Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) membeberkan bahwa sektor pertambangan mengalami kontraksi pada Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama 2026.
Berdasarkan info Badan Pusat Statistik, lapangan upaya pertambangan mengalami kontraksi 2,14% pada kuartal pertama 2026 dan menjadi nan terdalam di antara lapangan upaya lainnya.
Kepala BPS Amalia Adhininggar Widysanti saat konvensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Selasa (5/5/2026) membeberkan argumen kontraksi pertumbuhan lapangan upaya pertambangan.
Amalia menjelaskan, kontraksi di sektor pertambangan ini lantaran adanya penurunan produksi hasil tambang seperti bijih logam, minyak dan gas, serta batu bara.
"Pertambangan dan penggalian mengalami kontraksi tadi kan minus 2,14% lantaran salah satunya adalah pertambangan bijih logam terkontraksi sebesar 12,22% kemudian juga ada kontraksi pertambangan minyak gas dan juga batu bara juga mengalami penurunan produksi," kata Amalia.
Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencatatkan pertumbuhan 5,61% secara tahunan alias year on year (yoy).
Laju pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan 5,39% pada kuartal IV-2026 maupun pada periode nan sama tahun sebelumnya alias kuartal I-2025 sebesar 4,87% yoy.
Pada periode ini, bertepatan dengan Lebaran. Pemerintah dan perusahaan menyalurkan Tunjangan Hari Raya (THR) nan bisa mendorong daya beli masyarakat.
Ini terlihat pada konsumsi masyarakat terus tumbuh nan terlihat pada restoran dan hotel. Pertumbuhan transaksi online dari e-retail dan marketplace juga tumbuh. Nilai peralatan impor konsumsi naik 6,12% yoy.
(wia)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·