Ilustrasi(Dok Istimewa )
KEBERHASILAN penerapan Industri 4.0 di sektor manufaktur Indonesia sekarang dinilai lebih ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia (SDM) dibanding besarnya investasi pada teknologi. Di tengah pesatnya penggunaan otomatisasi, Industrial Internet of Things (IIoT), dan kepintaran buatan (artificial intelligence/AI), perusahaan perlu memastikan teknologi bisa mendukung pekerja agar bekerja lebih produktif sekaligus mengambil keputusan dengan lebih baik.
Peran transformasi tersebut semakin krusial lantaran industri manufaktur tetap menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor ini menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia nan mencapai 5,11% pada tahun lalu. Selain menyerap sekitar 20 juta tenaga kerja, manufaktur juga memberikan akibat berantai bagi beragam sektor ekonomi lainnya.
Channel Director Southeast Asia Epicor, Adhi Firmansyah, menuturkan bahwa investasi pada teknologi memang menjadi kebutuhan bagi perusahaan manufaktur. Namun, hasil dari investasi tersebut baru bakal optimal jika diiringi dengan kesiapan tenaga kerja untuk mengoperasikan dan memanfaatkannya.
“Investasi teknologi hanya bakal memberikan nilai ketika tenaga kerja mempunyai keterampilan, kepercayaan diri, serta akses terhadap info nan mereka butuhkan untuk menjalankan pekerjaan secara efektif,” ujar Adhi.
Menurutnya, beragam obrolan dengan pelaku industri manufaktur di Indonesia dan Asia Tenggara menunjukkan bahwa konsentrasi perusahaan sekarang telah bergeser. Persoalannya bukan lagi apakah perlu berinvestasi pada teknologi, melainkan gimana teknologi tersebut betul-betul memberikan faedah bagi pekerja di lapangan.
“Banyak perusahaan sebenarnya sudah memahami pentingnya berinvestasi pada teknologi baru. Pertanyaan nan sekarang muncul adalah gimana memastikan teknologi itu betul-betul membantu pekerja di lini depan menjalankan tugasnya secara lebih efektif,” katanya.
Adhi menilai tantangan tersebut tetap banyak ditemui di industri manufaktur nasional. Sejumlah perusahaan tetap menghadapi sistem nan belum saling terintegrasi, proses kerja nan berjuntai pada langkah manual, serta info nan tersebar di beragam platform. Akibatnya, pekerja di lini depan belum memperoleh gambaran operasional secara real-time sehingga respons terhadap perubahan proses produksi menjadi kurang cepat.
Di sisi lain, industri juga tetap menghadapi keterbatasan tenaga kerja terampil, tingginya nomor pergantian tenaga kerja (turnover), serta tantangan dalam mempertahankan pengetahuan operasional nan selama ini dimiliki pekerja berpengalaman.
Kondisi tersebut dinilai semakin relevan jika memandang profil tenaga kerja Indonesia. Berdasarkan info BPS, hanya sekitar 13% masyarakat bekerja nan telah menyelesaikan pendidikan diploma maupun perguruan tinggi. Fakta ini menunjukkan bahwa penerapan Industri 4.0 tidak cukup hanya mengandalkan kecanggihan teknologi.
“Sebagian besar pekerja lini depan membangun kompetensinya melalui pengalaman bertahun-tahun di lapangan. Karena itu mereka memerlukan perangkat digital nan intuitif, support praktis, serta akses terhadap info nan tepat ketika bekerja, bukan sistem nan justru menambah kompleksitas,” ujar Adhi.
Ia menilai pendekatan transformasi tenaga kerja (workforce transformation) menjadi langkah nan paling efektif lantaran teknologi dimanfaatkan untuk memperkuat keahlian manusia, bukan sekadar menghadirkan sistem baru di lingkungan kerja.
Salah satu teknologi nan sekarang semakin banyak diterapkan adalah AI. Menurut Adhi, pemanfaatannya telah berkembang menjadi perangkat pendukung operasional harian di pabrik, mulai dari memprediksi potensi kerusakan mesin, mendeteksi persoalan kualitas produk secara otomatis, merekomendasikan agenda pemeliharaan, memberikan petunjuk kerja berasas info produksi, hingga membantu supervisor mengidentifikasi halangan sebelum berakibat pada proses pengiriman.
“AI bukan untuk menggantikan pekerja di lini depan, tetapi membantu mereka mengambil keputusan nan lebih sigap dan lebih tepat sepanjang proses kerja,” katanya.
Untuk mewujudkan faedah tersebut, perusahaan perlu mengintegrasikan manusia, proses bisnis, dan info melalui platform Enterprise Resource Planning (ERP) modern. Sistem ERP nan saling terhubung memungkinkan terciptanya konsep connected worker, ialah pekerja nan mempunyai akses langsung terhadap sistem dan info operasional sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Konsep connected worker memungkinkan setiap pekerja mempunyai akses terhadap info operasional nan sama secara real-time. Dengan begitu keputusan tidak lagi kudu menunggu laporan alias info beranjak dari satu bagian ke bagian lain, tetapi bisa diambil langsung di letak pekerjaan berlangsung,” ujarnya.
Melalui ERP modern, pekerja dapat menerima petunjuk kerja digital nan selalu diperbarui tanpa kudu berjuntai pada arsip cetak nan berpotensi sudah tidak lagi relevan. Akses info produksi melalui perangkat bergerak juga memungkinkan pemantauan kondisi operasional secara langsung di area produksi tanpa kudu kembali ke komputer alias menunggu pengarahan atasan. Kondisi ini membikin proses pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, terutama bagi perusahaan nan mempunyai banyak lini produksi.
Integrasi ERP juga dinilai bisa memperkuat kerjasama antara tim produksi, pemeliharaan, dan pengendalian kualitas. Dengan mengakses info nan sama secara real-time, setiap tim dapat menyelesaikan persoalan lebih cepat, mengurangi koordinasi berulang, menekan keterlambatan, serta mempercepat akses terhadap informasi.
Adhi mengatakan digitalisasi juga berkedudukan krusial dalam menjaga pengetahuan operasional nan dimiliki pekerja senior. Pengalaman tersebut dapat terdokumentasi melalui alur kerja digital sehingga lebih mudah diwariskan kepada tenaga kerja baru.
“Digitalisasi bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga membantu perusahaan mendokumentasikan pengetahuan operasional sehingga lebih mudah diteruskan kepada tenaga kerja baru. Dengan begitu proses penyesuaian dapat berjalan lebih sigap dan ketergantungan terhadap pembelajaran informal bisa dikurangi,” katanya.
Selain menjaga pengetahuan organisasi, digitalisasi juga dinilai bisa mengurangi beban pekerjaan administratif, seperti memperbarui spreadsheet maupun mencari info secara manual. Dengan demikian, pekerja dapat lebih konsentrasi pada aktivitas produksi nan memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
Adhi menambahkan, beragam studi mengenai penerapan ERP modern nan lebih terbuka, modular, dan berbasis ekosistem menunjukkan adanya peningkatan keahlian perusahaan.
“Implementasi ERP modern berpotensi meningkatkan produktivitas pengguna upaya hingga 20%. Penyederhanaan proses upaya dan sentralisasi akses info juga bisa meningkatkan efisiensi tim pendukung ERP hingga 40%,” ujarnya.
Meski investasi pada otomatisasi, AI, dan teknologi manufaktur pandai diperkirakan terus bertambah, Adhi menegaskan bahwa teknologi bukan satu-satunya aspek penentu keberhasilan transformasi industri. Menurutnya, perusahaan nan bisa memadukan penemuan digital dengan penguatan kapabilitas tenaga kerja bakal mempunyai daya saing nan lebih baik.
Berdasarkan pengalamannya berbincang dengan pelaku industri di Asia Tenggara, perusahaan nan mencatat perkembangan paling pesat bukan selalu nan menggelontorkan investasi teknologi terbesar. Kemajuan justru lebih banyak diraih oleh organisasi nan sukses membikin teknologi mudah diakses dan dimanfaatkan oleh para pekerja.
“Pada akhirnya, Industri 4.0 bukan sekadar menghadirkan teknologi nan semakin canggih. Keberhasilannya ditentukan oleh seberapa banyak orang bisa mengambil keputusan lebih sigap dan lebih tepat. Pabrik nan bakal unggul bukan nan mempunyai AI paling mutakhir, tetapi nan bisa menghadirkan keahlian digital tersebut ke tangan setiap pekerja di lini depan,” tutup Adhi.
Ia menambahkan, di tengah percepatan penerapan Industri 4.0, perusahaan manufaktur perlu menjawab satu pertanyaan penting, ialah apakah digitalisasi nan dilakukan hanya sebatas memodernisasi akomodasi produksi alias betul-betul mengubah langkah kerja sumber daya manusianya. Menurutnya, jawaban atas pertanyaan tersebut bakal menentukan perusahaan nan bisa menjadi pemimpin pada era baru industri manufaktur Indonesia. (E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·