Teknologi Pesan Interaktif Jadi Kanal Pelengkap WhatsApp dan SMS

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Teknologi Pesan Interaktif Jadi Kanal Pelengkap WA dan SMS Teknologi pesan interaktif dinilai makin siap diadopsi di Indonesia(Dok. Magnific)

INFOBIP memprediksi teknologi Rich Communication Services atau RCS bakal menjadi pengganti kuat dalam lanskap komunikasi digital bagi brand di Indonesia. Teknologi ini dinilai dapat memperkaya langkah perusahaan berinteraksi dengan pengguna melalui pesan multimedia nan lebih interaktif dibanding SMS konvensional.

Enterprise Business Director Infobip Indonesia, Kukuh Prayogi, mengatakan kesiapan prasarana menjadi aspek krusial dalam mendorong mengambil RCS for Business di pasar domestik. Menurutnya, kerjasama dengan operator telekomunikasi seperti Telkomsel berkedudukan besar dalam memperluas jangkauan jasa tersebut.

“Dengan pedoman pengguna nan sangat besar di Indonesia, Telkomsel memegang peran krusial dalam kemitraan ini untuk memperkuat prasarana RCS for Business, khususnya dalam memperluas jangkauan dan mendorong adopsi,” ujar Kukuh, di Jakarta, Rabu (20/5).

Infobip sebelumnya meluncurkan jasa RCS for Business pada 2025 melalui kerjasama dengan Telkomsel dan Google. Kerja sama tersebut disebut menjadi bagian krusial dalam mempercepat kesiapan ekosistem RCS di Indonesia, mulai dari pengembangan teknologi inti, integrasi jaringan, hingga pengedaran jasa ke pengguna enterprise.

Menurut Kukuh, jaringan seluler Telkomsel nan luas menjadi komponen krusial dalam mendukung pengiriman pesan berbasis RCS. Melalui kerjasama ini, platform Infobip dinilai dapat menjangkau lebih banyak pengguna enterprise di beragam wilayah Indonesia.

Selain memperkuat infrastruktur, kerja sama tersebut juga membantu Telkomsel memperluas portofolio jasa digital untuk segmen bisnis. Di sisi lain, brand dapat memanfaatkan RCS sebagai kanal komunikasi nan lebih kaya secara visual dan interaktif.

Kukuh menilai kompatibilitas perangkat sekarang bukan lagi halangan utama bagi pertumbuhan mengambil RCS. Hal ini didorong oleh semakin luasnya support teknologi tersebut di beragam ekosistem perangkat, termasuk Android dan iOS.

Ia menyebut kekuasaan perangkat Android di Indonesia, nan konsisten berada di atas 88 persen sejak 2020, menjadi salah satu aspek nan memperkuat kesiapan pasar. Di perangkat Android, mengambil RCS relatif lebih mudah lantaran teknologi tersebut sudah tersedia secara bawaan melalui Google Messages.

“Di perangkat Android, mengambil RCS relatif lebih mudah lantaran teknologi ini sudah tersedia secara bawaan melalui Google Messages,” katanya.

Hadirnya support RCS di iOS 18 juga dinilai bakal meningkatkan kompatibilitas antarperangkat dan antarplatform, termasuk bagi pengguna perangkat Apple. Dengan demikian, kesempatan mengambil RCS di Indonesia dinilai semakin terbuka.

Meski demikian, Kukuh mengatakan penerapan RCS dalam skala besar tetap menghadapi tantangan. Salah satunya adalah kompleksitas ekosistem nan dibutuhkan agar RCS for Business dapat diterapkan secara luas.

Untuk mengatasi perihal tersebut, Infobip mengandalkan pendekatan kemitraan strategis dengan beragam pihak. Google berkedudukan dalam pengembangan teknologi inti dan standardisasi platform, Telkomsel mendukung integrasi jaringan dan pengedaran layanan, sementara brand dan aggregator berkedudukan dalam pengembangan konten serta penerapan RCS.

Tantangan lain datang dari kebutuhan prasarana untuk menangani konten rich media, seperti video dan carousel beresolusi tinggi. Di negara kepulauan seperti Indonesia, kualitas hubungan nan berbeda di tiap wilayah membikin latensi menjadi aspek penting.

“Di negara kepulauan seperti Indonesia, dengan kualitas hubungan nan berbeda-beda di tiap wilayah, latensi menjadi aspek krusial lantaran dapat memengaruhi engagement pengguna secara langsung,” jelas Kukuh.

Untuk menjawab tantangan itu, Infobip menerapkan strategi localized content delivery dengan memanfaatkan Content Delivery Network alias CDN dan edge server di beragam wilayah Indonesia. Strategi ini diharapkan membikin konten dapat dimuat lebih sigap dan stabil.

Dari sisi brand, Kukuh mengatakan tantangan lain adalah kebutuhan fallback mechanism lantaran mengambil RCS belum sepenuhnya merata. Karena itu, brand tetap perlu mengandalkan kanal lain seperti SMS dan WA agar pesan tetap dapat diterima seluruh pengguna.

Di tengah kekuasaan WhatsApp, Kukuh menegaskan RCS tidak diposisikan sebagai pengganti. Menurutnya, RCS lebih tepat dilihat sebagai kanal pelengkap dalam strategi komunikasi omnichannel.

WhatsApp dinilai tetap mempunyai peran krusial dalam hubungan dua arah dengan pelanggan. Sementara itu, RCS dapat digunakan untuk pengedaran pesan multimedia interaktif berskala besar melalui inbox bawaan perangkat, tanpa perlu mengunduh aplikasi tambahan.

“Alih-alih bersaing secara langsung, RCS dan WA dapat melangkah berdampingan,” ujarnya.

Kukuh juga menilai RCS membuka kesempatan baru bagi brand premium untuk membangun pengalaman komunikasi nan lebih individual dan imersif. Melalui fitur seperti profil pengirim terverifikasi, carousel card, tombol respons cepat, hingga support pesan dengan panjang mencapai 3.072 karakter, brand dapat menghadirkan komunikasi nan lebih interaktif sekaligus membangun kepercayaan pelanggan.

Ia mencontohkan hotel premium dapat memanfaatkan fitur carousel untuk menampilkan tur bilik virtual. Sementara itu, brand fesyen alias skincare dapat menggunakan komponen visual dan call-to-action interaktif untuk menghadirkan storytelling produk nan lebih mendalam.

“Bagi brand premium, kualitas komunikasi mencerminkan kualitas produk nan mereka tawarkan,” kata Kukuh.

Untuk memperkenalkan RCS kepada konsumen, Kukuh menyarankan brand memulai dari pesan transaksional nan memang sudah diharapkan pengguna. Contohnya konfirmasi pesanan, pembaruan pengiriman, maupun autentikasi OTP.

Menurut dia, pendekatan tersebut bakal membikin RCS terasa sebagai peningkatan pengalaman pelanggan, bukan gangguan komunikasi. Brand juga perlu memastikan transparansi mengenai argumen pengguna menerima pesan, menyediakan opsi berakhir berlangganan, serta menggunakan profil pengirim terverifikasi untuk membangun rasa kondusif dan kepercayaan pengguna. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia