RI Gandeng Swiss & Jerman Cetak SDM Industri Berstandar Global

Sedang Trending 6 hari yang lalu

Jakarta -

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bekerja sama dengan Pemerintah Swiss dan Jerman untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) industri nasional ke tingkat global. Kerja sama tersebut dijalin melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) dengan State Secretariat for Economic Affairs (SECO) dan Swisscontact serta Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH.

Kolaborasi ini bakal difokuskan untuk mengakselerasi standar kompetensi SDM industri nasional melalui pendidikan vokasi sekaligus memperkokoh rekam jejak kemitraan strategis Indonesia nan telah terbangun lama. Hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss sendiri telah terjalin sejak 1951, sementara hubungan bilateral dengan Jerman terjalin sejak 1952.

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan transformasi digital, pesatnya perkembangan kepintaran buatan, otomatisasi, transisi ekonomi hijau, hingga dinamika rantai pasok dunia menuntut SDM nan adaptif, inovatif, serta berbudi pekerti pembelajar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Karena itu, penguatan pendidikan dan training vokasi menjadi prioritas nasional dan merupakan fondasi utama pembangunan SDM industri," ungkap Agus dalam keterangan tertulis, Selasa (21/7/2026).

BPSDMI sendiri diketahui telah menggandeng kedua negara mitra ini sejak 2018. Kerja sama tersebut diwujudkan melalui program Skills for Competitiveness (S4C) berbareng SECO dan support GIZ Jerman dalam reformasi sistem pendidikan dan training vokasi (TVET System Reform) di Indonesia.

Komitmen jangka panjang ini sekarang bersambung melalui program S4C Fase 2 berbareng Swisscontact, serta program Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation (GESIT) pendampingan GIZ. BPSDMI berbareng Swiss dan Jerman juga resmi menggelar National Dual Vocational Education and Training (DVET) 2026 pada Selasa-Kamis, 21-23 Juli 2026 di Jakarta.

Kepala BPSDMI, Doddy Rahadi, mengatakan beberapa tahun terakhir kerjasama strategis antar negara ini berakibat nyata bagi ekosistem pendidikan vokasi industri. Dampak positif ini mencakup hibah peralatan praktik modern di unit pendidikan, peningkatan kapabilitas tenaga pendidik dan peserta didik, hingga penguatan kelembagaan dan perangkat sesuai dengan standar manufaktur terkini.

"Yang tidak kalah penting, kita sukses membangun sebuah budaya baru, ialah budaya kolaborasi. Sekolah dan industri tidak bisa lagi melangkah sendiri-sendiri; keduanya kudu menjadi mitra nan setara dalam mencetak talenta masa depan," ujar Doddy.

Dalam kesempatan nan sama, Head of Cooperation SECO, Violette Ruppanner, berkomitmen memperkuat ekosistem vokasi Indonesia. Ia menegaskan, investasi pada keahlian setara dengan berinvestasi pada manusia, bisnis, dan daya saing ekonomi.

"Sepanjang kemitraan ini, kita mempunyai satu ambisi sederhana: mendekatkan bumi pendidikan dan industri. Ketika perusahaan aktif membantu menyusun kurikulum, menyediakan magang terstruktur, dan berinvestasi pada talenta masa depan, semua pihak bakal diuntungkan," tegas Violette.

Sementara Deputy Country Director GIZ, Shameer Khanal, turut menyoroti pentingnya konsentrasi pada peningkatan kualitas SDM untuk mendukung perubahan industri. Menurutnya, transisi industri hijau tidak dapat sukses tanpa tenaga kerja nan terampil.

"Kegiatan hari ini adalah tentang berinvestasi pada manusia. Sebab, tidak ada transisi hijau nan dapat sukses tanpa tenaga kerja nan dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan nan tepat. Hal ini mencerminkan kepercayaan berbareng kita bahwa transformasi nan sukses hanya dapat dicapai melalui kemitraan," kata Shameer.

(ahi/ara)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance