Tak Tamat SMA dan Pernah Diusir dari Pasar, Khaerul Kini Pimpin Klaster Kerang Binaan BRI

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Tak Tamat SMA dan Pernah Diusir dari Pasar, Khaerul Kini Pimpin Klaster Kerang Binaan BRI Kepala Klaster Nelayan Kerang Mauk bimbingan PT Bank Rakyat Indonesia (kanan), berbareng Mantri BRI Unit Mauk, Andy Saputra (kiri).(MI/Insi Nantika Jelita)

Di area permukiman nelayan Tanjung Anom, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, nama Khaerul sekarang dikenal sebagai salah satu pengusaha kerang nan sukses. Pria berumur 36 tahun itu apalagi dipercaya menjadi Kepala Klaster Nelayan Kerang Mauk bimbingan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI). Namun, perjalanan menuju tersebut tidak diraih secara mudah.

Khaerul memulai semuanya dari nol. Ia tidak sempat menamatkan pendidikan hingga sekolah menengah atas (SMA), dan hanya mengandalkan pengalaman lapangan, kerja keras, serta keberanian mengambil akibat untuk mengubah nasibnya.

Sejak 2005, Khaerul membantu sang kakak nan lebih dulu menjadi nelayan sekaligus pengepul kerang. Saat itu, pekerjaannya hanya mengantar kerang ke beragam lapak pasar di sekitar Mauk dengan bayaran Rp50 ribu per hari.

"Awalnya saya ikut kerja sama kakak. Saya hanya nganter kerang ke pasar-pasar. Digaji Rp50 ribu sehari. Waktu itu saya belum kepikiran punya upaya sendiri," ujar Khaerul saat ditemui permukiman nelayan Tanjung Anom, Kamis (18/6).

Menjadi Tulang Punggung

Kehidupannya berubah pada 2010 ketika kedua orang tuanya meninggal dunia. Karena terjadi perselisihan keluarga, Khaerul tidak meneruskan upaya berbareng sang kakak. Sebagai anak nan kudu membantu membiayai adiknya nan tetap bersekolah, Khaerul kudu memutar otak agar kondisi ekonomi keluarganya membaik.

"Saya jadi tulang punggung keluarga. Adik tetap sekolah, butuh biaya besar. Saya kudu cari langkah agar bisa lebih maju," katanya.

Pada 2011, dia memberanikan diri berdagang kerang sendiri di Pasar Mauk. Perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Sambil berkaca-kaca, Khaerul mengingat gimana dirinya kerap diusir lantaran kerang nan dijual menimbulkan aroma amis di area pasar. Namun penolakan itu tidak membuatnya menyerah.

"Saya pernah diusir dari pasar lantaran jualan kerang itu amis. Tapi namanya cari makan, saya tetap jalan. Kadang untung hanya Rp20 ribu sampai Rp30 ribu sehari. Dari situ saya berpikir, berfaedah saya tetap bisa dagang," ujarnya.

Keuntungan puluhan ribu rupiah nan diperoleh setiap hari menjadi penyemangat dirinya untuk terus bertahan. Perlahan pendapatannya meningkat menjadi Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari.

Titik Balik Usaha

Titik kembali usahanya datang ketika Khaerul berjumpa seorang pengusaha dari Tegal Alur, Jakarta, nan memasok kebutuhan restoran dan memerlukan kerang bambu dalam jumlah besar.

"Beliau bilang, jika mau usahanya besar kudu dikenal orang dan kudu bisa cari peralatan nan banyak. Dari situ saya mulai cari kerang sesuai pesanan restoran," katanya.

Sejak saat itu, Khaerul tidak lagi hanya menunggu pembeli datang ke pasar. Ia mulai berburu pasokan hingga ke Pelabuhan Karangantu dan wilayah Ujung Kulon, Banten, demi mendapatkan jenis kerang nan dicari pelanggan.

"Saya sampai keliling cari barang. Kalau di sini tidak ada, saya jemput ke wilayah lain. nan krusial pesanan terpenuhi," tuturnya.

Strategi tersebut membuahkan hasil. Keuntungan nan sebelumnya hanya puluhan ribu rupiah melonjak menjadi ratusan ribu rupiah per hari. Saat pasokan melimpah, satu kali pengiriman apalagi bisa menghasilkan untung hingga Rp1 juta.

"Kalau peralatan banyak, sekali antar bisa untung sampai Rp1 juta. Dari situ saya percaya ini jalan upaya saya," kata Khaerul.

Membangun Jaringan Nelayan

Seiring berkembangnya usaha, Khaerul mulai membangun jaringan nelayan dan pengepul. Ia merekrut nelayan satu per satu untuk memastikan pasokan tetap tersedia.

"Saya tidak langsung mikir untung. nan krusial punya nelayan dan jaringan dulu. Kalau pengguna bertambah, peralatan juga kudu ada," ujarnya.

Setelah menikah pada 2012, kondisi usahanya semakin stabil. Dukungan sang istri nan bekerja turut membantu perputaran modal usaha. Dari nan semula hanya menjual puluhan kilogram kerang, Khaerul mulai melayani permintaan dalam skala ton.

"Dulu saya hanya bawa 10 sampai 20 kilogram. Lama-lama bos saya minta kerang satu ton, apalagi lebih. Mau tidak mau saya kudu beli dari nelayan lain juga agar kebutuhan terpenuhi," katanya.

Baginya, tidak ada kesuksesan nan datang secara instan. Dengan kerja keras, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar, upaya nan dirintis dari nol itu perlahan berkembang hingga bisa menopang perekonomian family dan membuka kesempatan bagi nelayan lain di sekitarnya.

"Saya percaya rezeki ada jika kita mau berusaha. nan krusial jangan takut mulai dari bawah. Saya juga dulu mulai dari untung Rp20 ribu sehari," ujarnya.

Berkembang Bersama Kupedes BRI

Perjalanan upaya Khaerul semakin pesat setelah memperoleh akses permodalan melalui Kredit Umum Pedesaan (Kupedes) BRI. Pinjaman pertamanya sebesar Rp50 juta diperoleh pada 2019. Seiring perkembangan upaya dan rekam jejak pembayaran nan baik, plafon pinjamannya terus meningkat hingga mencapai Rp300 juta dengan tenor tiga tahun.

Dana tersebut dimanfaatkannya sebagai modal kerja untuk memperkuat upaya nan saat itu tengah bertumbuh. 

"Dengan tambahan modal, aktivitas hasil tangkapan nelayan dan pengedaran kerang dapat melangkah lebih lancar," tuturnya 

Seiring berjalannya waktu, upaya Khaerul terus menunjukkan perkembangan nan positif. Selain itu, berkah rekam jejak pembayaran nan baik, plafon angsuran nan diterimanya pun terus meningkat secara berjenjang hingga mencapai Rp300 juta dengan tenor pinjaman tiga tahun. Khaerul menilai proses pengajuan Kupedes relatif mudah dan tidak menyulitkan pelaku upaya mini seperti dirinya. Bunga nan ditawarkan pun juga dianggap tetap terjangkau sehingga tidak membebani arus kas usaha.

"Bunga pinjaman tidak memberatkan. BRI menawarkan untuk top up pinjaman lantaran memang saya bayarnya benar," ujar Khaerul. 

Menurutnya, biaya pinjaman tersebut tidak hanya digunakan untuk memperkuat modal upaya pribadi, tetapi juga membantu memperluas jaringan upaya dan mendukung aktivitas para nelayan nan menjadi mitra usahanya selama ini.

Raup Cuan Besar

Menurutnya, upaya kerang mempunyai karakter nan sangat berjuntai pada cuaca dan musim. Pada saat kondisi laut normal, Khaerul mengaku dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp5 juta per hari. Ketika musim panen tiba dan pasokan melimpah, omzet nan diperoleh apalagi bisa mencapai ratusan juta rupiah.

"Kalau lagi panen bisa raup Rp100 juta," kata Khaerul.

Saat ini dia bekerja sama dengan sekitar 80 nelayan nan memasok beragam jenis kerang, mulai dari kerang hijau, kerang bambu hingga kerang kapak. Produk tersebut dipasarkan ke restoran seafood, pasar tradisional, hingga pengguna di Jakarta, Bandung dan Bogor. Meski demikian, upaya hasil laut juga mempunyai akibat nan tinggi. Kerang nan dijual dalam kondisi hidup bisa meninggal selama proses pengedaran dan menyebabkan kerugian besar.

"Pernah rugi Rp20 juta dalam sehari. Ya namanya berbisnis pasti ada saja mengalami rugi. Tapi ini jadi pembelajaran saya," ucapnya.

Menurutnya, semakin besar upaya nan dijalankan, semakin besar pula akibat nan kudu dihadapi.

"Pesan utama saya, kita betul-betul kudu mempunyai mental baja," katanya.

Menjaga Mutu Kerang Tanjung Anom

Di tengah persaingan usaha, Khaerul meletakkan perhatian besar pada kualitas produk. Ia menilai kerang nan berasal dari perairan Tanjung Anom mempunyai kelebihan dibanding wilayah lain.

"Di sini mutunya lebih bagus. Dagingnya lebih besar. Ini nan membedakan dengan kerang lainnya," katanya.

Untuk menjaga kualitas tersebut, dia menerapkan standar kebersihan nan ketat dalam proses penanganan hasil tangkapan.

"Kita kudu higienis. Saringannya kudu dicuci dan penanganannya kudu rapi," ujarnya.

Saat pandemi covid-19, Khaerul juga melakukan beragam penyesuaian. Selain menjual kerang mentah, dia mulai memasarkan produk makanan matang dan memanfaatkan penjualan secara daring. Strategi itu justru membantu usahanya tetap memperkuat apalagi berkembang.

Rekam Jejak Baik

Melihat perkembangan upaya Khaerul, BRI Unit Mauk menunjuknya sebagai koordinator Klaster Nelayan Kerang Mauk nan baru dibentuk tahun ini. Mantri BRI Unit Mauk, Andy Saputra, menjelaskan Khaerul berkedudukan sebagai penghubung antara personil klaster dan BRI. Hingga kini, sudah ada 10 nelayan nan memperoleh pembiayaan Kupedes melalui koordinasi Khaerul.

"Ada 10 nelayan nan sudah mendapat pinjaman Kupedes BRI dengan koordinator Khaerul," kata laki-laki berumur 43 tahun itu.

Andy mengatakan peningkatan plafon pinjaman nan diberikan kepada Khaerul didasarkan pada rekam jejak pembayaran nan baik dan prospek upaya nan dinilai menjanjikan.

"Itu beragam pertimbangannya kita beberapa kali memberikan kenaikan pinjaman," jelas Andy.

Menurutnya, proses pencairan pinjaman relatif sigap selama calon debitur mempunyai catatan BI Checking dan Sistem Layanan Informasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (SLIK OJK) nan baik.

"Sebenarnya, mudah pencairan pinjaman asal info BI Checking tidak bermasalah," ujarnya.

Andy menambahkan, banyak nelayan nan mengalami peningkatan kesejahteraan setelah memperoleh akses pembiayaan untuk mengembangkan usahanya.

Ia juga berpesan agar para nelayan menyisihkan pendapatan lebih besar saat musim panen untuk mengantisipasi kondisi laut nan tidak menentu.

"Syukur-syukur bayarnya dua bulan sekaligus, misalnya. Kalau enggak ditabung dulu lah duitnya. Untuk kemudian hari kan takutnya ada kejadian nan tidak diinginkan," kata Andy.

Mimpi Membangun Cold Storage

Di tengah pencapaian nan telah diraih, Khaerul menginginkan membangun akomodasi cold storage atau penyimpanan nan berfaedah untuk menyimpan produk bersuhu rendah/dingin. Ruangan ini untuk menyimpan stok hasil tangkapan kerang saat musim panen melimpah.

Saat ini, terang Khaerul, kapabilitas penyimpanan nan dimilikinya tetap terbatas pada freezer dengan daya tampung sekitar satu ton. Padahal, cold storage berkapasitas lima ton dinilai sangat krusial untuk menjaga keberlangsungan pasokan.

"Itu nan paling krusial punya cold storage," tegasnya. 

Ia memperkirakan pembangunan cold storage membutuhkan biaya sekitar Rp80 juta dengan bisa menampung hingga lima ton kerang. Kapasitas tersebut jauh lebih besar dibandingkan freezer nan saat ini hanya bisa menyimpan sekitar satu ton.

Dengan adanya cold storage, Khaerul bisa menyimpan hasil tangkapan saat musim sedang bagus. Ketika nelayan mendapatkan banyak kerang dan penyimpanan penuh, stok dapat disimpan untuk dijual pada waktu nan lebih tepat.

“Dengan begitu, kita bisa meletakkan stok banyak,” ujarnya

Dengan akomodasi tersebut, hasil tangkapan nan melimpah saat musim panen dapat disimpan untuk memenuhi kebutuhan pengguna ketika cuaca jelek dan nelayan tidak dapat melaut.

"Jadi kita bisa ada stok tetap, kita tetap bisa jualan," ujarnya.

Khaerul memandang kesempatan upaya kerang dan hasil laut lainnya tetap sangat besar. Selama kebutuhan pangan terus ada, permintaan terhadap kerang dan produk laut lainnya diyakini bakal tetap tinggi. Apalagi, semakin banyak upaya kuliner nan bermunculan dan memerlukan pasokan bahan baku secara rutin

“Karena orang makan itu kan enggak ada istirahatnya. Pasti orang makan terus. Sekarang juga banyak kafe dan upaya kuliner nan bermunculan, jadi kebutuhan pasokan tetap ada,” pungkasnya. (E-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia