Tantangan Baru Iran untuk AS, Trump "Mimpi" Caplok Selat Hormuz

Sedang Trending 53 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Teheran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada di bawah kendalinya dan tidak bakal dibuka tanpa terpenuhinya syarat Iran. Di saat nan sama, Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta penduduk bersiap menghadapi nilai bensin nan lebih mahal dan apalagi menakut-nakuti bakal menjadikan Selat Hormuz sebagai wilayah AS.

Pernyataan tersebut muncul pada Sabtu (15/8/2028) ketika upaya menuju perundingan tenteram tetap terhenti. Lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz, jalur strategis nan sebelum perang menjadi rute bagi sekitar seperlima minyak dunia, juga belum kembali normal.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan Teheran tidak bakal menyerah atas pengelolaan jalur pelayaran tersebut.

"Selat ini hanya bakal dibuka dan ditutup berasas perintah Iran. Selama Anda tidak menerima realita kekalahan dan berakhir larut dalam khayalan, Iran bakal terus memberlakukan blokade," tulis Gharibabadi melalui X.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi juga mengatakan Teheran belum memutuskan untuk kembali melakukan pembicaraan dengan Washington.

Dalam wawancara dengan media Iran Shahrara News nan diterbitkan pada Sabtu, Araqchi mengatakan AS kudu memenuhi sejumlah persyaratan mengenai Selat Hormuz sebelum lampau lintas pelayaran dapat kembali berlangsung.

Sebelum perang, jalur tersebut menangani sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Terhentinya lampau lintas melalui Hormuz lantaran itu memberikan tekanan terhadap pasar daya sekaligus meningkatkan kekhawatiran mengenai nilai bahan bakar.

Trump, sementara itu, meminta penduduk AS menerima kenaikan nilai bensin nan menurutnya merupakan akibat nan layak selama perang berlangsung.

Dalam sebuah kampanye politik di Garden City, New York, pada Jumat, Trump mengatakan penduduk AS perlu bayar "sedikit lebih mahal untuk bensin" sebagai biaya untuk memastikan "negara nan sangat jahat" tidak mempunyai senjata nuklir.

Pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir merupakan salah satu argumen nan dikemukakan Trump untuk perang tersebut.

Trump juga kembali mengeluarkan ancaman mengenai Selat Hormuz.

"Setelah kami selesai mengalahkan Iran ... sejenak lagi saya bakal menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat," kata Trump, sebagaimana dikutip Reuters.

Adapun sepanjang konflik, Trump telah bertukar-tukar antara ancaman untuk meningkatkan eskalasi dan pernyataan bahwa kesepakatan tenteram sudah semakin dekat.

Teheran dalam beberapa hari terakhir juga meningkatkan retorikanya setelah upaya mencapai kesepakatan permanen untuk mengakhiri perang terlihat menemui jalan buntu.

Gharibabadi menegaskan bahwa kendali atas Selat Hormuz tidak bisa begitu saja diambil melalui ancaman politik alias pengerahan militer Amerika.

"Selat Hormuz tidak dapat direbut melalui sebuah cuitan alias kapal induk, dengan mengeluarkan perintah alias dengan menyampaikan pidato kampanye pemilu," katanya.

Namun, di tengah sikap tegas tersebut, tekanan ekonomi juga mulai dirasakan Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pernyataannya di televisi pemerintah menyalahkan tingginya inflasi akibat blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan hukuman terhadap ekspor minyak negara tersebut.

Lalu lintas di Selat Hormuz pun sekarang berada jauh di bawah kondisi sebelum perang.

Analisis perusahaan pencari kapal Kpler menunjukkan hanya dua kapal nan melintasi Selat Hormuz pada Jumat. Tidak terlihat adanya pengiriman minyak mentah dalam lampau lintas tersebut.

Kpler mengakui sejumlah kapal mungkin melintasi selat tanpa terdeteksi lantaran mematikan transponder mereka. Namun, jumlah kapal nan terlihat tetap sangat jauh dari kondisi sebelum perang, ketika lebih dari 130 kapal melintasi selat tersebut setiap hari.

Kapal-kapal nan berani melewati selat tanpa izin Iran menghadapi akibat serangan rudal alias drone.

Kondisi tersebut membikin jalur perdagangan daya dunia berada di bawah tekanan besar.

Iran menyebut tindakan pengendalian lampau lintas di Selat Hormuz sebagai blokade. Sementara itu, Washington menggunakan istilah blokade untuk menggambarkan ancamannya terhadap kapal-kapal Iran nan meninggalkan pelabuhan negara tersebut.

Sementara itu, kesepakatan sementara nan dicapai pada Juni untuk mengakhiri perang sekarang praktis berada dalam kondisi berantakan.

Araqchi menegaskan bahwa menurut Iran, kesepakatan tersebut bukan sekadar gencatan senjata nan dapat diperpanjang.

"Kami sebenarnya tidak mempunyai gencatan senjata sejak awal nan sekarang mau kami perpanjang," kata Araqchi. "Kami mempunyai 'akhir perang', dan sekarang ada situasi baru," lanjutnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Teheran tidak memandang kondisi saat ini sebagai kelanjutan dari gencatan senjata sebelumnya, melainkan sebagai fase baru dalam konflik.

Kesepakatan Juni sebelumnya bermaksud mengakhiri perang secara permanen. Namun, kesepakatan tersebut runtuh beberapa minggu kemudian setelah Iran kembali melakukan serangan terbatas terhadap kapal-kapal nan menurut Teheran berlayar bertentangan dengan ketentuan kesepakatan.

AS kemudian kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah wilayah di Iran bagian selatan.

Washington mengatakan serangan tersebut ditujukan untuk mengurangi keahlian Teheran menyerang kapal-kapal di area Teluk.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News