Saat Desa Bukan Lagi Objek Pembangunan, tapi Penggerak Perubahan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Campus Roadshow: Desa sebagai Episentrum Perubahan: Menggerakkan Dampak dari Akar ke Skala Nasional. Dok. kumparan.

Bagaimana jika solusi atas persoalan di desa justru tidak datang dari kota, melainkan lahir dari warganya nan setiap hari berhadapan langsung dengan masalah tersebut?

Di satu tempat, masyarakat membangun akses internet secara mandiri. Di tempat lain, sekolah menjadi ruang perjumpaan bagi anak-anak dari beragam latar belakang.

Sementara itu, potensi pertanian dan kelautan mulai diolah agar tidak hanya berakhir sebagai bahan mentah, tetapi berkembang menjadi sumber penghidupan baru.

Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa desa bukan ruang nan pasif. Desa mempunyai pengetahuan, sumber daya, dan orang-orang nan bisa membaca persoalan di sekitarnya dengan lebih dekat.

Namun, menciptakan satu penemuan belum tentu cukup.

Banyak program berakhir setelah masa pendampingan selesai. Ada pula aktivitas nan susah memperkuat lantaran terlalu berjuntai pada satu tokoh. Sebagian lainnya sukses di satu wilayah, tetapi tidak mudah diterapkan di wilayah berbeda.

Lalu, apa nan membikin sebuah inisiatif lokal dapat bertahan? Bagaimana sebuah solusi nan lahir dari desa bisa berkembang, direplikasi, dan memberi akibat hingga skala nasional?

Pertanyaan tersebut bakal menjadi pembahasan utama dalam obrolan panel “Desa sebagai Episentrum Perubahan: Menggerakkan Dampak dari Akar ke Skala Nasional” nan digelar Astra berbareng IPB University.

Acara ini bakal berjalan pada Jumat, 17 Juli 2026, pukul 08:00–11:00 WIB, di Auditorium Andi Hakim Nasution, IPB University.

Forum tersebut bakal mempertemukan tiga narasumber dengan pengalaman berbeda, tetapi mempunyai satu benang merah nan sama: mendorong masyarakat desa menjadi pelaku utama perubahan.

Perspektif teknologi, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, hingga pengembangan ekonomi bakal dibahas untuk memandang gimana buahpikiran lokal dapat tumbuh menjadi aktivitas nan lebih luas.

Kegiatan bakal dibuka oleh Dr. Alim Setiawan Slamet, S.TP., M.Si., Rektor IPB University, serta Yudha Prasetya, Head of Brand Communications Astra. Dari sisi teknologi, datang Onno W. Purbo, Pakar Teknologi Informasi sekaligus Juri 17th SATU Indonesia Awards 2026.

Onno dikenal sebagai salah satu penggerak kemandirian teknologi di Indonesia. Melalui pendapat seperti RT/RW-net dan penggunaan teknologi terbuka, dia menunjukkan bahwa akses digital tidak selalu kudu menunggu pembangunan besar dari pusat.

Dalam obrolan ini, Onno bakal mengulas kapan teknologi betul-betul membantu masyarakat desa dan kapan teknologi justru menjadi solusi nan tidak sesuai kebutuhan. Ia juga bakal membahas gimana organisasi dapat bergerak dari sekadar pengguna menjadi pihak nan bisa memahami, mengelola, apalagi mengembangkan teknologinya sendiri.

Perubahan dari jalur pendidikan dan pemberdayaan masyarakat juga bakal dibawa oleh Ai Nurhidayat, Penerima Apresiasi SATU Indonesia Awards 2019 sekaligus Penggerak Desa Sejahtera Astra Cintakarya Pangandaran.

Perjalanan Ai bermulai dari SMK Bakti Karya Parigi nan dikenal melalui kelas multikultur. Sekolah tersebut mempertemukan pelajar dari beragam wilayah dan latar belakang, lampau berkembang menjadi pintu masuk bagi transformasi nan lebih luas di Desa Cintakarya.

Gerakannya tidak hanya menyentuh pendidikan, tetapi juga kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan. Desa tersebut kemudian dikenal sebagai Kampung Moderasi Beragama dan Kampung Pancasila.

Melalui pengalamannya, Ai bakal membahas satu persoalan nan sering luput dalam program pembangunan: gimana membikin penduduk merasa mempunyai aktivitas tersebut.

Sebab, perubahan bakal susah memperkuat ketika masyarakat hanya diposisikan sebagai penerima. Sebaliknya, ketika penduduk ikut merancang, menjalankan, dan meneruskan program, sebuah inisiatif mempunyai kesempatan lebih besar untuk terus hidup meski sosok penggeraknya tidak selalu berada di depan.

Sementara itu, Dr. Handian Purwawangsa, Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship alias LPA2I IPB University, bakal membawa perspektif dari bumi riset dan pengembangan ekonomi desa.

Banyak desa mempunyai hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan sumber daya alam nan melimpah. Persoalannya, potensi tersebut kerap dijual dalam corak mentah sehingga nilai tambahnya tetap rendah.

Handian bakal membahas gimana riset kampus dapat membantu menjawab persoalan tersebut. Bukan dengan membawa solusi siap pakai dari luar, melainkan dengan bekerja berbareng masyarakat untuk mengembangkan produk, memperkuat usaha, membuka akses pasar, dan memastikan pertumbuhan ekonomi tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Diskusi ini juga bakal membedah kesalahan nan sering terjadi dalam program pembangunan desa. Misalnya, solusi nan tidak sesuai konteks lokal, ketergantungan pada pendanaan jangka pendek, minimnya kaderisasi, hingga program nan selesai berbarengan dengan berakhirnya proyek.

Karena itu, pembahasan tidak bakal berakhir pada kisah sukses mereka. Para narasumber juga bakal mengulas peran pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, media, dan organisasi dalam membangun ekosistem nan memungkinkan sebuah inisiatif tumbuh secara berdikari dan berkelanjutan.

Forum ini ditujukan bagi mahasiswa, akademisi, penggerak komunitas, pelaku usaha, dan masyarakat nan tertarik pada rumor pembangunan desa, penemuan sosial, teknologi, serta pemberdayaan masyarakat.

Bukan hanya untuk memandang apa nan telah sukses dilakukan, tetapi juga memahami proses di baliknya: dari mengenali masalah, membangun kepercayaan warga, mengembangkan solusi, hingga memperluas dampak.

Pendaftaran telah dibuka. Daftarkan diri melalui http://kum.pr/CampusRoadshowIPB dan ikuti obrolan tentang gimana perubahan besar dapat tumbuh dari desa, bergerak dari akar, lampau menjangkau Indonesia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan