(MI/Seno)
“SAYA belajar bahwa keberanian timbul bukan lantaran tidak adanya rasa takut, tapi kemenangan atas (rasa takut) itu.... Orang pemberani bukanlah orang nan tidak merasa takut, tapi dia nan mengalahkan ketakutan.” (Nelson Mandela)
Malam itu di awal bulan Mei tahun 1986, lampu di instansi redaksi Prioritas tetap menyala. Mesin cetak baru saja berakhir berputar. Edisi hari itu sudah tercetak. Berwarna di laman depan dan belakang. Belum pernah ada surat kabar di Indonesia nan berani melakukan itu sebelumnya.
Seorang laki-laki muda berjambang lebat berdiri mengawasi lembar demi lembar nan keluar dari mesin. Dia tahu, ini bukan sekadar koran. Ini pertaruhan besar. Sebuah keberanian untuk tampil berbeda di tengah bumi pers nan seragam dan penuh sensor diri.
Bertahun-tahun kemudian, laki-laki berjulukan komplit Surya Dharma Paloh itu dikenang bukan lantaran dia selalu menang. Dia dikenang lantaran tak pernah berakhir mengambil posisi di garis depan. Inilah kisah tentang seorang yang, sejak muda, memilih menjadi pemain sejarah. Bukan penontonnya.
WARNA DI TENGAH HITAM PUTIH
Sebelum menjadi taipan media, dia hanyalah remaja penjual ikan asin dan karung goni di Serbelawan, Simalungun, Sumatra Utara. Dia melangkah dari satu warung ke warung lain, dari kebun ke kebun, sembari menenteng kitab sekolah. Dari situ dia belajar satu perihal krusial bahwa keberanian mengambil akibat selalu berbanding lurus dengan hasil nan didapat.
Prinsip itu dia bawa ke bumi pers. Prioritas terbit pertama kali pada 2 Mei 1986. Banyak nan meragukan. Cetakan berwarna dianggap pemborosan. Foto-foto nan berani dianggap kelewat batas. Namun, dalam hitungan bulan, sirkulasinya menembus lebih dari 100 ribu eksemplar. Titik lunas tercapai sebelum usianya genap setahun.
Kegembiraan itu tak memperkuat lama. Suatu hari, setelah 13 bulan lamanya terbit, surat pencabutan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) datang ke mejanya di penghujung Juni 1987. Prioritas dianggap terlalu bugil dalam mengungkap fakta. Dianggap melanggar izin operasional, meskipun kebanyakan pihak mengetahui bahwa kehadiran media tersebut telah mengganggu stabilitas politik Orde Baru. Bagi orang lain, ini bisa jadi titik akhir. Bagi Surya Paloh, ini justru menjadi bahan bakar.
Dia tidak menyerah pada bumi pers. Media Indonesia dihidupkannya dua tahun kemudian. Dibesarkannya media itu perlahan. Dan, hari ini kita tetap bisa menikmati sajian buletin hingga tulisan opininya. Pada 1999, di tengah gejolak reformasi, Surya Paloh melakukan sesuatu nan lebih besar lagi. Dia mendirikan Metro TV. Televisi buletin 24 jam pertama di Indonesia. Ketika stasiun lain berkompetisi menayangkan sinetron, dia memilih jalan sunyi. Berita, sepanjang hari, setiap hari. Keputusan itu dianggap berisiko oleh banyak orang di industrinya. Sekali lagi, dia terbukti benar. Hingga hari ini, stasiun televisi itu tetap mengudara.
ANAK POLISI DI TENGAH BARISAN ABRI
Kita mundur ke Jakarta, di penghujung 1970-an. Di sebuah pertemuan nan dihadiri anak-anak purnawirawan ABRI dari beragam daerah, seorang pemuda dari Sumatra Utara berdiri untuk berbicara. Dia bukan anak jenderal. Ayahnya seorang perwira polisi. Bukan militer. Tapi di ruangan itu, suaranya justru nan paling didengar.
Pada 12 September 1978, sebuah organisasi baru resmi dideklarasikan. Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI). Pemuda tadi didapuk sebagai ketua presidium, sekaligus ketua umum pengurus besar pertamanya. Pemuda itu adalah pemuda nan sama nan mendirikan harian Prioritas dan Metro TV di kemudian hari.
Bayangkan posisinya saat itu. Seorang anak polisi memimpin barisan besar anak-anak tentara. Di masa Orde Baru! Ini bukan kedudukan nan datang dari garis keturunan. Bukan pula dari seragam dinas. Ini murni soal keahlian meyakinkan orang. Merangkul kepentingan nan berbeda-beda. Membangun kepercayaan dari nol.
Jejak nan sama sebenarnya sudah terlihat sejak dia memimpin Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar (KAPPI) di kampung halamannya, Simalungun. Usianya saat itu baru menginjak remaja. Ada sesuatu dalam dirinya nan membikin orang lain rela mengikuti arahannya. Sebuah hatikecil memimpin nan tak bisa diajarkan di bangku sekolah mana pun.
KALAH DI KONVENSI, MENANG DI PRINSIP
Tahun 2004. Ruang konvensi calon presiden Partai Golkar dipenuhi ratusan pengurus wilayah dari seluruh Indonesia. Surya Paloh maju sebagai salah satu kandidat. Ini bukan pertarungan tertutup di ruang elite. Ini kejuaraan terbuka nan mempertaruhkan reputasi di depan publik.
Hasilnya, dia berada di urutan ketiga. Wiranto nan akhirnya maju sebagai calon presiden dari partai beringin. Bagi banyak politisi, kekalahan semacam ini biasanya berujung pada intrik. Atau menyingkir ke ruang gelap. Namun, bukan itu nan dilakukan Surya Paloh. Dia menerima hasil konvensi itu dengan legawa. Baginya, ini bagian dari prinsip nan dia yakini sejak awal. Kekuasaan kudu direbut lewat sistem demokratis nan riil. Lewat bunyi terbanyak. Bukan kompromi di kembali pintu tertutup.
Prinsip itu terus dia bawa hingga ke gedung parlemen di Senayan. Sepanjang kariernya, dia meyakini bahwa bangku kekuasaan sejatinya milik rakyat nan memilih. Bukan segelintir elite nan mengaturnya di belakang layar. Ketika kemudian kehilangan posisi strategisnya di Golkar pasca-Musyawarah Nasional 2009, dia tidak memilih jalan balas dendam. Dia memilih jalan nan jauh lebih berani: membangun panggung baru dari nol.
RUMAH BARU
Tahun 2010. Surya Paloh duduk berbareng beberapa tokoh membicarakan sesuatu nan belum punya nama besar. Sebuah aktivitas nan kelak disebut Nasional Demokrat. Setahun setelahnya, aktivitas itu resmi melahirkan sebuah partai politik: Partai NasDem.
Jargon nan mereka usung sederhana tapi berani: Restorasi Indonesia. Ia bukan sekadar semboyan kampanye. Ini adalah pernyataan sikap seorang yang, ketika rumah lamanya tak lagi cukup menampung pendapat besarnya, memilih keluar. Dia membangun rumah sendiri dari fondasi paling dasar.
Hasilnya tak butuh waktu lama untuk terlihat. Pada pemilu pertamanya tahun 2014, NasDem langsung menembus sepuluh besar. Raihannya 6,72% bunyi nasional.
Lima tahun berikutnya, nomor itu melonjak jadi 9,05% dan menjadi 9,65% di Pemilu 2024. Posisi partai naik dari urutan tujuh menjadi lima besar. Sebuah partai nan lahir dari keteguhan satu orang. Dalam kurang dari satu dekade, dia sukses menjadi kekuatan nan diperhitungkan di Republik ini.
MARTIR DEMOKRASI
Tahun 2014. Di tengah kontestasi menuju bangku presiden, banyak partai memilih bermain aman. Mereka mendukung figur nan sudah mapan dan teruji. Surya Paloh mengambil jalan berbeda. NasDem menjadi partai pertama nan secara terbuka mendukung Joko Widodo. Sosok nan saat itu tetap dianggap wajah baru. Belum teruji di panggung nasional.
Pola serupa terus berulang dalam perjalanannya. Dia memberi support kepada figur-figur seperti Basuki Tjahaja Purnama, Anies Baswedan, hingga Ridwan Kamil. Dalam beragam kontestasi politik, di wilayah maupun nasional. Tidak semua taruhan itu berujung manis. Beberapa berbuah ketegangan koalisi. Bahkan biaya politik nan tidak mini bagi partainya sendiri.
Salah satu momen nan paling menggambarkan karakternya terjadi menjelang pencalonan Anies Baswedan sebagai presiden pada 2024. Kala itu, 1 Oktober 2023. Surya Paloh sedang terbaring sakit di Singapura. Dari ranjang perawatan, dia menerima laporan tentang potensi kriminalisasi terhadap Anies. Responsnya lugas. Tanpa ragu sedikit pun. “Segera kita deklarasikan Anies sebagai calon presiden,” katanya. “Demokrasi kudu kita jaga. Deklarasi ini bakal menjadi tembok dari demokrasi.”
Sehari kemudian dia sudah berada di Jakarta. Padahal tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Di NasDem Tower, dia mengumpulkan beberapa kolega dari partai lain. Di hadapan mereka, dia menyampaikan sikapnya dengan tenang tapi tegas. “Besok bakal saya deklarasikan Anies sebagai capres,” ujarnya. Situasinya mengharuskan demikian. Konsekuensi pasti ada. Namun, inilah pilihan nan bakal saya ambil. Jika Dinda sekalian mau turut bersama, alhamdulillah. Namun, jika tidak, tidak ada masalah.”
Sejarah kemudian mencatat, pascadeklarasi pada 3 Oktober 2024, tekanan politik datang berkali-kali terhadap NasDem dan Surya Paloh sendiri. Namun, di situlah barangkali makna paling dalam dari perjalanan panjangnya. Kesediaan mengambil akibat individual dan institusional demi memberi ruang bagi wajah-wajah baru untuk diuji di panggung demokrasi. Dia tidak berpikir soal menang dan kalah semata. Dia tidak memilih jalur kondusif dan nyaman. Dia memilih menjadi ‘martir demokrasi’, dengan keberanian mengambil sikap di titik nan paling tidak nyaman sekalipun.
EPILOG
Dari seorang remaja penjual ikan asin di Serbelawan hingga pendiri konsorsium media dan partai politik nan diperhitungkan di Republik ini. Perjalanan Surya Paloh adalah kisah tentang seseorang nan terus-menerus memilih berada di garis depan. Bukan di barisan penonton.
Dia berani berwarna ketika bumi memilih hitam putih. Dia berani memimpin ketika legitimasinya dipertanyakan. Dia berani membangun rumah baru ketika rumah lama tak lagi cukup. Dia berani bertaruh pada masa depan, apalagi ketika hasilnya belum pasti.
Itulah nan membuatnya layak disebut sang Alpha Republik. Bukan lantaran dia selalu menang. Tapi lantaran dia selalu berani mengambil posisi di garis depan sejarah bangsanya.
Selamat ulang tahun ke-75, Abangku, Surya Paloh. Engkau adalah narasi dan perjalanan panjang nan bakal terus menginspirasi kami, kaum pergerakan di Indonesia.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·