Pulihkan Akses Nelayan, Pidie Jaya Percepat Normalisasi Muara Krueng Meureudu

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Unit Hidrologi dan Kualitas Air BWS Sumatera I berbareng Balai Teknik Sungai dan Relawan Kementerian PU melakukan pengukuran tampang Sungai Krueng Meureudu. Foto: Dok. Satgas PRR

Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, mempercepat normalisasi muara Sungai Krueng Meureudu untuk membuka kembali akses melaut bagi nelayan. Pengerukan diprioritaskan pada sisi kiri hilir muara agar kapal dapat melintas lebih sigap tanpa kudu menunggu seluruh pekerjaan rampung.

Pendangkalan akibat timbunan lumpur pascabencana hidrometeorologi November 2025 telah menyulitkan kapal nelayan melewati muara. Kondisi tersebut tidak hanya menghalang mobilitas, tetapi juga memengaruhi mata pencaharian masyarakat nan menggantungkan hidup pada sektor perikanan.

Bupati Pidie Jaya Sibral Malasyi mengatakan pengerukan sisi kiri menjadi langkah taktis agar akses nelayan dapat segera dipulihkan, sementara pekerjaan di bagian muara lainnya terus berjalan.

“Untuk penanganan ini, saya sudah mengarahkan agar pengerukan dilakukan di sebelah kiri terlebih dahulu. Dengan begitu, masyarakat nan mau melaut bisa lebih sigap memanfaatkan jalur tersebut. Kalau menunggu seluruhnya selesai, masyarakat tetap tidak bisa melaut,” kata Sibral saat meninjau normalisasi muara Krueng Meureudu, Sabtu (15/8/2026).

Normalisasi mencakup pengerukan muara sepanjang 500 meter hingga kedalaman sekitar empat meter. Jalur sisi kiri ditargetkan mulai dapat dilalui kapal nelayan pada Agustus, sedangkan keseluruhan pekerjaan diharapkan selesai pada November 2026.

“Kami bakal mengerahkan ekskavator amfibi untuk mempercepat penanganan. Mudah-mudahan pekerjaan sepanjang 500 meter di muara ini dapat diselesaikan lebih sigap dan memberikan hasil sesuai angan masyarakat,” ujar Sibral.

Staf Humas Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Jamaluddin menjelaskan pekerjaan dilaksanakan secara berjenjang dengan memprioritaskan sisi kiri muara. Progres normalisasi saat ini berada di kisaran 35–40 persen, sedangkan pengerjaan jalur prioritas tersebut ditargetkan selesai dalam waktu sekitar satu separuh bulan.

Dukungan anggaran tahap awal untuk pekerjaan tersebut berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum sebesar Rp37 miliar. Alokasi tambahan sekitar Rp50 miliar direncanakan tersedia pada akhir Agustus guna melanjutkan dan menuntaskan normalisasi muara.

Pembukaan kembali jalur muara diharapkan menghidupkan aktivitas perikanan secara bertahap. Dengan akses nan lebih aman, nelayan dapat kembali melaut, pengedaran hasil tangkapan kembali bergerak, dan pendapatan family nan sempat terdampak dapat berangsur pulih.

Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera mendukung langkah Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya dan mendorong penyelesaian pekerjaan sebelum puncak musim hujan. “Puncak musim hujan berada pada Oktober, November, dan Desember. Kami berambisi sebelum memasuki periode tersebut seluruh penanganan dapat diselesaikan,” kata Perwakilan Tim Satgas PRR Aceh dari Kementerian Dalam Negeri, Imran.

Satgas PRR juga membuka ruang koordinasi untuk membantu pemerintah wilayah menyelesaikan halangan teknis maupun administratif selama penyelenggaraan pekerjaan. “Jika terdapat hambatan di lapangan, segera sampaikan kepada Satgas PRR agar kita dapat bersama-sama mengurai akar masalah dan menyiapkan solusi nan memadai,” ujar Imran.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan