Presiden Mesir Ditembak Mati usai Umumkan Damai dengan Israel

Sedang Trending 46 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Perdamaian antara sejumlah negara Arab dengan Israel kerap memicu perdebatan tajam dan perpecahan di dalam negeri. Hal ini terutama terjadi di negara nan warganya dikenal vokal menentang zionisme.

Salah satu peristiwa paling tragis terjadi di Mesir, ketika Presiden Anwar Sadat (1970-1981) tewas dibunuh oleh tentaranya sendiri, tak lama setelah menandatangani perjanjian tenteram dengan Israel.

Peristiwa itu terjadi pada 6 Oktober 1981 saat Sadat menghadiri parade militer besar-besaran di Kairo. Parade tersebut digelar untuk memperingati keberhasilan pasukan Mesir menyeberangi Terusan Suez dan menembus pertahanan Israel dalam Perang Yom Kippur tahun 1973.

Seperti halnya pemimpin negara lain, Sadat duduk di tribun utama dengan pengamanan super ketat. Tak ada nan mengira bakal terjadi sesuatu, karena parade militer biasanya menggunakan senjata tanpa peluru tajam. Ini prosedur standar di banyak negara.

Namun, tanpa disadari, pasukan militer Mesir telah disusupi golongan nan mau menghabisi nyawa sang presiden. Saat iring-iringan kendaraan militer melintas di depan tribun, sebuah truk berhenti. Salah satu perwira di atasnya turun, lampau memberi hormat kepada Sadat.

Mengutip New York Times, Sadat lantas membalas hormat itu dengan berdiri. Namun, hormat tersebut rupanya hanyalah siasat. Dalam sekejap, tiga granat dilemparkan ke arah tribun, diikuti tembakan senapan otomatis dari pasukan di truk tersebut. Kekacauan pun pecah. Sadat tumbang di tempat berbareng sejumlah pejabat dan penonton lain.

Presiden Sadat segera dilarikan ke rumah sakit dan sempat menjalani operasi, tetapi nyawanya tak tertolong. Dia dinyatakan meninggal bumi pada hari nan sama, 6 Oktober 1981.

Imbas Damai dengan Israel

Otak di kembali serangan itu adalah Letnan Khalid Islambouli, personil golongan radikal Jihad Islam Mesir. Kelompok ini muncul sebagai reaksi keras terhadap kebijakan Sadat nan dianggap berkhianat terhadap perjuangan Palestina.

Sejak berdirinya negara Israel pada 1948, Mesir menjadi salah satu negara Arab nan paling vokal menentang zionisme. Negeri itu berulang kali terlibat perang melawan Israel, termasuk dalam Perang Yom Kippur pada 6 Oktober 1973. Kala itu, pasukan Mesir dan Suriah melancarkan serangan mendadak ke wilayah Israel bertepatan dengan Hari Besar Yahudi. Serangan ini juga tak terdeteksi intelijen AS, sehingga begitu menggemparkan dunia.

Menurut kitab Anwar Sadat: visionary who dared (2013), sikap Anwar Sadat berubah drastis beberapa tahun kemudian. Pada 26 Maret 1979, dia menandatangani Perjanjian Damai Camp David dengan Perdana Menteri Israel Menachem Begin, disaksikan langsung oleh Presiden AS Jimmy Carter. Sadat menilai Israel tak bisa dikalahkan secara militer, dan perdamaian merupakan jalan terbaik bagi stabilitas kawasan.

Keputusan itu menimbulkan gelombang penolakan besar di dalam negeri. Banyak kalangan, termasuk golongan militer dan ustadz garis keras, menganggap Sadat mengingkari perjuangan Arab. Dari situ lahirlah golongan Jihad Islam Mesir, nan kemudian merencanakan pembunuhan terhadap sang presiden.

Meski aktivitas tersebut sempat ditekan, jejak-jejak golongan tak menghilang begitu saja. Salah satunya, Khalid Islambouli nan juga seorang tentara Mesir dan melancarkan aksinya dalam parade militer 1981. Islambouli sendiri sukses ditangkap di tempat kejadian. Dia kemudian divonis meninggal dan tewas di tangan pengeksekusi pada 15 April 1982.

(hsy/hsy)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News