Tantangan Regenerasi Atlet Bulu Tangkis: Masalah Gizi & Kurang Gerak

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Kevin Sanjaya Sukamuljo saat mengikuti konvensi pers Audisi Umum PB Djarum 2026 di Aula Serbaguna GOR Djarum Jati, Kudus, Jawa Tengah, Rabu (9/9/2026). Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Legenda bulu tangkis Indonesia menyoroti aspek nan bikin atlet muda tertinggal dari pesaing seperti China hingga Taiwan. Ada aspek nan mungkin tak terlalu disadari tapi sebenarnya mempunyai dampak.

Koordinator Pelatih Tunggal Putra PB Djarum, Fung Permadi; dan Koordinator Pelatih Tunggal Putri PB Djarum, Hendrawan, mempunyai pandangan sama soal gizi dan kurang mobilitas atlet nan berakibat dengan prestasi bulu tangkis Indonesia. Padahal, dua perihal itu sangat krusial.

Fung Permadi mengungkapkan, prestasi bulu tangkis Indonesia dengan China dan Taiwan sedikit tertinggal. Fung menilai pemenuhan gizi atlet sejak mini sangat dibutuhkan.

"Saya memandang dari segi postur, anak-anak Indonesia corak posturnya sudah kalah. Pasti ototnya, tenaganya juga kalah. Mungkin lantaran orang Indonesia terlalu banyak makan gorengan ya," katanya dalam konvensi pers di sela Audisi Umum PB Djarum 2026, Rabu (9/9)

Fung Permadi memberikan penjelasan saat sesi konvensi pers Audisi Umum PB Djarum 2026 di Aula Serbaguna GOR Djarum Jati, Kudus, Jawa Tengah, Rabu (9/9/2026). Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Fung nan pernah tinggal di negara Taiwan selama 11 tahun memandang kebiasaan anak-anak di Taiwan. Mereka biiasa berangkat dengan melangkah kaki alias naik sepeda.

"Anak-anak di Taiwan berguru di tempat nan tak jauh dari tempat tinggalnya. Anak berangkat dan pulang sekolah tanggung jawab sendiri. Entah naik sepeda, entah jalan kaki lantaran tetap dalam jarak nan dapat dicapai. Sedangkan anak-anak di sini diantar pakai motor," terangnya.

Fung menambahkan, movement rate anak-anak di Kudus tetap kurang bagus. Pihaknya pernah mengecek perihal tersebut.

"Kita ketinggalan jauh. Jadi, intinya anak-anak di Kudus malas bergerak. Hal ini berpengaruh terhadap prestasi di lapangan. Sudah asupan gizinya kalah, kemauannya untuk mobilitas kalah, ya itu satu titik awal nan kurang menggembirakan buat kita," imbuhnya

Legenda bulu tangkis Indonesia, Hendrawan, di Audisi Umum PB Djarum 2026 di GOR Angkasa, Jumat (10/7). Foto: PB Djarum

Senada, Hendrawan menyampaikan intensitas latihan atlet bulu tangkis Indonesia lebih banyak dibandingkan atlet dari negara lainnya. Namun, perihal nan menurutnya asing perkembangan bulu tangkis Indonesia justru tertinggal.

"Denmark itu latihan hanya sehari satu kali. Atlet di Denmark nan sudah senior, mereka pagi kerja dulu. Malamnya baru latihan. Di Indonesia pagi sore. Di Jepang, mereka sekolah, sore baru latihan. Hal nan membedakan kita dengan pemain luar adalah kita enggak efisien waktu," ujarnya.

"Orang luar mereka mereka tahu latihannya hanya dua jam. Sehingga mereka bakal sungguh-sungguh. Kita kadang berpikirnya lantaran banyak waktunya jadi sembarangan latihannya. Itu nan membedakan pemain nan sudah matang dengan nan belum matang ya di situ. Karena nan sudah matang, mereka enggak berlatih seperti waktu mereka junior, wah lebih banyak. Tetapi mereka lebih efisien," jelasnya.

Ia menambahkan, masa-masa dirinya dan Fung menjadi atlet tidak ada handphone. Alhasil, dia dan rekan atlet bermain mengejar layangan, petak umpet, gobak sodor, sepak bola dan kejar-kejaran di lapangan.

Secara tidak langsung permainan itu mengasah fisiknya. Hal itu berbanding terbalik dengan kondisi atlet saat ini. Menurutnya atlet saat ini seusai latihan langsung ke bilik dan bermain handphone.

"Hal inilah nan menjadi kendala. Ini menjadi satu tanggung jawab kita sebagai pembimbing nan kudu bisa membantu anak-anak," imbuhnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan