Suhu Bumi Kian Panas, Produsen Anggur Dunia Terpaksa Ganti Varietas demi Bertahan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Suhu Bumi Kian Panas, Produsen Anggur Dunia Terpaksa Ganti Varietas demi Bertahan Ilustrasi(Magnific)

PERUBAHAN iklim dunia sekarang menjadi ancaman nyata nan memaksa industri minuman anggur (wine) di seluruh bumi untuk segera beradaptasi. Sebuah studi terbaru memperingatkan para petani anggur kemungkinan besar kudu mengganti varietas anggur nan mereka tanam jika mau mempertahankan kelangsungan upaya mereka di tengah suhu bumi nan terus memanas.

Selama berabad-abad, wilayah-wilayah penghasil wine terkemuka di bumi sangat berjuntai pada kondisi suasana mikro nan stabil. Jenis anggur terkenal seperti Cabernet Sauvignon, Merlot, alias Chardonnay tumbuh optimal pada rentang suhu dan tingkat curah hujan nan sangat spesifik. Namun, pergeseran cuaca ekstrem dan peningkatan suhu dunia saat ini mulai mengacaukan siklus pematangan buah, nan pada akhirnya merusak keseimbangan rasa, keasaman, dan kadar alkohol dari produk wine tradisional.

Para peneliti dalam studi ini memproyeksikan skenario masa depan berasas tingkat pemanasan global nan berbeda. Hasil pemodelan menunjukkan jika suhu bumi naik hingga 2 derajat Celsius, sebagian besar wilayah perkebunan anggur tradisional saat ini bakal menghadapi penurunan kualitas produksi nan drastis. Bahkan, pada tingkat pemanasan nan lebih ekstrem, beberapa wilayah terancam tidak lagi cocok untuk ditanami anggur sama sekali.

Sebagai langkah mitigasi, studi ini menyarankan para produsen untuk beranjak ke varietas anggur nan lebih tahan terhadap cuaca panas dan kekeringan. Misalnya, wilayah nan saat ini mendominasi pasar dengan varietas beriklim sejuk mungkin kudu mulai menanam varietas nan biasa tumbuh di area nan lebih hangat, seperti Syrah alias Grenache.

Kendati demikian, strategi penyesuaian ini tidaklah mudah untuk diterapkan. Industri wine tidak hanya berbincang tentang kecocokan agrikultur, melainkan juga mengenai erat dengan izin ketat, identitas budaya suatu wilayah, dan preferensi konsumen. Di beberapa negara Eropa, patokan norma lokal apalagi membatasi jenis anggur apa saja nan boleh ditanam di wilayah tertentu agar bisa menggunakan label wilayah asal nan bergengsi.

Perubahan varietas anggur secara massal tentu bakal mengubah lanskap pasar wine dunia dan memaksa konsumen untuk menyesuaikan lidah mereka dengan profil rasa nan baru. Bagaimanapun, para intelektual menegaskan bahwa elastisitas dan kesiapan para petani untuk beranjak varietas adalah kunci utama agar industri antik ini dapat selamat dari akibat jelek krisis suasana nan sedang berlangsung. (Earth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia