Studi Ungkap Serangan Jantung Lepaskan Racun yang Merusak Fungsi Otak

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Studi Ungkap Serangan Jantung Lepaskan Racun nan Merusak Fungsi Otak Molekul methylglyoxal (MG) dari jantung pasca-serangan jantung dapat memicu depresi hingga demensia.(Dok. Magnific)

TIM peneliti dari University of Ottawa mengungkap kejadian 'poros jantung-otak' di mana kerusakan jantung akibat serangan jantung melepaskan molekul berbisa nan merusak kegunaan neurologis. Studi ini menjelaskan kenapa pasien serangan jantung mempunyai akibat depresi, kecemasan, hingga penurunan kognitif nan jauh lebih tinggi.

Penelitian nan diterbitkan dalam jurnal Advanced Sciences ini mengidentifikasi methylglyoxal (MG) sebagai tokoh utama. Molekul nan sangat reaktif ini melonjak dalam aliran darah saat jaringan jantung mati, kemudian menumpuk di area otak nan mengatur suasana hati dan kognisi.

Data menunjukkan bahwa prevalensi depresi dan kekhawatiran pada pasien pasca-serangan jantung mencapai tiga kali lipat dibandingkan populasi umum. Kondisi mental ini bukan sekadar akibat psikologis, melainkan dipicu oleh perubahan molekuler nan nyata.

“Dalam studi sebelumnya, kami menemukan bahwa methylglyoxal diproduksi oleh jaringan jantung nan sekarat setelah serangan jantung, berasas bukti ini, kami memperkirakan bahwa methylglyoxal dalam darah bakal menargetkan organ dan jaringan lain, termasuk otak, dan inilah nan memang kami amati," ungkap Dr. Erik Suuronen, Profesor di Fakultas Kedokteran University of Ottawa.

Dampak dari akumulasi MG ini sangat serius. Pasien nan mengalami gangguan mental pasca-serangan jantung mempunyai akibat 2,7 kali lebih tinggi untuk mengalami serangan susulan alias kematian. Selain itu, peradangan kronis nan dipicu MG di otak berpotensi menjadi pendorong penyakit neurodegeneratif seperti demensia.

Harapan Baru: Terapi Peptida

Kabar baiknya, tim peneliti telah mengembangkan terapi peptida nan dirancang untuk "menjebak" methylglyoxal sebelum merusak sel-sel tubuh. Terapi ini bakal segera diuji untuk memandang efektivitasnya dalam melindungi otak dan mengurangi akibat serangan jantung di masa depan.

Penemuan ini diharapkan dapat merombak protokol pemulihan pasien jantung di seluruh dunia, dengan memberikan perhatian lebih pada perlindungan fungsi otak sejak awal guna meningkatkan nomor angan hidup jangka panjang. (Neuroscience News/Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia