Sisa Peran di Panggung Kosong

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Ilustrasi Agra si Juru Pantau/AI

Perayaan selesai, tak ada nan tersisa selain sunyi dan nama kami nan pelan-pelan dilupakan, seperti lakon punakawan nan kembali ke bilik belakang setelah wayang diturunkan dari kelir.

Rompi Juru Pantau itu tetap tergantung di kembali pintu gubuk nan tetap saya sewa sejak laga penentuan nakhoda kepemimpinan di negeri Antarupa dimulai. Warnanya sudah mulai luntur, benang-benang jahitannya mengendur di bagian bahu, dan jejak keringat nan mengering membentuk peta samar di bagian punggung.

Kadang saya berlama-lama memandanginya, seperti memandang artefak dari perang nan tak pernah diakui. Rompi itu dulu terasa berat, lantaran setiap kali memakainya, saya merasa sedang mengenakan baju zirah nan ditenun dari berprasangka dan ribuan pasang mata nan menuntut.

Dulu, tiga bulan sebelum hari pencoblosan, warung kopi di perspektif pasar Kademangan Swarna ini selalu riuh oleh bisik-bisik nan mendadak putus begitu kaki saya melangkah masuk. "Sang Juru Pantau datang," mereka berdesis. Meja-meja membeku. Saya memesan kopi hitam tanpa gula, dan mata mereka mengikuti aktivitas saya, seperti Semar nan mendadak muncul di tengah pesta para Kurawa: dihormati, tapi tidak diinginkan kehadirannya.

Sekarang? Saya duduk di warung nan sama, dan tak seorang pun menoleh. Kopi saya tetap hitam, tanpa pemanis, tapi rasanya lebih getir dari biasanya. Mungkin lantaran kali ini saya meminumnya bukan sebagai pengawas nan ditakuti, melainkan sebagai tontonan nan sudah kedaluwarsa.

Ilustrasi kopi. Foto: dy_dawala/Shutterstock

Yang Tak Tertulis dalam Surat Tugas

Nama saya Arga, Juru Pantau Pemilihan (Jupamil) tingkat Kademangan. Singkatan nan terdengar gagah di surat kabar ibu kota, tapi di keriuhan akar rumput, singkatan itu hanyalah nama lain dari kesunyian: menjadi orang nan jam tidurnya berkurang, tidak memihak, dan tidak punya teman.

Surat tugas kami tebal, komplit dengan stempel basah dari Dewan Pantau Pemilu Agung di pusat. Namun, ada satu perihal nan tak pernah tertulis di sana: bahwa menjadi pengawas adalah menjadi tokoh dalam lakon nan tak dirancang untuk menang. Ia seperti Bisma di atas ranjang panah; dihormati oleh kedua pihak nan bertikai, tetapi tak satu pun nan betul-betul menginginkannya tetap hidup dan bicara.

Tugas saya sederhana secara teori: menjaga netralitas dan mencegah suap. Dalam praktiknya? Saya adalah orang nan kudu berdiri di antara ambisi calon Adipati dan rakyat nan perutnya keroncongan. Saya kudu berkata, "Maaf, ini pelanggaran," sementara di belakang saya, personil Mandala Agung justru sedang bersantap malam dengan para perancang kemenangan di perjamuan mewah.

Saya ingat satu malam, seminggu sebelum hari pemilihan. Seorang Panitera Pemilihan di Kademangan—jabatan nan mengurusi penghitungan suara—menelepon dengan bunyi parau "Kang Arga, tolonglah, jangan terlalu kaku. Petinggi sudah memberi lampu hijau untuk Calon A."

"Petinggi siapa?" tanya saya. Ia tak menjawab. Hanya ada helaan napas panjang, sesunyi bunyi wayang nan patah di tangan dalang nan mabuk.

Bayang-Bayang di Balik Layar

Ilustrasi bayangan. Foto: Cribbvisuals / Getty Images

Konflik sebenarnya tidak terjadi di Balai Pemungutan Suara alias di penyimpanan logistik. Ia terjadi di dalam kepala saya, setiap kali saya memandang rompi berdebu itu.

"Apakah kejujuran ini ada harganya?"

Pertanyaan itu muncul saat saya memandang Kang Darman, tim sukses paling vokal, membagikan paket di gang sempit. Itu bukan pelanggaran teknis, dalihnya. Itu "bantuan kemanusiaan." Tak ada gambar calon, hanya beras, minyak, dan secarik kertas: Dari Calon nan Peduli.

Saya tahu itu suap nan bersalin rupa. Namun saat saya mendekat, penduduk di gang itu menatap saya dengan pandangan nan menusuk: “Kamu mau menyita beras ini dari kami?”

Malam itu saya tak bisa tidur. Bayangan ibu-ibu nan memeluk karung beras seperti memeluk angan terus menghantui. Mereka tidak peduli dari mana asal nasi itu; mereka hanya peduli besok ada nan bisa dimakan. Dan saya? Saya merasa seperti Gatotkaca nan kehilangan kesaktian lantaran tali pusarnya sendiri terikat oleh realitas nan pahit.

Di Balairung Kekuasaan

​Dua bulan setelah pelantikan Adipati baru, saya berdiri di depan balai pemerintahan nan megah. Pilar-pilarnya menjulang tinggi, catnya mengilap, dan potret Sang Adipati tersenyum lebar di pintu masuk. Saya datang bukan untuk mengawasi, melainkan sebagai pemohon.

Ilustrasi surat. Foto: Shutterstock

Di tas rajut saya, terselip tumpukan surat permohonan kerja. Orang-orang nan dulu meminta saya "melonggarkan pengawasan" sekarang punya kedudukan: asisten khusus, pengurus program kemakmuran, hingga majelis pengawas tambang. Sementara saya? Saya tetap memakai sepatu usang nan sama saat berkeliling memantau mobilitas mereka dari titik kampanye satu ke titik kampanye lainnya.

Di ruang tunggu, saya berjumpa Kang Darman. Ia mengenakan seragam resmi dengan pin berkilau. Dulu, dia menunduk saat saya datang. Sekarang? Saya nan kudu melempar senyum lebih dulu.

"Arga! Apa kabar?" suaranya renyah penuh kemenangan. "Syukurlah, kerja kita dulu dihargai Sang Adipati."

Kerja kita. Kata itu menghantam ulu hati saya. Apa nan dia kerjakan selain menebar sampulsurat di kegelapan malam? Sementara saya menghabiskan daya menulis laporan pelanggaran nan hanya berhujung menjadi pembungkus gorengan di meja birokrasi.

"Ada perlu apa, Arga?" tanya Kang Darman, sekarang dengan nada otoritas nan dulu tak dia miliki.

Saya membuka mulut, tapi nan keluar hanya hening. Surat di tas saya terasa seberat gunung. Bagaimana mungkin saya mengubah rompi pengawas menjadi sampulsurat lamaran? Dulu saya mencatat dosa-dosa mereka; sekarang saya kudu memohon pada mereka.

Di Bawah Pohon Beringin

Ilustrasi menulis surat. Foto: Shutterstock

Saya tidak jadi menyerahkan surat itu.

Pulang, melepas sepatu, dan kembali menatap rompi nan tergantung. Di luar, hujan turun seperti simfoni sendu. Saya melangkah menuju pohon beringin tua dekat instansi Kademangan, saksi bisu pemilihan kemarin. Tak ada lagi spanduk alias kerumunan. Hanya akar gantung nan menyentuh bahu, seperti tangan tua nan menenangkan.

Di sana, terbesit tanya: Apa sebenarnya nan saya awasi?

Ya, mengawasi mereka nan sekarang berkuasa, nan duduk di bangku empuk, sementara saya duduk di akar beringin nan lembab. Namun, siapa nan memandang saya? Siapa nan memastikan bahwa kelurusan hati ini mempunyai tempat di Swarnadwipa?

Tidak ada.

Aturan di negeri ini seperti Kakrasana; dia sakti mandraguna, tapi selalu datang terlambat. Ia muncul saat perang usai untuk memberi wejangan nan tak lagi berguna. Kami ada, kami bekerja, lampau kami menjadi catatan kaki nan mudah dihapus sejarah.

Kidung Sunyi Sang Cantrik

Malam ini, rompi itu saya lipat dan disimpan dalam lemari kayu. Tidak untuk melupakan, tetapi untuk merawat kewarasan. Tersadar, bahwa dalam lakon besar Antarupa, saya hanyalah cantrik nan menyapu lantai padepokan. Namanya tak pernah dicatat dalam kidung kemenangan, tetapi tanpa kehadirannya, sesaji takkan pernah tersaji.

Dunia mungkin memilih untuk abai, menganggap laporan dan pantauan kami hanyalah arsip sejarah nan usang. Meski begitu, kami tetap menghitung setiap debar kejujuran nan pernah dipertaruhkan. Saya pulang bukan sebagai pemenang, pun bukan sebagai pecundang. Saya pulang sebagai Juru Pantau nan telah menuntaskan tugasnya.

Kopi di cangkir telah dingin, tapi pahitnya tetap jujur. Di luar, panggung baru sedang disiapkan, dan saya melangkah pergi. Sebab cerita ini memang tak pernah betul-betul selesai; dia hanya sedang berganti wajah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan