Studi Terbaru: Bumi Berpeluang Selamat dari Kematian Matahari

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
 Bumi Berpeluang Selamat dari Kematian Matahari Penelitian terbaru di jurnal Astronomy and Astrophysics mengungkap skenario di mana Bumi bisa lolos dari kehancuran saat Matahari mati.(Dok. MARK GARLICK)

SEBUAH studi terbaru nan dipublikasikan dalam jurnal Astronomy and Astrophysics membawa angan baru bagi masa depan Bumi. Para peneliti mengungkapkan bahwa planet kita kemungkinan besar dapat selamat dari fase kematian Matahari nan diperkirakan terjadi sekitar 5 miliar tahun mendatang, menantang teori lama nan menyebut Bumi bakal hancur dilalap api bintang induknya.

Penulis utama studi, Mats Esseldeurs dari Institute of Astronomy, KU Leuven, Belgia, menjelaskan bahwa temuan ini didasarkan pada pengamatan terhadap bintang-bintang raksasa nan mempunyai karakter serupa Matahari. Saat ini, para intelektual memantau bintang sekarat berjulukan L2 Puppis untuk memodelkan apa nan bakal terjadi pada Tata Surya di masa depan.

Dalam siklus hidupnya, Matahari diprediksi bakal kehabisan bahan bakar hidrogen dan membengkak menjadi bintang raksasa merah (red giant), lampau berkembang menjadi bintang Asymptotic Giant Branch (AGB). Pada tahap ini, ukuran Matahari bakal mencapai ratusan kali lipat dari ukurannya saat ini sebelum akhirnya menyusut menjadi katai putih (white dwarf).

Studi ini menyoroti dua skenario utama bagi nasib Bumi. Skenario pertama melibatkan style pasang surut gravitasi nan kuat, di mana tarikan Matahari nan membesar bakal menyeret Bumi masuk ke dalam atmosfer bintang tersebut hingga hancur terbakar.

Namun, skenario kedua menawarkan kesempatan keselamatan melalui kejadian angin bintang (stellar wind). Jika Matahari kehilangan massanya dengan sangat sigap melalui angin bintang ini, style gravitasinya bakal melemah secara signifikan. Kondisi tersebut memungkinkan orbit Bumi bergeser lebih jauh ke luar sebelum sempat tertelan oleh ekspansi Matahari.

Menurut Esseldeurs, nasib akhir Bumi sangat berjuntai pada keseimbangan rumit antara kecepatan kehilangan massa Matahari dan kekuatan style pasang surut. Jika kehilangan massa terjadi lebih dominan, Bumi berkesempatan besar untuk tetap memperkuat di orbit nan baru dan lebih kondusif di masa depan nan sangat jauh tersebut. (New York Post/Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia