Jakarta -
Kabar tak sedap menerpa Tokopedia. Platform e-commerce nan identik dengan warna hijau itu dilaporkan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara besar-besaran kepada pegawainya.
ByteDance, nan merupakan induk upaya TikTok, telah memangkas jumlah tenaga kerja Tokopedia di sejumlah bagian hingga 90%.Sebagai informasi, TikTok merupakan pemegang saham mayoritasTokopedia setelah mengakuisisi 75% sahamnya pada akhir tahun 2023.
Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Budi Primawan buka bunyi soal perihal ini. Menurut Budi, asosiasi belum menerima penjelasan resmi mengenai PHK massal pada Tokopedia. Masalah ini menurutnya murni masalah internal perusahaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sisi idEA, kami belum menerima penjelasan resmi mengenai rumor tersebut, sehingga tidak pada posisi untuk mengomentari nomor maupun kebijakan internal perusahaan," jelas Budi kepada detikcom, Jumat (3/7/2026).
Namun secara umum, dia menyebut industri e-commerce terus beradaptasi menghadapi dinamika upaya dan perkembangan teknologi. Terkait apakah langkah PHK di Tokopedia berangkaian dengan masifnya penggunaan kepintaran buatan alias artifical intelligence (AI) di perusahaan, Budi menilai perihal itu terlalu awal untuk disimpulkan.
"Secara umum, industri e-commerce memang terus beradaptasi dengan dinamika upaya dan perkembangan teknologi, termasuk AI. Namun menurut kami, terlalu awal jika setiap efisiensi alias perubahan organisasi langsung dikaitkan dengan penggantian tenaga kerja oleh AI," kata Budi.
Menurutnya di banyak perusahaan, AI justru lebih banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan membantu pekerjaan, bukan sekadar menggantikan peran manusia. Terlepas dari dinamika nan terjadi, Budi menilai industri e-commerce Indonesia punya prospek nan baik.
"Adopsi digital terus meningkat, persaingan semakin sehat, dan penemuan tetap berjalan. nan terpenting adalah gimana perusahaan dapat terus beradaptasi agar bisnisnya berkepanjangan sekaligus tetap memberikan nilai bagi konsumen, seller, dan para pekerjanya," tutur Budi.
Sebelumnya, TikTok sempat mengakui PHK memang dilakukan. Perusahaan menjelaskan pihaknya tengah melakukan penyesuaian organisasi riset dan pengembangan untuk mendorong pertumbuhan dan keberlanjutan upaya perusahaan. Sayangnya tidak dijelaskan berapa jumlah tenaga kerja nan menjadi korban PHK.
"Kami tengah menyelaraskan organisasi riset dan pengembangan (R&D) pada ranah nan dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang nan berkepanjangan bagi upaya kami, organisasi kreator, dan penjual di platform kami," kata Juru Bicara TikTok kepada detikcom, Kamis (2/7/2026).
TikTok menyebut langkah PHK bukanlah keputusan mudah. Namun, manajemen memastikan bakal memberi support bagi tenaga kerja nan terdampak.
(ily/hal)
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·