Foto ini nan dirilis pada 31 Mei 2026 menunjukkan pasukan darat Israel melakukan operasi militer di Beaufort Ridge, Libanon selatan.(ANTARA/Xinhua/IDF)
PEMERINTAH Iran menegaskan bahwa gencatan senjata di Libanon merupakan syarat utama dan absolut dalam setiap kesepakatan dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri bentrok nan tengah berkecamuk. Sikap keras ini muncul di tengah operasi militer Israel nan kian intensif terhadap posisi Hizbullah di wilayah selatan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa penghentian agresi di Libanon adalah komponen krusial nan tidak dapat ditawar dalam proses penyelesaian perang nan lebih luas di area Timur Tengah.
"Kami menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan syarat krusial bagi setiap kesepakatan nan bermaksud mengakhiri perang," ujar Baqaei dalam konvensi pers mingguan di Teheran, Senin (1/6).
Baqaei menambahkan bahwa Teheran bakal terus memberikan support penuh kepada Libanon guna menghadapi operasi militer Israel nan dianggapnya sebagai agresi ilegal. Iran berkomitmen mengambil langkah-langkah nan diperlukan untuk memihak kedaulatan sekutunya tersebut.
Eskalasi di Lapangan dan Blokade AS
Ketegangan ini diperuncing oleh pernyataan Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Melalui platform X, Ghalibaf menyoroti blokade angkatan laut nan diterapkan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 13 April lalu. Menurutnya, tindakan Washington tersebut menunjukkan ketidaksungguhan dalam mengupayakan perdamaian.
"Setiap pilihan mempunyai nilai dan tagihannya pasti bakal datang," tulis Ghalibaf, merujuk pada akibat dari kebijakan tekanan militer dan ekonomi nan diterima Iran.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru mengumumkan ekspansi operasi militer. Israel menyatakan telah sukses menguasai Kastel Beaufort, sebuah tembok strategis dan berhistoris di Libanon Selatan. Klaim ini memicu kekhawatiran internasional bakal terjadinya perang terbuka nan lebih luas, sehingga Dewan Keamanan PBB menjadwalkan pertemuan darurat.
Diplomasi nan Rapuh
Meskipun Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan optimisme di platform Truth Social mengenai kesempatan kesepakatan, kebenaran di lapangan menunjukkan situasi nan jauh lebih kompleks. Baqaei menuduh AS telah melanggar semangat gencatan senjata setelah terjadi serangan terhadap menara telekomunikasi di wilayah pelabuhan selatan Iran.
Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran menyatakan telah menghantam pangkalan nan menjadi sumber serangan tersebut. "Iran mengambil langkah apa pun nan kami anggap perlu untuk mempertahankan keamanan nasional," tegas Baqaei. (Fer/I-1)
| Pembebasan Aset | Menjadi prioritas utama dalam pertukaran pesan diplomatik. |
| Program Nuklir | Belum masuk dalam agenda pembahasan rincian teknis. |
English (US) ·
Indonesian (ID) ·