Isu mengenai penyakit campak kembali menjadi perhatian masyarakat. Di tengah kekhawatiran tersebut, muncul pertanyaan, apakah anak-anak dengan kondisi unik seperti autisme alias disabilitas, mempunyai akibat lebih tinggi untuk terkena campak?
Menurut Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi, dr. Arifianto, Sp.A(K), tidak ada perbedaan akibat antara anak dengan disabilitas dan anak tanpa disabilitas dalam perihal jangkitan campak.
Risiko Campak pada Anak Disabilitas
Campak merupakan penyakit jangkitan nan sangat menular. Namun, krusial untuk dipahami bahwa:
-Anak dengan disabilitas fisik
-Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD)
-Anak tanpa kondisi khusus
semuanya mempunyai potensi nan sama untuk terinfeksi campak. Artinya, kondisi disabilitas tidak membikin seorang anak menjadi lebih rentan terhadap penyakit ini dibandingkan anak lainnya.
“Memiliki potensi nan sama untuk terinfeksi dan sakit campak. Tidak ada bedanya,” katanya dalam aktivitas memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia, Sabtu (4/4) di Depok, Jawa Barat.
Keamanan Vaksin dan Investigasi Efek Samping
Kekhawatiran lain nan sering muncul di masyarakat adalah mengenai keamanan vaksin, terutama mengenai kemungkinan pengaruh samping berat seperti kelumpuhan.
Dalam praktik medis, setiap kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI), terutama nan tergolong serius, selalu ditindaklanjuti dengan investigasi menyeluruh. Proses ini dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat puskesmas hingga ke tingkat nasional.
Hasil dari beragam investigasi tersebut menunjukkan bahwa:
1. Tidak ditemukan hubungan sebab-akibat antara vaksin dengan kelumpuhan
2. Kasus-kasus nan terjadi umumnya mempunyai aspek lain alias penyakit penyerta
3. Penyebab kondisi berat pada anak selalu dapat ditelusuri di luar vaksin
“Jadi sejauh ini belum pernah ada bukti bahwa vaksin menyebabkan penyakit berat pada seseorang. Dari hasil investigasi, selalu ditemukan penyebab lain di luar vaksin,” tegas dr. Arifianto.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·