Euforia pasar terhadap perusahaan nan baru melantai di bursa mulai mereda setelah keahlian sejumlah saham IPO mengecewakan. Penurunan tajam saham SpaceX dari level tertingginya pasca penawaran umum perdana (IPO) hingga jatuh di bawah nilai IPO dalam waktu sekitar satu bulan ikut menyeret keahlian rata-rata saham IPO di Amerika Serikat tahun ini.
Data Bloomberg hingga 15 Juli menunjukkan rata-rata imbal hasil tertimbang IPO AS sepanjang 2026 hanya mencapai 6 persen, tertinggal dari kenaikan Indeks S&P 500 nan mencapai 11 persen. Tanpa memperhitungkan transaksi jumbo seperti SpaceX dan SK Hynix, rata-rata imbal hasil IPO sepanjang 2026 berada di kisaran 10 persen hingga penutupan perdagangan 15 Juli, tetap sedikit tertinggal dibandingkan keahlian S&P 500.
Tekanan tidak hanya datang dari SpaceX, tetapi juga saham-saham bertema kepintaran buatan (AI), kedirgantaraan, dan pertahanan nan sebelumnya menjadi primadona investor. Pelemahan tersebut turut mengurangi daya tarik pasar IPO setelah kebanyakan perusahaan nan melantai dalam dua bulan terakhir sekarang diperdagangkan di bawah nilai penawaran perdananya.
Saham SpaceX sendiri turun 2,97 persen pada Kamis dan mencatat penurunan delapan kali dalam sembilan sesi perdagangan terakhir. Koreksi tersebut memangkas sekitar USD 903 miliar dari nilai kapitalisasi berasas nilai penutupan tertingginya bulan lalu.
Sementara itu, saham SK Hynix Inc., nan menghimpun biaya USD 26,5 miliar dalam IPO terbesar pekan lalu, juga melemah sekitar 12 persen sehingga hanya diperdagangkan sedikit di atas nilai penawaran ADR sebesar USD 149 per saham.
Volatilitas pasar dalam sebulan terakhir turut mendorong penanammodal mengurangi eksposur pada sektor-sektor nan sebelumnya menjadi favorit. Selama periode tersebut, S&P 500 hanya naik sekitar 0,3 persen, sedangkan Indeks Semikonduktor Philadelphia Stock Exchange turun sekitar 11 persen. Di saat nan sama, golongan saham momentum juga terkoreksi lebih dari 8 persen.
Salah satu Kepala Pasar Modal Ekuitas AS di Royal Bank of Canada, Michael Ventura, menilai aktivitas IPO dalam waktu dekat diperkirakan tidak bakal seramai perkiraan sebelumnya.
"Akan ada transaksi nan diluncurkan dan ditetapkan harganya, tetapi di luar nama-nama besar, situasinya bakal lebih tenang," kata Ventura.
Senada, Kepala Pasar Modal Ekuitas Global Morgan Stanley, Eddie Molloy, mengatakan tren tersebut memang sudah mulai diperkirakan.
"Kami mempunyai momentum nan sangat besar dengan tema AI nan menyebabkan kesepakatan diperdagangkan dengan baik sejak awal, tetapi dengan pasar nan diperdagangkan seperti sekarang, momentum tersebut bakal sedikit berkurang, dan itu memang sudah diperkirakan," ungkapnya.
Investor Mulai Lirik Sektor Konsumen
Di tengah pelemahan sektor AI, penanammodal diperkirakan mulai melirik perusahaan nan bergerak di sektor konsumen. Beberapa kandidat IPO seperti Jersey Mike's Subs Inc. nan didukung Blackstone dan operator SPBU serta toko serba ada Cumberland Farms Ltd. diperkirakan mulai memasarkan penawaran sahamnya paling sigap pekan depan.
Meski begitu, keahlian IPO sektor konsumen sepanjang tahun ini juga belum merata. Saham Suja Life Inc. telah turun sekitar 48 persen sejak melantai di bursa, sementara Yesway Inc. hanya mencatat kenaikan sekitar 3,3 persen.
Prospek pasar IPO pada paruh kedua tahun ini tetap dinilai terbuka. Bloomberg News sebelumnya melaporkan Anthropic PBC berpotensi melaksanakan IPO paling sigap pada Oktober mendatang sehingga berkesempatan kembali menghidupkan pasar pencatatan saham baru.
Pendapatan Bank Investasi Justru Meningkat
Di sisi lain, bank-bank investasi terbesar di Wall Street baru saja membukukan pendapatan konsultasi penawaran saham tertinggi untuk kuartal II sejak 2021. Capaian tersebut didorong oleh IPO SpaceX nan memecahkan rekor serta derasnya penggalangan biaya untuk proyek-proyek prasarana AI.
Berdasarkan info Bloomberg, perusahaan-perusahaan telah menghimpun biaya sekitar USD 157 miliar hingga 16 Juli, tidak termasuk perusahaan cek kosong (SPAC) dan instrumen finansial sejenis. Para bankir juga tetap optimistis aktivitas IPO bakal kembali meningkat setelah libur Hari Buruh pada September.
Kepala ECM Global Morgan Stanley, Arnaud Blanchard, mengatakan gejolak pasar memang memengaruhi aktivitas IPO, tetapi belum mengubah prospek jangka menengah.
"Apakah ada volatilitas di pasar nan lebih luas dan itu berakibat pada pasar IPO? Ya. Tetapi secara keseluruhan kami tidak memandang penurunan minat terhadap kesepakatan nan kami perkirakan bakal masuk ke pasar dalam beberapa kuartal mendatang," kata Blanchard.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·