Saling Tembak di Selat Hormuz, Ini 6 Perkembangan Baru Perang AS-Iran

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membara dengan serangkaian eskalasi terbaru nan mengguncang area Timur Tengah, khususnya di jalur vital daya dunia, Selat Hormuz.

Berikut enam perkembangan terbaru nan merangkum panasnya bentrok tersebut, seperti dihimpun CNBC Indonesia, Selasa (5/5/2026).

1. AS  Tembak Jatuh Rudal Iran, 6 Kapal Dihancurkan

AS mengatakan telah menembak jatuh sejumlah rudal dan drone Iran nan mengarah ke kapal perang serta kapal komersial di area Selat Hormuz, Senin. Dalam operasi itu, militer AS juga menyatakan menghancurkan enam kapal mini milik Teheran.

Kepala Komando Pusat Amerika Serikat, Brad Cooper, mengatakan serangan terjadi saat AS menjalankan misi pengamanan pelayaran berjudul "Proyek Kebebasan". Operasi itu mengenai pengawalan kapal-kapal melewati Selat Hormuz yang diumumkan Presiden Donald Trump, Minggu.

"Helikopter Apache dan Seahawk menghantam enam kapal mini Iran nan menakut-nakuti pengiriman komersial," ujarnya, seperti dikutip AFP.

Ia menambahkan, pasukan AS juga "secara efektif menghadapi semua rudal dan drone nan ditembakkan ke arah kami dan kapal-kapal komersial". Menurut Cooper, sebagian rudal jelajah memang diarahkan ke kapal Angkatan Laut AS, namun kebanyakan serta sejumlah drone justru menargetkan kapal komersial.

"Kami memihak diri kami sendiri dan, sesuai komitmen, kami juga melindungi semua kapal komersial," tegasnya.

Sementara itu, Trump dalam unggahan di platform Truth menyebut total tujuh kapal Iran terdampak serangan. Ia menegaskan belum ada kerusakan besar di Selat Hormuz selain satu kapal Korea Selatan (Korsel) nan terkena dampak.

Di sisi lain, media pemerintah Iran mengutip pejabat militernya nan membantah klaim tersebut. Pejabat Teheran mengatakan "klaim AS bahwa mereka menenggelamkan sejumlah kapal perang Iran adalah salah".

Ketegangan di jalur vital daya bumi ini meningkat sejak bentrok terbuka AS dan Israel dengan Iran pada akhir Februari. Meski AS tidak mengawal langsung kapal, Cooper menyebut pihaknya menerapkan "payung pertahanan berlapis" mulai dari kapal perang, helikopter, pesawat, hingga sistem peringatan awal dan perang elektronik guna memastikan pelayaran tetap melangkah kondusif di area tersebut.

2. Minyak Melonjak, Bursa AS Terseret Tegangan Hormuz

Harga minyak bumi melonjak tajam di tengah memanasnya situasi di Selat Hormuz. Kenaikan dipicu serangan pesawat tak berawak nan memicu kebakaran di akomodasi daya Uni Emirat Arab (UEA), sekaligus memperburuk gencatan senjata rentan antara AS dan Iran.

Kontrak minyak mentah referensi dunia Brent untuk pengiriman Juli tercatat melonjak lebih dari 5% usai serangan di Fujairah. Kementerian Pertahanan UEA menyebut serangan tersebut melibatkan drone dan rudal nan diarahkan dari Iran. 

Di pasar saham, reli Wall Street mulai kehilangan tenaga. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite nan sebelumnya mencetak rekor tertinggi, berbalik melemah lantaran penanammodal melakukan tindakan ambil untung.

"Ketegangan di Timur Tengah menjadi argumen nan sangat baik untuk menarik sebagian uang," ujar analis Briefing.com, Patrick O'Hare.

Meski demikian, pelaku pasar dinilai belum sepenuhnya mengantisipasi skenario terburuk. Ia mengatakan di titik ini, pasar tidak cemas terhadap eskalasi penuh perang Iran.

Sentimen tetap ditopang keahlian solid raksasa teknologi seperti Apple, Google, Microsoft, dan Samsung. Saham-saham itu nan mendorong optimisme terhadap sektor kepintaran buatan.

Di Asia, bursa Seoul dan Taipei justru melesat ke rekor tertinggi, dipimpin lonjakan saham chip seperti SK hynix dan TSMC. Sementara itu, bursa Eropa seperti Paris dan Frankfurt ditutup melemah lebih dari 1%, mencerminkan kekhawatiran penanammodal terhadap akibat geopolitik nan kian memanas.

3. UEA Murka, Serangan Baru Picu Eskalasi di Selat Hormuz

Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengecam "eskalasi berbahaya" menyusul serangan baru nan dituduhkan kepada Iran. Insiden ini terjadi berbarengan dengan tindakan militer Amerika Serikat nan menyatakan telah menghancurkan sejumlah kapal Iran di Selat Hormuz, memperburuk situasi pasca gencatan senjata rentan sejak 8 April.

Trump menyebut Iran sempat "melepaskan beberapa tembakan" tanpa menimbulkan kerusakan besar, selain pada kapal Korea Selatan. Ia menambahkan militer AS telah "menembak jatuh" tujuh kapal mini Iran meski laim ini dibantah Teheran.

"Klaim AS bahwa mereka menenggelamkan sejumlah kapal perang Iran adalah salah," ujar seorang pejabat militer senior Iran, dikutip televisi pemerintah.

Di sisi lain, UEA melaporkan serangan nan menyasar akomodasi daya di Fujairah dan melukai tiga penduduk India. Kementerian Pertahanan UEA menyebut empat rudal jelajah diluncurkan dari Iran, dengan tiga sukses dicegat.

"Ini adalah eskalasi rawan dan kami berkuasa untuk merespons," tegas otoritas UEA. Namun Iran membantah tuduhan tersebut dan justru menyalahkan operasi militer AS di kawasan. "Militer AS kudu bertanggung jawab atas perihal ini," kata pejabat Iran.

Situasi juga berakibat langsung pada keamanan kawasan. Dua orang dilaporkan terluka akibat serangan di Bukha, Oman, sementara militer Israel menyatakan tetap dalam siaga tinggi. CENTCOM menyebut kapal perusak rudal berpemandu sekarang beraksi di Teluk sebagai bagian dari operasi maritim "Proyek Kebebasan" untuk mengawal kapal jual beli keluar dari kawasan.

Memanasnya bentrok turut mendorong lonjakan nilai minyak global, di tengah terganggunya jalur pengedaran daya dunia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan negaranya mau mengakhiri perang, namun menyalahkan AS atas mandeknya negosiasi.

"Pihak lain kudu berkomitmen pada pendekatan nan wajar dan meninggalkan tuntutan nan berlebihan," ujarnya.

4. Iran Bantah Rencana Serang UEA, Tuding Ulah AS

Pemerintah Iran menegaskan tidak mempunyai rencana sebelumnya untuk menyerang akomodasi minyak di Uni Emirat Arab. Pernyataan ini disampaikan televisi pemerintah Iran, menyusul tudingan UEA atas serangan drone di instalasi daya di Fujairah nan melukai tiga penduduk India.

Seorang pejabat militer Iran menyebut kejadian tersebut bukan bagian dari operasi terencana Teheran. Ia justru menuding langkah militer Amerika Serikat sebagai pemicu eskalasi di kawasan, khususnya mengenai aktivitas di Selat Hormuz.

"Republik Islam tidak mempunyai program nan direncanakan sebelumnya untuk menyerang akomodasi minyak tersebut. Apa nan terjadi merupakan hasil dari petualangan militer AS," ujar pejabat tersebut seperti dikutip media pemerintah Iran.

Iran juga mendesak Washington menghentikan pendekatan militer dalam proses diplomasi. Menurutnya, aktivitas militer AS di area daya sensitif berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.

Sementara itu, Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan rencana mengawal kapal-kapal negara netral keluar dari Teluk sebagai misi kemanusiaan. Di sisi lain, ketegangan meningkat setelah Iran menyatakan menembakkan tembakan peringatan ke kapal perang AS, sementara Trump menyebut pasukan AS telah menembak jatuh tujuh kapal militer mini Iran, klaim nan kemudian dibantah Teheran.

5. Trump Ajak Korsel Ikut Misi Hormuz

Presiden AS Donald Trump menyatakan situasi di Selat Hormuz relatif terkendali meski terjadi kejadian tembakan oleh Iran. Ia menegaskan "tidak ada kerusakan" signifikan di jalur vital tersebut, sembari mendorong Korseluntuk berasosiasi dalam misi pengamanan pelayaran.

Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyebut Iran telah "melepaskan beberapa tembakan" ke kapal-kapal nan tidak mengenai konflik. Salah satu nan terdampak adalah kapal kargo Korsel, nan kemudian menjadi argumen Trump mendesak Seoul ikut serta dalam operasi militer tersebut.

"Iran telah melepaskan beberapa tembakan ke negara-negara nan tidak terkait... termasuk Kapal Kargo Korea Selatan. Mungkin sudah saatnya Korea Selatan datang dan berasosiasi dalam misi!" tulis Trump.

"Selain Kapal Korea Selatan, saat ini, tidak ada kerusakan nan terjadi di Selat tersebut."

Situasi ini mengguncang gencatan senjata nan sebelumnya sudah rapuh, di tengah meningkatnya ketegangan area dan lonjakan nilai minyak global. Trump juga tidak menyinggung laporan serangan nan diduga menyasar Uni Emirat Arab dan Oman, nan dinilai sebagai upaya meredam eskalasi lebih lanjut.

Di sisi lain, Trump menyatakan pasukan AS telah menembak jatuh tujuh kapal militer mini Iran. Pernyataan ini sedikit berbeda dengan keterangan pejabat militer AS sebelumnya nan menyebut enam kapal hancur, sementara Teheran membantah tidak ada kapal mereka nan tenggelam.

6. Hezbollah Bentrok Lagi dengan Israel di Lebanon

Kelompok militan Hezbollah menyatakan terjadi bentrok sengit dengan pasukan Militer Israel di wilayah Lebanon selatan, Senin (4/5/2026) waktu setempat, meski gencatan senjata rentan telah bertindak sejak 17 April. Insiden ini terjadi di dekat perbatasan, tepatnya di sekitar kota Deir Seryan.

Dalam pernyataannya, Hezbollah menyebut pasukannya melepaskan tembakan setelah tentara Israel mencoba maju ke wilayah tersebut.

"Para pejuang kami melepaskan tembakan ke arah pasukan musuh dan terlibat dalam bentrok dahsyat dengan mereka," demikian pernyataan resmi golongan itu. Sementara itu, pihak militer Israel mengonfirmasi adanya kontak senjata jarak dekat.

Militer Israel menyatakan dua tentaranya mengalami luka sedang akibat bentrok tersebut. "Sebelumnya hari ini, dua tentara IDF terluka akibat bentrok jarak dekat dengan teroris Hezbollah di Lebanon selatan," tulis pernyataan resmi, seraya menambahkan bahwa para korban telah dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Ketegangan juga meningkat setelah media pemerintah Lebanon, National News Agency, melaporkan lebih dari 20 serangan udara Israel menghantam sejumlah letak di Lebanon selatan, termasuk wilayah nan sebelumnya diperintahkan untuk dikosongkan. Militer Lebanon menyebut seorang perwira dan satu tentara mengalami luka ringan akibat serangan di kota Kafra.

Berdasarkan info Kementerian Kesehatan Lebanon, sejak bentrok terbaru pecah pada 2 Maret, nyaris 2.700 orang tewas dan lebih dari 8.200 lainnya terluka. Meski ada kesepakatan gencatan senjata, Israel menyatakan tetap berkuasa mengambil tindakan terhadap ancaman nan dianggap bakal terjadi alias sedang berlangsung.

(tfa/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News