Tanker Tiongkok Tinggalkan Selat Hormuz saat Kesepakatan AS-Iran Mendekat

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Tanker Tiongkok Tinggalkan Selat Hormuz saat Kesepakatan AS-Iran Mendekat Ilustrasi.(Magnific)

DUA kapal tanker minyak asal Tiongkok akhirnya meninggalkan Selat Hormuz setelah tertahan di area Teluk selama lebih dari dua bulan. Pergerakan ini terjadi di tengah klaim Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran sudah di depan mata.

Data pelayaran dari LSEG dan Kpler menunjukkan bahwa dua supertanker tersebut--Yuan Gui Yang nan berbendera Tiongkok dan Ocean Lily nan berbendera Hong Kong--menavigasi keluar dari jalur air tersebut dengan membawa sekitar 4 juta barel minyak mentah.

Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun, dalam sidang parlemen di Seoul juga mengonfirmasi bahwa satu kapal minyak mentah milik Korea Selatan turut melewati selat tersebut pada Rabu (20/5/2026).

Sinyal Damai dari Gedung Putih

Keluarnya kapal-kapal tersebut bertepatan dengan pernyataan Presiden Donald Trump kepada para personil parlemen AS bahwa perang terhadap Iran bakal berhujung sangat cepat dan mudah-mudahan dengan langkah nan sangat baik.

Wakil Presiden AS, JD Vance, menambahkan dalam pengarahan buletin di Gedung Putih bahwa negosiasi antara Teheran dan Washington berada dalam posisi nan cukup baik.

"Ada banyak proses bolak-balik, banyak kemajuan baik nan dicapai, tetapi kami bakal terus mengupayakannya," ujar Vance mengenai perkembangan diplomasi tersebut.

Sebelumnya, Trump sempat menakut-nakuti bakal melakukan tindakan militer kembali, memberikan waktu dua hingga tiga hari bagi Iran untuk mencapai kesepakatan. Ia apalagi mengeklaim sempat berada dalam posisi satu jam sebelum memerintahkan serangan, tetapi akhirnya menundanya.

Dampak pada Harga Minyak Dunia

Harga minyak bumi sempat mengalami relaksasi menyusul komentar positif dari Gedung Putih. Minyak mentah Brent, nan menjadi patokan internasional, turun ke level terendah US$110,16 per barel. Namun, para mahir memperingatkan bahwa nilai kemungkinan bakal tetap tinggi meskipun kesepakatan tercapai.

"Harga kemungkinan tetap menunjukkan potensi kenaikan apalagi jika kesepakatan disimpulkan, mengingat pasokan kemungkinan tidak bakal segera kembali ke tingkat sebelum perang," kata Emril Jamil, analis riset minyak senior di LSEG.

Ancaman Pertumbuhan Ekonomi Global

Blokade AS di Selat Hormuz memberikan akibat ekonomi nan luas. Bulan lalu, nilai Brent mencapai titik tertinggi sejak Juni 2022. Kondisi ini memaksa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memangkas perkiraan pertumbuhan dunia menjadi 2,5 persen tahun ini, turun dari perkiraan 3 persen pada tahun lalu.

Dalam laporan World Economic Situation and Prospects terbaru, PBB memperingatkan bahwa family berpenghasilan rendah di negara-negara berkembang menanggung beban terberat. Kenaikan nilai pangan dan daya menyerap sebagian besar pengeluaran mereka, sementara kenaikan biaya hidup melampaui pertumbuhan upah. (Al Jazeera/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia