Reli Harga Minyak Berlanjut, Impor hingga Rupiah Berpotensi Tertekan

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Reli Harga Minyak Berlanjut, Impor hingga Rupiah Berpotensi Tertekan KILANG PERTMINA UNIT CILACAP MAMPU OLAH MINYAK 348 RIBU BAREL PER HARI: Lanskap unit Kilang Langit Biru Cilacap (KLBC) nan dikelola PT Kilang Pertamina Internasional Unit Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (24/10/2024).(MI/Ramdani)

PENELITI Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Riza Annisa Pujarama menilai kenaikan harga minyak bumi nan bersambung di tengah memanasnya bentrok Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi memberikan tekanan baru bagi perekonomian Indonesia. 

Sebagai negara nan tetap mengimpor minyak, Indonesia menghadapi akibat meningkatnya nilai impor, pelemahan rupiah, hingga tekanan inflasi andaikan reli nilai minyak terus berlanjut.

Berdasarkan Refinitiv pukul 09.20 WIB, Rabu (15/7), nilai minyak brent naik 1,17% menjadi US$85,72 per barel dari penutupan sebelumnya di US$84,73 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,98% menjadi US$80,12 per barel dari posisi US$79,34 per barel.

"Peningkatan nilai minyak bakal mendorong peningkatan nilai impor. Hal ini terlihat di neraca perdagangan kita nan defisit. Dampak lanjutannya ada potensi depresiasi rupiah dan inflasi," ujar Riza kepada Media Indonesia, Rabu (15/7).

Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri tren surplus selama 72 bulan berturut-turut nan telah berjalan sejak Mei 2020. Penyebab utama defisit neraca perdagangan Mei 2026 adalah lonjakan impor BBM dan komoditas migas.

Meski demikian, Riza menilai kenaikan nilai BBM di dalam negeri tidak bakal terjadi secara otomatis. Hal ini, katanya, bakal berjuntai pada seberapa lama nilai minyak memperkuat di level tinggi dan apakah telah melampaui dugaan nilai minyak dalam anggaran pendapatan dan shopping negara (APBN). Jika sudah di atas dugaan makro sebernya perlu menjadi perhatian.

"Tapi, untuk bisa mencapai tahap ancaman mungkin seperti kemarin ya, nan sudah mencapai US$100 per barel itu bakal berat buat APBN," ucapnya. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia