Sugiono Bertemu Menlu Filipina, Bahas Ekonomi hingga Geopolitik

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Menlu Sugiono saat pertemuan bilateral dengan Menlu Filipina Theresa Lazaro di Kemlu, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Menteri Luar Negeri Sugiono menggelar pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Kamis (22/4). Pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama kedua negara, mulai dari sektor ekonomi hingga rumor geopolitik global.

Dalam konvensi pers bersama, Sugiono menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Filipina mencerminkan kemitraan erat sebagai sesama negara kepulauan dan pendiri ASEAN.

"Pertemuan kita hari ini mencerminkan kemitraan nan kuat antara Indonesia dan Filipina sebagai tetangga dekat, negara kepulauan, dan juga sebagai personil pendiri ASEAN," kata Sugiono.

Menlu Sugiono saat pertemuan bilateral dengan Menlu Filipina Theresa Lazaro di Kemlu, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Ia menambahkan, konsentrasi utama pembahasan adalah memastikan kerja sama bilateral nan memberikan faedah bagi masyarakat kedua negara, sekaligus memperkuat peran ASEAN di tengah dinamika global.

"Diskusi kita berfokus pada satu tujuan, ialah memastikan bahwa kerja sama bilateral kita memberikan faedah nyata bagi rakyat kita. Dan lantaran Filipina memegang kepemimpinan ASEAN tahun ini, Indonesia juga menegaskan kembali support penuh dan komitmen berbareng kita untuk memperkuat persatuan dan sentralitas ASEAN di tengah meningkatnya ketidakpastian dan tantangan regional," ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut, Sugiono menuturkan keduanya juga membahas langkah konkret untuk memperkuat kerja sama di beragam sektor strategis.

"Sahabat-sahabat, hari ini kita membahas langkah-langkah konkret untuk lebih memperkuat kerja sama bilateral kita di beragam sektor strategis utama. Mengenai kerja sama ekonomi, kami sepakat untuk memperkuat kolaborasi, antara lain, dalam penyelesaian mata duit lokal, sistem pembayaran QR nan lebih kuat, dan konektivitas nan lebih baik antara kota-kota perbatasan seperti Manado, Bitung, Davao, dan General Santos," ucap dia.

Selain ekonomi, Sugiono menuturkan, kerja sama di sektor daya juga menjadi perhatian utama, mengingat kedua negara merupakan produsen nikel besar dunia.

"Kerja sama daya juga tetap menjadi prioritas strategis kami. Sebagai dua produsen nikel terbesar di dunia, kami menyambut baik kemajuan kemitraan mineral penting, termasuk aliansi nikel untuk membangun rantai pasokan dunia nan tangguh," terang Sugiono.

Di bagian politik dan keamanan, Sekjen Partai Gerindra itu menegaskan kedua negara sepakat memperkuat kerja sama maritim serta pengelolaan perbatasan.

"Dalam kerja sama politik dan keamanan, kami membahas dan sepakat untuk memperkuat kerja sama maritim, meningkatkan manajemen perbatasan, dan mempercepat obrolan tentang penetapan pemisah landas kontinen berasas norma internasional," imbuhnya.

Lebih lanjut, kedua menteri turut berganti pandangan mengenai rumor regional dan global, termasuk situasi di Laut Cina Selatan dan Myanmar.

"Kami juga menekankan pentingnya proses politik inklusif di Myanmar, support untuk perdamaian jangka panjang, stabilitas regional, dan support kemanusiaan," kata Sugiono.

Terkait dinamika geopolitik di Timur Tengah, Sugiono menuturkan, Indonesia dan Filipina menilai gencatan senjata menjadi langkah krusial untuk mencegah eskalasi konflik.

"Mengenai dinamika geopolitik di Timur Tengah, kami berdua percaya bahwa gencatan senjata saat ini merupakan langkah krusial untuk mencegah eskalasi nan lebih luas. Bagi negara-negara seperti Indonesia dan Filipina, stabilitas di Teluk sangat krusial lantaran setiap gangguan bakal memengaruhi keamanan energi, rantai pasokan, dan ketahanan ekonomi di area kita," ujar dia.

Selain itu, Sugiono menegaskan, kedua negara juga menegaskan support terhadap penyelesaian bentrok Palestina melalui solusi dua negara.

"Dan pada saat nan sama, kami percaya bahwa perdamaian dan stabilitas nan langgeng di Timur Tengah tidak dapat dicapai tanpa keadilan bagi Palestina juga, dan kami berdua percaya bahwa solusi dua negara adalah satu-satunya solusi untuk masalah ini," tandasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan