Profil Ahmad Vahidi: Jenderal Garis Keras di Balik Strategi Perang Iran

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
 Jenderal Garis Keras di Balik Strategi Perang Iran Ahmad Vahidi.(Dok India Today)

DI tengah kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat, seorang jenderal garis keras Iran nan mempunyai rekam jejak panjang dalam operasi militer domestik maupun luar negeri diyakini mengamankan posisi strategis di pusat kekuasaan Teheran. Brigadir Jenderal Ahmad Vahidi sekarang muncul sebagai pemain kunci dalam merumuskan sikap keras Iran terhadap Washington.

Vahidi, nan sekarang memimpin Garda Revolusi Iran (IRGC), disebut-sebut sebagai bagian dari lingkaran mini nan mempunyai akses langsung ke Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Mojtaba sendiri dilaporkan tetap dalam persembunyian setelah terluka dalam serangan Israel pada 28 Februari 2026, nan menewaskan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei.

Konsolidasi Kekuatan di Tengah Krisis

Ketidakpastian mengenai orang nan memegang kendali penuh di Iran sejak perang meletus memicu perebutan pengaruh di tingkat atas teokrasi. Vahidi, nan sempat tidak terlihat publik selama berbulan-bulan, muncul kembali pada Kamis (21/5) saat berjumpa dengan Menteri Dalam Negeri Pakistan di Teheran untuk membahas pesan negosiasi dari AS.

Lembaga ahli filsafat Institute for the Study of War nan berbasis di Washington menilai bahwa Vahidi dan lingkaran dalamnya kemungkinan besar mengonsolidasikan kendali tidak hanya atas respons militer, tetapi juga kebijakan negosiasi Iran.

Strategi Perang Iran:

  • Mempertahankan blokade di Selat Hormuz untuk memicu krisis daya global.
  • Menyerang akomodasi minyak dan prasarana di negara-negara Arab Teluk.
  • Menolak tuntutan AS untuk menyerahkan persediaan uranium nan diperkaya tinggi.

Rekam Jejak Operasi Internasional

Lahir dengan nama Ahmad Shahcheraghi di Shiraz pada 1958, pekerjaan Vahidi melesat setelah Revolusi 1979. Ia merupakan veteran perang delapan tahun melawan Irak dan mantan komandan pertama Pasukan Quds, unit elite IRGC untuk operasi luar negeri.

Dunia internasional mencatat namanya dalam beberapa kejadian besar:

  • Pengeboman AMIA 1994: Dituduh terlibat dalam pengeboman pusat organisasi Yahudi di Argentina nan menewaskan 85 orang.
  • Menara Khobar 1996: Diduga mengorganisasikan serangan terhadap pangkalan militer AS di Arab Saudi.
  • Skandal Iran-Contra: Terlibat dalam transaksi senjata rahasia dengan pemerintahan Reagan pada era 1980-an.
  • Tindakan Keras 2022: Sebagai Menteri Dalam Negeri, dia memimpin tindakan keras terhadap demonstran dalam tindakan protes Mahsa Amini.

Tantangan bagi Diplomasi AS

Gaya konfrontatif Vahidi diprediksi bakal mempersulit upaya pemerintahan Donald Trump untuk mencapai kesepakatan. Kenneth Katzman, master senior dari The Soufan Group, menyebut Vahidi mempunyai pola pikir revolusi tanpa akhir dan percaya bahwa AS kudu ditantang di setiap kesempatan.

Kegagalan pembicaraan di Pakistan pada April lampau antara delegasi Iran nan dipimpin Mohammad Bagher Qalibaf dan delegasi AS di bawah Wakil Presiden JD Vance semakin memperkuat posisi golongan garis keras. Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi justru menuai kritik tajam di dalam negeri lantaran dianggap terlalu banyak memberi konsesi.

Analis Kamran Bokhari mencatat bahwa tokoh-tokoh seperti Vahidi tidak hanya mengelola perang, tetapi secara aktif membentuk kembali suksesi kepemimpinan dan mengonsolidasikan otoritas di sekitar pemimpin tertinggi nan melemah melalui sistem tata kelola krisis.

Dengan kendali atas arsenal rudal balistik dan armada kapal sigap di Teluk Persia, Ahmad Vahidi sekarang menjadi sosok nan menentukan apakah ketegangan di Timur Tengah bakal mereda alias justru menuju eskalasi nan lebih destruktif. (The Independent/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia