Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah membikin perajin tahu Putra Laksana di Kampung Karang kawitan, Kecamatan Mangkubumi, tetap beraksi secara normal dan terpaksa mengurangi produksi dengan menaikan nilai tahu per biji secara serentak ag(MI/Kristiadi)
RATUSAN perajin tahu tempe mulai terpuruk nan disebabkan nilai rupiah melemah dan terpaksa mereka mengurangi produksi hingga menaikan nilai lantaran kebutuhan bahan baku kedelai impor merangkak naik Rp 11.100 ribu perkg. Kenaikan tersebut, membikin sejumlah perajin kudu menaikan nilai tahu perbiji Rp 50 hingga Rp 100 rupiah.
Anggota Himpunan Perajin tahu dan tempe Tasikmalaya, Imin Muslimin, mengatakan, kenaikan nilai kedelai impor nan terjadi disebabkan melemahnya nilai tukar rupiah Rp 18.066 per dolar Amerika Serikat (AS) membikin para perajin tahu tempe sangat berat dan tidak bisa produksi seperti biasanya. Kenaikan kedelai membikin seluruh pabrik maupun perajin di Tasikmalaya terpaksa kudu mengurangi produksi dan menaikan harga.
"Kenaikan nilai kedelai impor membikin 400 pabrik maupun perajin nan tersebar di Kota, Kabupaten Tasikmalaya terpaksa mengurangi produksi semula 4 kwintal dan sekarang menjadi 3 kwintal. Karena, nilai kacang kedelai semula dijual Rp 9.200 perkg naik Rp 11.100 perkg dan untuk penjualan ke pasar tradisional selama ini tetap normal tapi harganya naik Rp 50 hingga Rp 100 rupiah dan ukuran tidak ada perubahan," ujar, Imin Muslimin, Jumat (5/6/2026).
Menurut Imin, melemahnya nilai rupiah ini menyebabkan kebutuhan nilai bahan baku kacang kedelai sangat dirasakan para perajin tahu tempe di Tasikmalaya, lantaran harganya tinggi tidak sebanding dengan produksi. Namun, produksi tahu sekarang adanya pengurangan produksi 1 kwintal tapi ukuran tetap dan harganya naik Rp 50 hingga Rp 100 per biji dilakukan secara serentak setiap para perajin lantaran jika tidak dipaksakan bakal mengalami kerugian.
"Kami belum ada rencana mogok kerja bagi para perajin dan langkah sekarang hanya menaikan nilai untuk ukuran mini semula Rp 450 naik Rp 500 perbiji, ukuran sedang Rp 550 naik Rp 600, ukuran besar Rp 1000 naik Rp 1100 per biji. Akan tetapi, kenaikan nan lainnya terjadi imbas dari geopolitik di Timur tengah nilai plastik semula Rp 720 perball naik Rp 1 juta perball," katanya.
Menurutnya, para perajin tahu tempe nan ada di Tasikmalaya kebingungan lantaran beragam kebutuhan merangkak naik cukup tinggi seperti bahan bakar kayu semula Rp 1,6 juta menjadi Rp 1,8 juta per truk, garam kerosok semula perkarung 50 kg semula dijual Rp 90 ribu naik Rp 150 ribu, kunyit semula Rp 5500 naik Rp 9.500 perkg. Akan tetapi, pemakaian listrik 5500 watt di bulan Mei adanya kenaikan biasanya Rp 1.450.000 menjadi Rp 1.672.000.
"Kenaikan kebutuhan bahan baku termasuk nan lain terpaksa mengurangi pekerja semula 8 orang dan sekarang hanya 5 orang, tapi sistem nan dilakukan secara roling setiap hari lantaran tidak sanggup bayar upah. Namun, keberadaan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Makan Bergizi Gratis di Kecamatan Mangkubumi mereka menekan hingga mencari nilai murah," pungkasnya. (AD)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·