Rahasia Baru Kasuari, Burung Paling Berbahaya di Dunia yang Punya Jambul Menyala

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Rahasia Baru Kasuari, Burung Paling Berbahaya di Dunia nan Punya Jambul Menyala Struktur pada tengkorak kasuari berpendar di bawah sinar UV, mengisyaratkan sinyal visual tersembunyi.(Scientific Reports)

MASYARAKAT lokal di sekitar rimba hujan Australia utara dan Papua Nugini sudah lama tahu untuk selalu menjaga jarak kondusif dari burung kasuari. Unggas raksasa ini dikenal sangat agresif, bisa berlari sigap menembus semak belukar nan padat, serta mempunyai senjata mematikan berupa ceker berbentuk belati di setiap kakinya. Reputasinya sebagai burung paling rawan di bumi bukanlah isapan jempol semata. Namun, di kembali fisiknya nan mengintimidasi, para intelektual baru saja menemukan sebuah rahasia tak terduga nan tersembunyi tepat di atas kepala mereka.

Kasuari mempunyai jambul tinggi mirip helm nan disebut casque. Struktur ini merupakan tonjolan tulang nan dilapisi oleh keratin, unsur keras nan sama dengan pembentuk kuku manusia. Selama dua abad, para mahir biologi terus berdebat mengenai kegunaan original dari jambul tersebut. 

Beberapa teori menduga komponen ini digunakan untuk mengintimidasi rival, melepaskan panas tubuh, alias memperkuat bunyi bersuara rendah mereka di dalam rimba nan lebat. Teori nan paling kuat adalah sebagai perangkat komunikasi visual antarsesama burung. Meski demikian, teori tersebut sempat diragukan lantaran jambul kasuari tampak sangat kusam, hanya dipenuhi nuansa warna cokelat, abu-abu, alias hitam nan tidak menarik.

Namun, manusia kerap lupa burung tidak memandang bumi dengan langkah nan sama. Kasuari mempunyai keahlian untuk mendeteksi sinar ultraviolet (UV), sebuah spektrum warna nan berada di luar jangkauan penglihatan manusia. Berangkat dari kebenaran tersebut, tim peneliti nan dipimpin oleh Todd L. Green dari New York Institute of Technology College of Osteopathic Medicine (NYITCOM) melakukan sebuah eksperimen. Mereka menduga helm nan tampak membosankan di mata manusia mungkin terlihat sangat berbeda dalam spektrum sinar nan digunakan oleh kasuari.

Untuk membuktikannya, Green dan timnya mengumpulkan 95 spesimen kepala kasuari dewasa dari museum serta sembilan burung nan tetap hidup. Ketika lampu ultraviolet diarahkan ke jambul kusam tersebut, sebuah kejadian menakjubkan terjadi. Helm kasuari itu seketika memancarkan sinar (biofluoresensi) biru-hijau elektrik nan sangat terang. Penemuan nan dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports ini menjadi catatan pertama dalam sejarah sains mengenai pengaruh pendaran pada kasuari.

Sebagai langkah verifikasi, peneliti juga menguji kerabat dekat kasuari nan tidak mempunyai jambul, seperti burung unta dan emu. Hasilnya, paruh mereka tetap gelap di bawah sinar UV, menegaskan bahwa pendaran misterius ini hanya dimiliki oleh kasuari. Uniknya, intensitas pendaran ini berbeda di setiap spesies. Kasuari gelambir-ganda (southern cassowary) dan kasuari gelambir-tunggal (northern cassowary) menyala terang di nyaris seluruh bagian jambul, sementara kasuari kerdil (dwarf cassowary) nan mempunyai helm hitam pekat nyaris tidak memancarkan sinar sama sekali.

Meskipun kegunaan ekologis pendaran ini sebagai perangkat komunikasi langsung di alam liar tetap memerlukan penelitian perilaku lebih lanjut, penemuan ini memberikan faedah praktis nan instan bagi para peneliti. Pola fluoresensi nan unik pada setiap jambul tetap memperkuat meski spesimen telah meninggal lama, sehingga memudahkan kurator museum mengidentifikasi jenis meskipun kulitnya telah memudar dikikis waktu. Di alam liar, teknologi lampu UV alias kamera jebak ber-flash UV juga dapat membantu memetakan populasi kasuari secara kondusif dari jarak jauh, tanpa kudu mendekati burung raksasa nan terkenal mudah marah ini. (Earth/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑