Gambaran jantung Galaksi Bima Sakti nan ditangkap oleh Atacama Large Millimeter/Submillimeter Array (ALMA) dan teleskop sinar-X Chandra.(Sinar-X: NASA/CXC/Northwestern Univ./M. Gorski; Radio: ESO/NAOJ/NRAO/ALMA; Pemrosesan gambar: NASA/CXC/SAO/K. Arcand dan P. Edmonds. NASA/UMass/D.Wang et al.)
PARA astronom akhirnya sukses memecahkan misteri kosmik nan telah dicari selama 50 tahun. Untuk pertama kalinya, ditemukan bukti kuat adanya embusan angin kosmik nan kuat dari Sagittarius A* (Sgr A*), lubang hitam supermasif nan berada tepat di jantung galaksi Bima Sakti kita.
Selama ini, lubang hitam paling dikenal lantaran style gravitasinya nan luar biasa nan menarik semua materi di sekitarnya. Namun, para intelektual telah lama berteori bahwa saat materi jatuh dan mendekati kecepatan cahaya, proses tersebut menghasilkan tekanan daya masif nan justru melontarkan sebagian material kembali ke luar angkasa dalam corak aliran jet alias angin. Meski kejadian ini sering terlihat pada lubang hitam aktif di galaksi lain, mendeteksinya di Sgr A* nan condong pasif terbukti sangat sulit.
"Kecuali sebuah lubang hitam berada di ruang sunyi nan sempurna, dia pasti bakal mengembuskan angin dengan langkah tertentu. Dan tidak ada ruang sunyi nan sempurna di alam semesta," ujar Mark Gorski, peneliti dari Northwestern University nan memimpin studi ini.
Gorski menambahkan bahwa posisi Bumi nan kudu memandang menembus piringan galaksi penuh debu dan gas tebal membikin pengamatan menjadi sangat menantang. "Dengan pengamatan baru, ini adalah pertama kalinya kita mempunyai pandangan nan cukup bersih untuk memandang jejak angin tersebut. Kami memandang datanya dan berkata, 'Itu dia. Itu adalah perihal nan telah dicari semua orang selama 50 tahun.'"
Penemuan berbobot ini sukses dilakukan setelah tim peneliti mendeteksi adanya rongga berbentuk kerucut nan asing di dekat Sgr A*. Area berbentuk kerucut tersebut terpantau bersih dan betul-betul kosong dari gas karbon monoksida nan dingin. Ilmuwan menyimpulkan bahwa kekosongan ini disebabkan oleh embusan angin plasma panas nan terus-menerus bertiup dari lubang hitam, nan mendorong alias memanaskan gas dingin di depannya hingga lenyap dari jangkauan teleskop radio.
Untuk memperkuat temuan mereka, tim peneliti mencocokkan peta radio dari teleskop ALMA dengan info sinar-X dari Observatorium Chandra milik NASA. Hasilnya, emisi sinar-X nan melacak plasma bersuhu sangat panas tersebut terpotret mengisi ruang kosong berbentuk kerucut itu secara sempurna. Berdasarkan skala ukuran rongga tersebut, para intelektual memperkirakan bahwa angin kosmik ini telah berembus terus-menerus selama setidaknya 20.000 tahun.
Rekan peneliti Gorski dari Northwestern University, Lena Murchikova, menekankan bahwa penemuan ini membuktikan Sgr A* mempunyai perilaku nan serupa dengan lubang hitam supermasif lainnya di alam semesta.
"Anginnya tidak kuat, dan arahnya mungkin berubah-ubah seiring berjalannya waktu. Ini menunjukkan bahwa lubang hitam kita tidak unik, dan posisi kita di alam semesta ini tidaklah unik," tambah Murchikova.
Penelitian nan diterbitkan dalam Astrophysical Journal Letters ini memberikan pandangan baru nan krusial bagi para astronom untuk memahami gimana lubang hitam "tenang" seperti Sgr A* dapat memengaruhi dan membentuk lingkungan galaksi di sekitarnya selama masa hidupnya nan panjang. (Earth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·