Ilustrasi kepulangan jemaah haji di Bandara Soekarno-Hatta.(Dok. MI)
KONDISI kegawatdaruratan medis menjadi perhatian utama dalam proses kepulangan jemaah haji di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta, Naning Nugrahini, mengungkapkan bahwa serangan jantung dan sesak napas merupakan dua kasus nan paling sering ditemukan pada jemaah haji 2026 nan baru tiba.
Naning menjelaskan bahwa tim medis di lapangan kerap menghadapi situasi kritis, mulai dari penanganan di udara hingga sesaat setelah jemaah mendarat. "Ada nan sudah ditangani dengan CPR di atas pesawat, ada nan baru turun langsung mengalami serangan jantung, alias penyakit kronis lainnya," ujar Naning pada Rabu (3/6).
Menurutnya, prosedur standar operasional (SOP) nan diterapkan adalah memberikan pertolongan pertama secara sigap di lokasi, kemudian segera merujuk pasien ke rumah sakit terdekat guna mendapatkan penanganan lanjutan nan lebih intensif.
Kesiagaan Tenaga Medis 24 Jam
Guna melayani kehadiran nyaris 1.600 jemaah haji, BBKK Soekarno-Hatta telah menyiagakan tim kesehatan komplit nan beraksi selama 24 jam penuh. Tim ini terdiri dari beragam disiplin pengetahuan dan skill untuk memastikan seluruh aspek kesehatan jemaah terpantau.
"Ada master ahli kedokteran penerbangan, master umum, epidemiolog, entomolog, sanitarian, perawat, pengemudi ambulans, hingga tenaga humas dan pendukung lainnya," sebut Naning merinci kesiapan personelnya.
Sinergi Lintas Sektor Tekan Angka Kasus
Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Oktavianus, memberikan apresiasi atas kerjasama beragam lembaga dalam mengawal kesehatan jemaah haji tahun ini. Ia menegaskan bahwa penurunan kasus kesehatan nan signifikan merupakan hasil dari kerja sama lintas sektor nan solid.
"Dukungan datang dari mana-mana. Ada teman-teman dari AirNav nan mengatur lampau lintas udara, kepolisian, Badan Karantina, otoritas bandara, hingga Angkasa Pura nan menyiapkan ruangan dan alat-alat dengan sangat bagus," kata Benjamin.
Ia menambahkan bahwa kesiapan ambulans nan selalu dalam posisi standby menjadi kunci dalam merespons kondisi darurat. Sinergi ini, menurut Benjamin, terbukti efektif memberikan akibat positif pada keselamatan jemaah.
"Ini membuktikan sinergi lintas sektor berakibat pada penurunan kasus nan sangat drastis," pungkasnya. (H-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·