RI Siap Impor 150 Juta Barel Minyak Rusia, Cukupi Kebutuhan Sampai Akhir 2026

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, di kantornya, Jakarta, Jumat (24/4/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, mengungkapkan rencana impor minyak dari Rusia tetap berada pada tahap awal. Total impor nan direncanakan mencapai sekitar 150 juta barel itu untuk memenuhi kebutuhan daya nasional hingga akhir 2026.

Yuliot menjelaskan kesepakatan impor dari Rusia merupakan hasil pembahasan dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia dan berjumpa dengan Presiden Vladimir Putin di Kremlin pada 13 April lalu.

“Nah untuk ini komitmen impor minyak dari Rusia ini kan baru negosiasi kemarin kan sudah disepakati total nan bakal kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun,” ujar Yuliot kepada wartawan di instansi Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4).

Yuliot menjelaskan saat ini pemerintah tetap menyusun instrumen penyelenggaraan impor, termasuk menentukan pihak nan bakal melakukan pengadaan, apakah melalui BUMN alias skema Badan Layanan Umum (BLU).

“Apakah langsung Badan Usaha Milik Negara alias ini ada BLU? Ini dua opsi ini lagi kita siapkan payung regulasinya,” terang Yuliot.

Yuliot menilai masing-masing opsi mempunyai akibat berbeda, baik dari sisi pembiayaan maupun sistem pengadaan. Jika dilakukan oleh BUMN, prosesnya kudu mengikuti sistem tender, sementara skema nan direncanakan dengan Rusia berkarakter government to government (G2G).

Yuliot menjelaskan minyak impor tidak bakal diserap sepenuhnya oleh Pertamina, tetapi juga bisa dimanfaatkan oleh sektor industri dan aktivitas tambang, termasuk sebagai bahan baku petrokimia.

“Ini kan juga ini ada industri juga ya kemudian ada aktivitas tambang juga jadi kan tidak mengenai dengan ini sepanjang kebutuhan dalam negeri ini kan kita bisa distribusikan untuk bahan baku petrokimia kan juga diperlukan juga,” tutur Yuliot.

Terkait skema impor, Yuliot memastikan pengadaannya dilakukan bertahap, mengingat keterbatasan kapabilitas penyimpanan dalam negeri.

“Kalau sekaligus itu kan kita memerlukan oil storage di dalam negeri, itu bakal dilakukan impor secara bertahap. nan perlu kita tekankan kan ada dua komitmen impor kita. nan pertama adalah crude, nan kedua adalah LPG,” ujar Yuliot.

Namun, untuk impor LPG dari Rusia, belum ada volume impor secara pasti.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan