Studi: Peradangan Pasien Jantung Tetap Tinggi meski Diobati

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
 Peradangan Pasien Jantung Tetap Tinggi meski Diobati Peradangan pasien jantung.(Dok. Magnific)

STUDI dunia berjudul POSEIDON mengungkapkan kebenaran mengejutkan bahwa banyak pasien penyakit kardiovaskular tetap mengalami peradangan kronis meskipun telah menjalani pengobatan sesuai pedoman medis. Temuan ini dipresentasikan dalam Kongres European Atherosclerosis Society (EAS) ke-94 di Athena, Yunani, pada Juli 2026.

Penelitian ini menggunakan parameter high-sensitivity C-reactive protein (hsCRP) sebagai penanda peradangan dalam darah. Kadar hsCRP sebesar 2 mg/L alias lebih diidentifikasi sebagai parameter akibat peradangan kardiovaskular nan tinggi pada pasien.

POSEIDON merupakan studi observasional skala besar nan melibatkan 18.904 pasien di 317 pusat kesehatan nan tersebar di 18 negara selama periode 2023-2025. Untuk memastikan akurasi, penelitian hanya melibatkan pasien dalam kondisi stabil guna memastikan hasil pemeriksaan mencerminkan peradangan kronis, bukan reaksi jangkitan akut.

Data menunjukkan sekitar 43% pasien penyakit kardiovaskular aterosklerotik (ASCVD) juga menderita penyakit ginjal kronis (CKD). Selain itu, dua dari lima pasien ditemukan tetap mempunyai kadar hsCRP nan tinggi. Pada pasien kandas jantung, prevalensi peradangan tinggi mencapai sekitar 38% di seluruh jenis fraksi ejeksi.

Penulis utama studi, Carolyn Lam, menekankan pentingnya pemeriksaan hsCRP secara rutin. Menurutnya, akibat peradangan sering kali tidak terlihat hanya dari kondisi klinis luar pasien. "Yang tidak diukur, tidak bakal ditangani," tegas Lam dalam laporannya.

Faktor akibat seperti obesitas, kebiasaan merokok, dislipidemia, dan penyakit autoimun ditemukan lebih sering pada pasien dengan hsCRP tinggi. Peradangan kronis sendiri merupakan pemicu utama perkembangan penyakit jantung nan meningkatkan akibat serangan jantung dan stroke, apalagi saat kadar kolesterol sudah terkendali.

Para peneliti menyimpulkan bahwa pemeriksaan hsCRP dapat membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi pasien berisiko tinggi dengan lebih akurat. Langkah ini diharapkan dapat mendorong penyesuaian terapi nan lebih tepat, termasuk optimasi penggunaan statin dan pengembangan terapi antiinflamasi di masa depan.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia