Saat Membagikan Rapor, Guru Seharusnya Menceritakan Anak

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi bu pembimbing sedang menceritakan tumbuh kembang anak didiknya (unsplash)

Beberapa tahun lalu, seorang ibu datang mengambil rapor anaknya dengan wajah tegang. Setelah kami saling menyapa, pertanyaan pertama nan dia ajukan bukan tentang gimana anaknya belajar di kelas, bukan pula tentang gimana dia berbaur dengan teman-temannya.

"Pak, ranking anak saya berapa?"

Saya memahami pertanyaan itu. Hampir semua orang tua mau mengetahui posisi akademik anaknya. Namun setelah pertemuan itu selesai, saya justru membawa pulang pertanyaan lain: kenapa ketika rapor dibagikan, nan paling sering kita bicarakan adalah angka, sementara anaknya sendiri nyaris tidak dibicarakan?

Pertanyaan itu kembali muncul setiap kali musim pembagian rapor tiba.

Menjelang akhir semester, banyak pembimbing sibuk memeriksa nilai, menyusun penjelasan capaian belajar, dan memastikan seluruh manajemen selesai tepat waktu. Namun semakin lama saya mengajar, semakin saya merasa bahwa tugas terpenting pembimbing kelas bukanlah membagikan rapor.

Tugas terpenting pembimbing adalah menceritakan anak.

Sebab rapor sesungguhnya sudah berbincang melalui nomor dan huruf. Orang tua dapat membaca sendiri nilai Matematika, Bahasa Indonesia, alias IPA. Mereka dapat mengetahui apakah nilai anak naik alias turun dibanding semester sebelumnya. Akan tetapi ada satu perihal nan tidak pernah bisa dituliskan secara utuh oleh rapor: perjalanan seorang anak selama satu tahun.

Padahal selama satu tahun itulah pembimbing menyaksikan hal-hal nan tidak terlihat di atas kertas. Guru memandang seorang anak nan pada awal tahun tidak pernah berani berbincang di depan kelas, lampau perlahan mulai mengangkat tangan dan menyampaikan pendapatnya. Guru memandang anak nan mudah menangis ketika menghadapi kesulitan, kemudian belajar memperkuat dan mencoba lagi. Guru menyaksikan siswa nan dulu sering berbeda dengan teman-temannya, lampau perlahan belajar meminta maaf dan bekerja sama.

Semua pertumbuhan itu sering kali jauh lebih krusial daripada selisih beberapa poin pada nilai ujian.

Menariknya, intuisi nan dimiliki banyak pembimbing ini rupanya sejalan dengan penelitian pendidikan. John Hattie dan Helen Timperley (2007) menunjukkan bahwa umpan kembali nan paling efektif bukanlah nan hanya menyampaikan hasil akhir, melainkan nan membantu peserta didik memahami proses kemajuan mereka dan langkah berikutnya nan perlu ditempuh. Dengan kata lain, pembelajaran berkembang bukan lantaran anak mengetahui nilainya semata, tetapi lantaran dia memahami gimana dirinya bertumbuh.

Di sinilah letak keterbatasan rapor. Angka bisa menunjukkan hasil, tetapi tidak bisa sepenuhnya menceritakan proses. Sementara pendidikan sejatinya lebih banyak terjadi dalam proses daripada hasil itu sendiri.

Karena itu, pembagian rapor semestinya dipandang sebagai ruang perbincangan antara sekolah dan keluarga. Guru perlu membantu orang tua memandang anak mereka secara lebih utuh, bukan hanya sebagai kumpulan nilai, tetapi sebagai manusia nan sedang bertumbuh.

Ketika seorang orang tua duduk di hadapan guru, mungkin nan paling perlu didengar bukanlah penjelasan kenapa nilai Bahasa Indonesia anaknya 85 alias kenapa nilai Matematikanya 78. nan lebih berarti adalah ketika pembimbing berkata, "Bu, selama satu tahun ini saya memandang anak Ibu semakin percaya diri." Atau, "Pak, saya bangga lantaran anak Bapak sekarang jauh lebih berani mencoba meskipun belum tentu berhasil."

Kalimat-kalimat seperti itu sering kali membekas jauh lebih lama daripada nomor rapor.

Penelitian Claudia Mueller dan Carol Dweck (1998) memberikan penjelasan nan menarik mengenai perihal ini. Mereka menemukan bahwa anak-anak nan mendapatkan apresiasi atas upaya dan proses belajarnya condong lebih tekun, lebih tahan menghadapi kegagalan, dan lebih berani mengambil tantangan dibanding anak-anak nan hanya dipuji lantaran kecerdasannya. Ketika pembimbing mengakui keberanian, ketekunan, alias upaya seorang anak, pembimbing sesungguhnya sedang memperkuat fondasi nan bakal membantu anak terus belajar sepanjang hidupnya.

Tentu bukan berfaedah nilai akademik tidak penting. Nilai tetap dibutuhkan sebagai info tentang perkembangan belajar anak. Namun pendidikan tidak pernah hanya berbincang tentang akademik. Sekolah juga merupakan tempat anak belajar menjadi manusia: belajar bertanggung jawab, menghargai orang lain, mengelola emosi, menghadapi kegagalan, dan mengenali dirinya sendiri.

Sayangnya, aspek-aspek tersebut sering kali tidak mendapat ruang nan cukup ketika rapor dibagikan. Pertemuan antara pembimbing dan orang tua akhirnya berubah menjadi obrolan tentang nomor semata. Padahal nan sering kali dibutuhkan orang tua adalah pemahaman nan lebih dalam tentang siapa anak mereka saat ini dan gimana mereka dapat mendampinginya di rumah.

Seorang pembimbing kelas nan baik sesungguhnya menyimpan banyak cerita tentang murid-muridnya. Ia mengetahui perjuangan nan tidak terlihat, keberanian-keberanian mini nan muncul setiap hari, serta perubahan-perubahan nan mungkin tidak disadari oleh orang tua. Ketika cerita-cerita itu disampaikan, rapor tidak lagi menjadi perangkat penilaian semata, melainkan menjadi jembatan antara sekolah dan family dalam memahami anak.

Pada akhirnya, nan bakal diingat anak bertahun-tahun kemudian bukanlah nomor nan tercetak di rapornya. nan bakal mereka ingat adalah orang-orang dewasa nan memandang upaya mereka, menghargai pertumbuhan mereka, dan percaya pada potensi mereka.

Maka ketika musim pembagian rapor tiba, mungkin kita perlu mengingat kembali bahwa rapor hanyalah dokumen. Sementara anak adalah cerita nan jauh lebih besar. Dan tugas pembimbing kelas bukan sekadar membagikan rapor, melainkan membantu orang tua membaca cerita nan ada di baliknya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan