Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin dalam pada perdagangan Senin (18/5/2026). Tekanan terhadap mata duit Garuda apalagi membawa rupiah menyentuh level terlemah baru di kisaran Rp17.600 per dolar AS.
Sebagai informasi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin dalam pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026).
Merujuk info Refinitiv, rupiah pada pukul 10.20 WIB melemah 1,15% ke level Rp17.660/US$. Tekanan tersebut lebih dalam dibandingkan posisi pembukaan pagi ini, ketika rupiah dibuka melemah 0,97% di posisi Rp17.630US$.
Posisi rupiah saat ini juga semakin menjauh dari penutupan perdagangan terakhir pekan lalu, Rabu (13/5/2026), sebelum libur panjang. Saat itu, rupiah ditutup menguat 0,17% ke level Rp17.460/US$.
Per pukul 12.27 WIB hari ini, posisi Dolar AS ada di RpRp17.670. Posisi ini melemah 1,2% dari penutupan perdagangan hari Rabu, pekan lalu.
Di tengah pelemahan rupiah tersebut, Presiden Prabowo Subianto buka bunyi soal akibat gejolak dolar AS terhadap masyarakat Indonesia. Menurut Prabowo, rakyat di desa tidak menggunakan dolar dalam aktivitas sehari-hari.
"Saya percaya sekarang ada nan selalu sebentar-sebentar 'Indonesia bakal collapse, bakal chaos'... Orang rakyat di desa nggak pake dolar kok," kata Prabowo saat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026) kemarin.
Meski posisi rupiah telah menyentuh level terendah, Prabowo optimistis kondisi Indonesia tetap aman, baik dari sisi pangan maupun energi.
Namun, pernyataan tersebut mendapat respons dari pelaku upaya warteg. Ketua Koordinator Warung Tegal Nusantara (Kowantara) Mukroni mengatakan, meski pedagang warteg memang tidak bertransaksi langsung menggunakan dolar AS, akibat pelemahan rupiah tetap terasa hingga ke level upaya kecil.
"Secara langsung, pelaku upaya warteg memang tidak bertransaksi menggunakan dolar AS. Namun, secara tidak langsung, pelemahan rupiah ini sangat berakibat pada biaya produksi dan produktivitas kami," kata Mukroni kepada CNBC Indonesia, Senin (18/5/2026).
Menurut dia, warteg merupakan jenis upaya nan sangat sensitif terhadap kenaikan nilai bahan baku. Pelemahan rupiah, kata dia, membikin nilai beragam peralatan berbasis impor ikut terdorong naik dan akhirnya berakibat ke pasar domestik.
"Warteg adalah lini upaya nan sangat sensitif terhadap nilai bahan baku. Pelemahan rupiah memicu kenaikan harga-harga peralatan berbasis impor dan rantai pasok global, nan kemudian merembet ke pasar domestik," ujarnya.
Mukroni mencontohkan akibat paling nyata, terlihat pada nilai kedelai impor nan menjadi bahan baku utama tahu dan tempe.
"Komoditas utama warteg seperti tempe dan tahu sangat berjuntai pada nilai kedelai impor. Begitu rupiah melemah, nilai kedelai naik, dan ukuran tempe/tahu di pasar terpaksa mengecil alias harganya naik," sebut dia.
Selain bahan pangan, biaya bungkusan plastik untuk jasa balut juga ikut terdampak lantaran berangkaian dengan industri petrokimia nan sensitif terhadap kurs dolar dan nilai minyak global.
"Bahan baku plastik bungkusan untuk jasa take-away (bungkus) berbasis petrokimia nan harganya sangat dipengaruhi oleh kurs dan nilai minyak global. Ini meningkatkan overhead cost kami," jelas Mukroni.
Ia juga menyoroti akibat pelemahan rupiah terhadap daya beli pengguna warteg nan kebanyakan berasal dari golongan masyarakat menengah ke bawah dan pekerja informal.
"Ketika nilai barang-barang secara umum naik akibat inflasi, termasuk akibat pelemahan rupiah, daya beli mereka turun. Akibatnya, omset harian warteg ikut tertekan," ujarnya.
Mukroni menilai, ada perbedaan antara teori dan kondisi nyata di lapangan mengenai dugaan masyarakat desa tidak terdampak dolar AS.
"Mengenai pernyataan bahwa masyarakat di akar rumput alias di desa tidak terdampak signifikan, lantaran tidak menggunakan dolar, kami memandang ada celah realitas alias gap antara teori tersebut dengan kondisi riil di lapangan," kata dia.
Menurutnya, meskipun transaksi sehari-hari masyarakat menggunakan rupiah, pengaruh dolar tetap masuk melalui nilai peralatan dan biaya produksi.
"Secara psikologis alias transaksi harian, betul bahwa pedagang warteg alias petani di desa menggunakan rupiah. Namun, di era ekonomi nan sudah terintegrasi seperti sekarang, dolar mengalir ke desa lewat nilai peralatan nan mereka konsumsi," ujar Mukroni.
Ia pun mencontohkan, petani desa tetap terkena akibat lantaran pupuk dan pakan ternak mempunyai komponen impor nan besar.
"Petani di desa memerlukan pupuk dan pakan ternak nan komponen bahan bakunya banyak nan impor. Jika biaya produksi pertanian naik lantaran rupiah melemah, nilai jual hasil panen ke kota, termasuk nan dibeli oleh warteg, juga terpaksa naik," katanya.
Mukroni menambahkan, warteg pada dasarnya menjadi penghubung ekonomi desa dan kota sehingga gejolak kurs tetap berakibat terhadap rantai pasok upaya mereka.
"Warteg adalah jembatan ekonomi desa dan kota. Bahan baku kami seperti beras, sayur, cabe berasal dari desa, namun instrumen pendukungnya dari transportasi, BBM, suku cadang kendaraan logistik sangat dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi makro dan kurs global," sebut dia.
"Jadi, dugaan bahwa akar rumput kebal terhadap dolar itu kurang tepat. Kita semua berada dalam satu ekosistem ekonomi nan sama," sambung Mukroni.
Di lapangan, sekitar 50 ribu pelaku upaya warteg disebut tengah menghadapi kondisi nan menantang. Mukroni menyebut situasi tersebut sebagai "Simalakama Warteg".
"Jika kami meningkatkan nilai porsi makanan per piring, kami cemas bakal ditinggal oleh pengguna setia kami nan daya belinya juga sedang sulit. Namun, jika nilai tidak dinaikkan, margin untung kami sudah sangat tipis, apalagi beberapa rekan kudu mensubsidi biaya operasional dari tabungan mereka," katanya.
Untuk bertahan, para pedagang warteg mulai melakukan beragam strategi efisiensi, mulai dari mengurangi ukuran porsi hingga menekan biaya operasional.
"Mengurangi sedikit ukuran potongan lauk alias porsi nasi agar nilai jual per piring tetap stabil dan ramah di kantong masyarakat," ungkap Mukroni.
Selain itu, para pedagang juga mulai menerapkan pola pembelian berbareng untuk mendapatkan nilai bahan baku lebih murah.
"Lebih selektif dalam berbelanja ke pasar induk dan menekan biaya-biaya operasional dapur lainnya. Dengan langkah joint buying, alias pembelian berbareng bisa lewat koperasi dan lainnya dengan pembelian banyak, tentunya nilai lebih murah," katanya.
Ke depan, Kowantara berambisi pemerintah menjaga stabilitas nilai pangan dan memberi support lebih besar bagi UMKM kuliner.
"Kami Kowantara berambisi pemerintah bisa menjaga stabilitas nilai pangan domestik dan memberikan insentif alias kemudahan izin bagi sektor UMKM kuliner di tengah tekanan ekonomi makro ini," ujar Mukroni.
"Bagaimanapun, warteg adalah jaring pengaman sosial pangan bagi masyarakat urban, dan pekerja di kota-kota besar," pungkasnya.
(dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·