Sepak Bola Menemukan Jawabnya

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Sepak Bola Menemukan Jawabnya Aries Fadhilah Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)

KETIKA FIFA memutuskan Piala Dunia 2026 diikuti 48 negara, bumi sepak bola tiba-tiba dipenuhi mahir strategi dadakan. Sebagian langsung meramal kualitas turnamen bakal merosot. Logikanya sederhana: semakin banyak peserta, semakin banyak pula tim nan 'hanya numpang lewat'. Piala Dunia, kata mereka, bakal kehilangan aura eksklusifnya.

Sekilas, kekhawatiran itu memang terdengar masuk akal. Dengan format baru, negara-negara nan selama ini hanya menjadi penonton akhirnya mendapat undangan ke pesta terbesar sepak bola dunia. Nama-nama seperti Tanjung Verde (Tanjung Hijau), Curacao, Yordania, hingga Uzbekistan bisa ikut merasakan atmosfer nan selama ini hanya mereka nikmati dari layar televisi.

Bagi negara-negara itu, lolos ke Piala Dunia bukan sekadar target. Itu adalah mimpi nan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dan FIFA, suka alias tidak, memberi jalan agar lebih banyak mimpi bisa terwujud. Tentu saja FIFA bukan organisasi sosial nan bekerja semata-mata demi kebahagiaan umat manusia. Semakin banyak peserta berfaedah semakin banyak pertandingan. Semakin banyak pertandingan berfaedah semakin banyak tiket terjual, kewenangan siar meningkat, sponsor bertambah, dan pemasukan ikut melonjak.

FIFA sendiri menargetkan pendapatan sekitar US$13 miliar sepanjang siklus 2023–2026, jauh lebih besar jika dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Piala Dunia dengan 48 peserta jelas menjadi mesin utama untuk mencapai sasaran tersebut.

Lalu pertanyaannya, apakah kualitas Piala Dunia betul-betul menurun? Jawabannya justru diberikan oleh sepak bola itu sendiri.

Lihat saja empat tim nan akhirnya mencapai semifinal: Prancis, Spanyol, Inggris, dan Argentina. Semuanya merupakan penunggu papan atas ranking FIFA sekaligus langganan fase-fase akhir turnamen besar. Tidak ada 'tim kejutan' nan tiba-tiba menyelinap hanya lantaran jumlah peserta bertambah.

Artinya sederhana. Jalan menuju Piala Dunia memang diperlebar. Akan tetapi, jalan menuju semifinal tetap sempit. Pada akhirnya, kualitaslah nan berbicara.

Perbedaan negara-negara elite dengan negara-negara berkembang dalam sepak bola bukan sekadar soal keberuntungan saat pengundian alias kecerdikan pembimbing meracik taktik. Pembeda utamanya adalah kualitas pemain. Dan, pemain berbobot lahir dari ekosistem sepak bola nan juga berkualitas.

Inggris mempunyai Liga Primer nan menjadi magnet pemain terbaik dunia. Spanyol mempunyai La Liga nan terus melahirkan talenta kelas dunia. Prancis menikmati hasil investasi akademi sepak bola selama puluhan tahun. Argentina memang tidak mempunyai liga sekaya Eropa, tetapi nyaris seluruh pemain terbaiknya ditempa dalam kejuaraan elite Eropa setelah dibentuk oleh sistem pembinaan nan kuat sejak usia dini.

Itulah kenapa negara-negara seperti Tanjung Verde, Curacao, Yordania, alias Uzbekistan layak mendapat tepuk tangan. Mereka sukses menggapai mimpi tampil di Piala Dunia. Namun, mimpi itu belum otomatis berubah menjadi keahlian bersaing memperebutkan trofi.

Sepak bola rupanya sangat demokratis ketika memberi kesempatan. Akan tetapi, dia sangat sadis ketika memilih juara. Format boleh berubah. Jumlah peserta boleh bertambah. Kritik boleh berdatangan. Namun, pada akhirnya, sepak bola menemukan jawabnya sendiri.

Piala Dunia bisa membuka pintu bagi siapa pun. Meski demikian, nan mengangkat trofi tetap saja mereka nan sejak awal memang mempersiapkan diri menjadi juara, bukan sekadar bercita-cita datang di pestanya.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia