Solusi Digital Tekan Risiko Kredit Macet Koperasi

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Solusi Digital Tekan Risiko Kredit Macet Koperasi Ilustrasi(Dok Priviu)

UPAYA transformasi digital di sektor koperasi terus didorong untuk memperkuat tata kelola pembiayaan dan menekan akibat angsuran bermasalah. Sistem monitoring dan mitigasi akibat finansial terpadu, PRUVIU, menawarkan solusi berbasis teknologi untuk membantu koperasi meningkatkan kualitas pengelolaan pembiayaan. Solusi tersebut diperkenalkan dalam aktivitas Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Inkopontren, Kamis (21/5).

Kehadiran PRUVIU difokuskan pada penguatan sistem manajemen risiko, khususnya bagi Koperasi Jasa Keuangan Syariah (KJKS) dan koperasi simpan pinjam.

Direktur Utama PT Pruden Visi Utama (PRUVIU) Maulana Irfan Sufa mengatakan teknologi nan dikembangkan perusahaan dirancang untuk menghadirkan jasa penunjang jasa finansial nan lebih efisien melalui otomatisasi dan pemanfaatan kepintaran buatan (AI).

“Bagi PRUVIU, KJKS dan koperasi bukan sekadar konsumen, tetapi mitra strategis nan tumbuh dan berkembang bersama. Kami mau koperasi dapat menikmati jasa setara perbankan dengan biaya nan lebih efisien dan operasional nan lebih sederhana,” ucap Maulana.

Menurut dia, sistem nan dikembangkan memungkinkan integrasi info pembiayaan nan dapat membantu proses kajian kepantasan pinjaman secara lebih akurat.

Selain itu, fitur pelaporan otomatis juga diharapkan bisa menyederhanakan operasional harian koperasi. PRUVIU menyatakan menawarkan sejumlah kelebihan dibandingkan jasa serupa, mulai dari biaya nan lebih terjangkau melalui skema kolektif, kemudahan operasional, hingga sistem otomatisasi nan mendukung kepatuhan lembaga.

“Ada banyak solusi memang, tapi nan unik untuk koperasi memang belum ada. Pruviu ini terutama ditujukan untuk menjawab kebutuhan koperasi simpan pinjam,” kata Maulana.

Masalah kredit macet tetap menjadi tantangan utama koperasi simpan pinjam di Indonesia. Sejumlah aspek seperti lemahnya kajian pembiayaan, persoalan finansial debitur, manajemen akibat nan belum optimal, hingga moral hazard menjadi penyebab tingginya akibat angsuran bermasalah.

Secara umum, tingkat angsuran bermasalah alias Non-Performing Loan (NPL) koperasi dinilai sehat andaikan berada di bawah 5%. Rasio di atas periode tersebut memerlukan pertimbangan dan penguatan sistem pengelolaan risiko. PRUVIU juga menyebut sistemnya telah mengantongi sertifikasi ISO 27001 guna memastikan keamanan pengelolaan info sesuai standar internasional serta ketentuan perlindungan info nan berlaku. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia