

Ia juga menyarankan agar orang tua mulai mengenalkan konsep body boundaries, bahwa tidak semua orang boleh menyentuh alias mencium tubuh kita, dan anak berkuasa mengatakan tidak jika merasa tidak nyaman.

Selain itu, segmen pernikahan dan baju budaya juga bisa dijelaskan secara sederhana sebagai corak komitmen dua orang dewasa dan memperkenalkan kultur negara lain.

"Pernikahan adalah komitmen dua orang dewasa nan saling menyayangi dan bertanggung jawab satu sama lain. Penjelasan cukup disesuaikan dengan usia anak," tambahnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan