Menurut Fadli, selain mengurangi beban lingkungan, PSEL Bali diproyeksikan bisa mengolah sekitar 44 persen dari total timbulan sampah di Pulau Bali serta mengurangi akibat kesehatan masyarakat nan tinggal di sekitar TPA.
"Proyek tersebut juga diperkirakan membuka hingga 1.200 lapangan kerja hijau dengan mengutamakan tenaga kerja lokal. Sementara dari sisi energi, akomodasi itu ditargetkan menghasilkan listrik nan setara dengan kebutuhan sekitar 100.000 rumah tangga setiap tahun," papar dia.
Fadli menjelaskan, listrik nan dihasilkan bakal diserap oleh PLN melalui Power Purchase Agreement (PPA) jangka panjang dengan tarif merujuk pada Perpres Nomor 109 Tahun 2025 sebesar 0,20 dolar Amerika Serikat (AS) per kilowatt-jam (kWh).
"Skema diharapkan meningkatkan kepantasan pembiayaan proyek sehingga lebih menarik bagi investor. Lebih lanjut, pembangunan PSEL juga melibatkan mitra teknologi internasional nan dipilih melalui proses seleksi teknologi," jelas Fadli.
Adapun sebelumnya, pemerintah meresmikan pembangunan akomodasi WtE tahap pertama di Bali pada awal pekan ini. Peresmian tersebut sekaligus menandai dimulainya pengembangan proyek PSEL di tiga wilayah, ialah Denpasar Raya, Kota Bekasi, dan Kota Bogor.
Ketiga proyek tersebut merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional berasas Perpres Nomor 109 Tahun 2025 dan berada di bawah koordinasi PT Daya Energi Bersih Nusantara (Danera) nan dibentuk oleh Danantara Indonesia.
Bali menjadi letak pertama nan memulai pembangunan bentuk dengan nilai investasi sekitar Rp 3 triliun alias setara 170,4 juta dolar AS. Pulau tersebut dipilih lantaran menghadapi persoalan sampah nan semakin mendesak seiring terbatasnya kapabilitas tempat pemrosesan akhir.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·