Jembatan Zolotoy, Vladivostok.(Magnific)
TERLETAK lebih dari 6.000 kilometer dari Moskow, Vladivostok sekarang menjadi pusat perhatian dunia. Kota pelabuhan nan menghadap Samudra Pasifik ini secara geografis jauh lebih dekat ke Tiongkok dan Semenanjung Korea dibandingkan dengan pusat politik Rusia. Vladivostok merupakan pintu gerbang utama menuju wilayah Timur Jauh Rusia, area luas nan mencakup 40 persen wilayah negara tetapi hanya dihuni kurang dari 8 juta jiwa.
Bagi Moskow, pengembangan wilayah kaya sumber daya ini telah lama menjadi tantangan. Namun, seiring langkah Rusia mengalihkan hubungan perdagangan dan ekonominya ke arah Asia, Timur Jauh memegang peranan strategis sebagai jalur menuju pasar Pasifik. Hal inilah nan menjadi konsentrasi utama Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) nan menghadirkan delegasi dari 80 negara di Vladivostok, mulai Selasa (1/9) hingga Jumat (4/9).
Pertemuan ini berjalan tepat setelah KTT Shanghai Cooperation Organization (SCO) di Kirgistan. Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan bertolak ke Vladivostok pada Rabu untuk mengadakan pertemuan bilateral, menghadiri sidang pleno EEF, serta meresmikan operasional sejumlah perusahaan baru di wilayah tersebut.
Mengapa Kawasan Timur Jauh semakin Penting?
Reorientasi ekonomi Rusia sejak bentrok Ukraina pada 2022 memberikan berat strategis tambahan bagi area ini. Terbatasnya hubungan ekonomi dengan Barat memaksa Moskow mengalihkan pandangan ke Tiongkok, India, Asia Tenggara, dan pasar non-Barat lain.
Pergeseran tersebut meningkatkan makna krusial Timur Jauh, baik sebagai tujuan investasi Asia maupun jalur lampau lintas ekspor daya Rusia. Kawasan ini menyimpan persediaan minyak, gas alam, batu bara, kayu, mineral, hingga hasil perikanan nan melimpah. Oleh lantaran itu, sektor transportasi dan logistik menjadi agenda utama dalam EEF tahun ini, termasuk obrolan mengenai koridor prasarana baru dan integrasi ekonomi kawasan.
Peran Strategis Asia Tenggara dan Kehadiran Prabowo Subianto
Tahun ini, Asia Tenggara memegang peran nan sangat signifikan. Presiden Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan menjadi tamu asing utama dan bakal berasosiasi dengan Putin dalam sesi pleno. Kehadiran Prabowo menandai kelanjutan hubungan ekonomi setelah hadir di St. Petersburg International Economic Forum pada 2025.
Selain Indonesia, Wakil Presiden Myanmar Nyo Saw juga dijadwalkan hadir. Partisipasi dua pemimpin Asia Tenggara dalam sesi pleno ini menunjukkan peningkatan konsentrasi Rusia dibandingkan tahun-tahun sebelumnya nan hanya diwakili satu negara (Malaysia pada 2024 dan Laos pada 2025).
Delegasi rutin seperti Tiongkok, nan diwakili Wakil Perdana Menteri Ding Xuexiang, dan Mongolia tetap hadir. Menariknya, pihak penyelenggara juga mencatat minat dari pelaku upaya Eropa dan kehadiran delegasi Jepang serta Korea Selatan, meskipun hubungan diplomatik mereka dengan Moskow sedang merenggang.
Agenda Pembangunan dan Investasi Triliunan Rupiah
EEF 2026 mengusung tema Timur Jauh: Pembangunan demi Kesejahteraan Masyarakat. Pihak penyelenggara memperkirakan bakal ada penandatanganan 380 kesepakatan dengan nilai mencapai 6,5 triliun rubel alias sekitar Rp1.340 triliun.
Fokus agenda meliputi:
- Konektivitas: Pengembangan koridor transportasi untuk memangkas jarak pengangkutan peralatan ke pasar Asia.
- Teknologi: Digitalisasi dan penerapan kepintaran buatan (AI) untuk mendukung industri timur.
- Kualitas Hidup: Pengembangan pariwisata, budaya, dan ekonomi imajinatif guna menjadikan kota-kota di Timur Jauh lebih nyaman untuk ditinggali, bukan sekadar letak ekstraksi sumber daya.
Di sisi lain, forum ini juga diwarnai spekulasi mengenai kemungkinan pertemuan antara Vladimir Putin dan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, di Vladivostok, meskipun pemerintah Korea Selatan menyatakan belum mempunyai info pasti mengenai rencana perjalanan tersebut. (Ant/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·