Gorontalo, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto melakukan peninjauan Kampung Nelayan Merah Putih (KMNP) Leato Selatan, Kota Gotontalo, Sabtu (9/5/2026). Hal ini dilakukan usai menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Filipina.
Rencananya kunjungan ini bakal dilakukan setelah Presiden berbareng rombongan terbatas menjalani agenda di Pulau Miangas, Sulawesi Utara.
Dari pantauan CNBC Indonesia sejumlah pengamanan dan persiapan penyambutan sudah dilakukan pemerintah daerah. Tak hanya memandang akomodasi kampung nelayan, presiden juga bakal melakukan perbincangan dengan para nelayan.
Foto: Kampung Nelayan Merah Putih Gorontalo. (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
Diketahui, saat ini ada 65 letak KNMP Tahap I 2025 nan sudah rampung 100%. Itu meliputi pembangunan area nelayan, akomodasi perikanan, prasarana lingkungan, dan sarana rantai dingin.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 61 letak Tahap I telah dilakukan pembayaran pekerjaan konstruksi, sedangkan 4 letak lainnya telah menyelesaikan BAST dan direncanakan pembayaran pada awal Mei 2026.
KNMP Tahap II Tahun 2025 pada 35 letak hingga saat ini telah mencapai progres rata-rata 40%. Satgas KNMP telah meminta komitmen kontraktor untuk menyelesaikan pekerjaan paling lambat 31 Mei 2026 dengan menambah jumlah pekerja di lapangan serta mempercepat pengadaan sarana rantai dingin.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk memperkuat sektor kelautan melalui pembangunan desa-desa nelayan secara terintegrasi di seluruh Indonesia. Pada tahun 2026, pemerintah menargetkan pembangunan 1.000 desa nelayan, sebagai bagian dari sasaran besar 5.000 desa nelayan hingga 2029.
Berikut akomodasi nan ada di Kampung Nelayan Leato Selatan, Kota Gorontalo :
Ini merupakan KNMP Tahap I Tahun 2025 nan diselesaikan pada 31 Desember 2025 di atas lahan seluas 3.895 meter persegi. Fasilitas ini dibangun dengan ongkos pembangunan Rp 15,8 miliar.
Pembangunan area ini dirancang sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat nelayan nan terintegrasi dengan akomodasi produksi, penanganan hasil perikanan, dan jasa pendukung area pesisir.
Kampung nelayan ini mencakup 835 Kepala Keluarga (KK), dengan 612 orang berprofesi sebagai nelayan aktif dan didukung 214 unit kapal perikanan.
Adapun area ini mempunyai potensi perikanan tangkap nan cukup besar dengan komoditas utama berupa ikan selar, cakalang, dan tuna nan menjadi sumber utama pendapatan masyarakat sekaligus komoditas unggulan perikanan Kota Gorontalo.
Terlihat ada pabrik es balok hingga lemari pendingin nan sudah siap beroperasi. Kepala Pelabuhan Perikanan Nusantara Kwandang Yanwar Amri Yasman, menjelaskan bahwa pabrik es ini memproduksi es balok hingga 1 ton dalam satu siklus. Dalam sehari dilakukan 2 kali siklus, sehingga ada 2 ton es balok nan diproduksi.
Sedangkan cold storage mempunyai akomodasi 1 ton ikan hasil tangkapan di lemari pembeku, dan 10 ton untuk lemari penyimpanan.
Yanwar juga menjelaskan bahwa dengan adanya kampung nelayan ini tangkapan tidak langsung kudu dijual ke pasar. Sebelumnya ikan tankapan nelayan kudu lenyap terjual di pasar lantaran tidak ada akomodasi penyimpanan.
Selain itu dengan adanya akomodasi ini para nelayan juga bisa menyimpan hasil simpanan di saat nilai ikan tetap rendah.
"Apalagi jika kondisi misalnya puncak musim penangkapan, produksi melimpah melampaui kapabilitas daya serap pasar sehingga biasanya nilai menjadi turun. Nah, ketika sudah ada akomodasi cold storage di dalam letak KNMP, tentu pada saat nilai turun, produksi melimpah, ikan bisa disimpan dulu di dalam cold storage nan bisa memperkuat lebih dari 1 tahun tentunya. Seperti itu. Kalau produk kaku itu lebih dari 1 tahun bisa," jelasnya.
Yanwar juga menjelaskan akomodasi ini dikelola oleh Koperasi Desa Merah Putih setempat. Adapun nilai es balok untuk para nelayan dipatok dengan nilai Rp 6.500 per balok, dan tarif Rp 2.000 untuk penyimpanan selama 2 minggu.
Foto: Kampung Nelayan Merah Putih Gorontalo. (CNBC Indonesia/Emir Yanwardhana)
(haa/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
9 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·