Setiap pagi seorang pedagang sayur menyalakan sepeda motornya. Di kanan-kiri joknya tergantung keranjang berisi buah dan sayuran. Ia tidak mengerti kata inflasi, nilai tukar, suku bunga, alias tekanan global. Namun, semua istilah itu datang dalam corak nilai kulakan nan naik, bensin nan kudu diisi, naiknya kembang cicilan, dan pembeli nan makin keras menawar.
Di tempat lain seorang pekerja menghitung ulang biaya transportasi. Naik ojek lebih sigap tetapi makin mahal. Membawa kendaraan sendiri lebih elastis tetapi ada biaya bensin, parkir, dan tol. Naik sepeda mungkin sehat dan murah, tetapi jalannya belum selalu aman. Pilihan mobilitas bukan hanya soal jarak dan kenyamanan tapi juga tentang biaya.
Ekonomi seumpama sepeda, tidak jatuh selama tetap bergerak dan bakal jatuh ketika berakhir alias kehilangan keseimbangan.
Di atas kertas ekonomi Indonesia tetap bergerak. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia triwulan I-2026 tumbuh 5,61% (yoy). Angka itu menunjukkan perkembangan nan kuat di tengah tekanan global. Di saat nan sama BI-Rate dinaikkan 50 pedoman poin menjadi 5,25% sebagai langkah menjaga stabilitas rupiah dan inflasi dari akibat gejolak global. Dengan kata lain, ekonomi kita tetap mengayuh tetapi tanjakannya mulai terasa.
Setiap 3 Juni, bumi memperingati Hari Sepeda Sedunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menempatkan sepeda sebagai perangkat transportasi nan sederhana, terjangkau, bersih, dan berkelanjutan. Namun demikian sepeda tidak hanya menjadi simbol style hidup hijau. Ia bisa menjadi metafora langkah ekonomi bekerja: dapat bergerak maju lantaran kayuhan nan konsisten, rantai nan tidak putus, rem nan berfungsi, dan jalan nan mulus.
Data BPS menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia pada akhir 2025 mencapai 172,94 juta unit, meningkat dibanding tahun sebelumnya nan berjumlah 166,47 juta. Angka ini menunjukkan kendaraan bermotor adalah perangkat kerja, perangkat dagang, perangkat mengantar anak, perangkat mencari nafkah, sekaligus bukti bahwa ekonomi tetap berjuntai pada mobilitas berbasis energi.
Sayangnya ekonomi kita lebih sering percaya pada mesin tetapi kurang memperhatikan gesekan. Kita mengejar pertumbuhan tetapi mengabaikan biaya logistik nan mahal. Kita mendorong konsumsi tetapi daya beli rumah tangga tetap mudah tertekan oleh nilai pangan, energi, dan cicilan. Kita mengagumi digitalisasi tetapi sebagian masyarakat tetap berjuang dengan literasi, sinyal, dan akses pembiayaan. Kita berbincang tentang investasi tetapi produktivitas belum secepat ambisi.
Dalam bersepeda, gesekan membikin kayuhan menjadi lebih berat. Rantai nan kering, ban nan kurang angin, rem nan seret, alias jalan nan berlubang bakal menghabiskan lebih banyak tenaga. Demikian pula dengan ekonomi, biaya seperti ongkos kirim, parkir, bahan bakar, kembang pinjaman, pungutan tak resmi, dan waktu di jalan bakal mempengaruhi tingkat pertumbuhan. Ketika nilai daya dunia bergejolak, nilai rupiah melemah, alias biaya hidup naik, seluruh masyarakat bakal ikut merasakan efeknya dalam corak biaya harian nan makin berat.
Tentu menggunakan sepeda bukan jawaban untuk semua persoalan. Tidak setara meminta semua orang bersepeda ketika jalanan belum kondusif bagi pesepeda. Tidak realistis meminta pekerja lintas kota, ibu nan mengantar anak, penyandang disabilitas, pedagang pasar, alias pekerja logistik mengganti kendaraan bermotor dengan sepeda. Hal nan perlu ditiru dari sepeda bukan semata alatnya melainkan logikanya.
Ekonomi nan baik tidak selalu nan makin sigap dan makin besar. Ekonomi nan sehat adalah ekonomi nan lebih ringan dikayuh nan diwujudkan dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, transaksi ritel nan mudah, beban operasional nan lebih ringan, serta biaya mobilitas nan murah.
Fungsi Rem dan Gir Sepeda
Bersepeda mengajarkan kegunaan rem dan gir. Dalam khayalan kita, rem sering dianggap penghambat. Padahal tanpa rem, kecepatan berubah menjadi bahaya. Dalam ekonomi, rem berbentuk stabilitas harga, prinsip kehati-hatian, disiplin fiskal, tata kelola pembayaran, dan kepercayaan terhadap rupiah. Fungsi rem bukan menghalang melainkan membikin perjalanan kondusif dan bisa berlanjut.
Di sisi lain sepeda juga mempunyai gir. Saat jalan datar, gir tinggi bisa dipakai untuk menambah kecepatan. Sementara saat menanjak, gir kudu diturunkan agar tenaga tidak habis. Hal ini dapat diimplementasikan dalam menentukan kebijakan ekonomi. Dalam kondisi normal kebijakan ekonomi dapat diarahkan untuk mendorong pertumbuhan seperti menurunkan suku kembang dan pelonggaran fiskal. Sementara saat terjadi gejolak, kebijakan nan diambil adalah menjaga stabilitas dengan meningkatkan suku kembang dan pengetatan fiskal
Ekonomi Indonesia juga memerlukan kepintaran menggunakan rem dan gir. Ada saatnya ekspansi didampingi efisiensi. Ada saatnya konsumsi perlu dijaga dengan tidak menambah utang konsumtif. Ada saatnya digitalisasi diperluas dengan tetap memberikan ruang bagi pengguna duit tunai dan golongan nan belum siap go-digital.
Tidak ada satu langkah nan bisa memaksa semua orang bergerak dengan kecepatan nan sama. Ekonomi manusiawi adalah ekonomi nan membikin lebih banyak orang bisa ikut bergerak tanpa tersisih.
Mungkin tantangan ekonomi Indonesia bukan membikin tumbuh lebih cepat, tetapi gimana mengurangi daya nan terbuang. Kita bangga ketika ekonomi melaju tetapi jarang bertanya berapa banyak tenaga nan dihabiskan untuk menembus macet, bayar ongkos distribusi, menanggung biaya transaksi, dan menghadapi ketidakpastian harga.
Hari Sepeda Sedunia menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak selalu berfaedah menambah mesin. Kadang kemajuan berfaedah mengurangi beban. Pada akhirnya kebijakan ekonomi nan baik adalah nan terasa bagi masyarakat, di mana pedagang berangkat tanpa resah pada ongkos bensin. Terasa di warung ketika pembayaran digital bisa dilakukan mudah dan duit tunai tetap dihargai. Terasa di rumah ketika family tetap bisa menabung setelah semua kebutuhan pokok terpenuhi. Terasa di jalan ketika waktu tidak lenyap setelah menghadapi kemacetan.
Ekonomi Indonesia dapat belajar dari makulat sepeda: keseimbangan lebih krusial daripada kecepatan sesaat, rantai mini menentukan pergerakan besar, dan perjalanan jauh dapat dilakukan jika kayuhan terasa ringan. Pertanyaannya, apakah kita bisa membangun ekonomi nan lebih produktif alias kita tetap nyaman membiayai ketidakefisienan nan membikin kita mengayuh lebih keras?
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·